Ambisi dalam pencarian jati diri terkadang menjadi anala yang membara lantas mengubur diri sendiri dalam lubang kebohongan. Menghabiskan sisa masa untuk berpura-pura tak pernah menjadi resolusi demi mengundang celotehan iri. Bukan untung bukan rugi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak sedikit insan di Yogyakarta menaiki kendaraan bukan untuk menuju tempat kerja maupun surga atau neraka yang mereka sebut sekolah. Siapa pula yang sudi menyia-nyiakan kesempatan beristirahat di akhir pekan begini? Atau lebih tepatnya, pemuda ini memilih menikmati keindahan sang Yogyakarta yang biasanya hanya dilihat sekilas mata.
Tanpa teman, tanpa tujuan, motor Banda hanya dibawa berkeliling kota dan sesekali berhenti guna menatap apa yang di depan mata sambil merenung. Kendati di depan mata hanya ada tembok setinggi tiga meter dengan coretan-coretan kotor penuh dosa—tak perlu dijelaskan lagi coretan apa saja itu.
Terkadang pemuda ini ingin sekali mengutuk dirinya sendiri mengapa selalu lebih mengedepankan rasa penasarannya ketimbang laranya. Singkat saja, semenjak rambut palsu Naira terkurung di kamar Banda, lelaki itu tidak lagi membesar-besarkan masalah yang ada di antaranya dan keluarganya. Seolah semua itu terjadi begitu saja, Rasa kesal maupun rasa sesal semakin berkurang. Kendati hanya butuh waktu untuk membuatnya kembali.
BPKB yang hari lalu diamanahkan Fena untuk dijemput dari rumah tidak benar-benar Banda lakukan. Perhentian pertamanya di danau memutar kilas balik memori lamanya, dan itu tidaklah indah. Percayalah, ponsel Banda kini benar-benar dimatikan suaranya supaya tak seorang pun menghancurkan waktu sendirinya di tengah keramaian—yah, terkadang dalam keramaian itulah kau bisa menemukan kesendirian yang sebenarnya. Tidak peduli sebucin apa Fena pada kekasihnya, tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, bukan berarti harus diserahkan pada adiknya begitu saja.
Dan hal kedua yang membuatnya malas melaksanakan amanah itu ialah, Fena yang sebenarnya tidak sedang mengantar gadisnya konsultasi bersama dosen pembimbing, melainkan sebat di pinggir jalan yang tidak jauh dari rumah itu. Terkadang Banda merasa kasihan pada kekasih kakak gembelnya itu yang sering dijadikan alasan kala Fena malas melakukan sesuatu dan melemparkan tanggung jawabnya pada Banda. Geram dirasakan oleh Banda saat melihat Fena di sana sepulangnya dari danau hari itu.
Dompet Banda tidak begitu kering juga tidak begitu basah. Tahu sendiri kondisi keuangan anak kos-kosan di akhir bulan. Lebih tepatnya anak yang memaksakan tinggal di kos-kosan. Namun setidaknya itu cukup untuk makan gudeg langganan yang terenak dan ter-dompet anak SMA-able di salah satu sudut Kota Istimewa ini. Seruan protes dari para cacing di perut Banda sudah mulai terdengar, itu artinya tidak perlu membuang waktu lagi untuk memacu laju motornya sampai ke sana.
***
“Naira, lo betulan pergi keluar rumah dengan penampilan kayak gini?” Sara menatap sosok Naira tanpa bedak itu dari kaki sampai kepalanya. Gadis ini tidak membuat keributan di rumahnya dengan membangkang perkataan bapaknya lagi, ‘kan? pikir Sara.
Wanodya dengan dua sisi itu kini mengenakan hoodie serta celana joger berwarna senada. Surai pendeknya dibiarkan tergerai, memancarkan warna cokelat mengkilap kala terpapar sinar mentari. Tanpa gincu, tanpa bedak, tanpa korset, dan busa menyebalkan yang diselipkan di dada. Ah, sungguh, tak bisa mendeskripsikan betapa leganya Naira menghirup udara khas Yogyakarta tanpa atribut sialan itu.