7

9 1 0
                                        


Esoknya, bertempat di balkon kamar Ben dengan lantai yang dihiasi dua kotak sushi dan dua kopi Esbux favorit Olive, sepasang sahabat itu duduk berdampingan.

Menepati janji, Olive kini selesai memberitahukan kilas balik perkenalannya dengan Felix kemarin kepada Ben. Tentu saja ditemani kedua tangannya yang secara berkala mengambil sushi dengan sumpit atau menyeruput kopi.

"Hmm."

Bersiap untuk memainkan ukulele yang telah bertengger lama di pangkuannya selama Olive bercerita, Ben mengangguk paham.

Manik cokelat Olive menyorot wajah sahabatnya itu tidak percaya.


"Puas?"

"Gitu doang ternyata."

"Ya kan emang gitu doang??"


Senyum jahil Ben terukir. Lantas mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Olive, yang dimana percobaan tersebut gagal karena langsung ditepis pelan oleh si empunya nama. Olive berdecak kesal, "Hobi bener ngacakin rambut orang, ah."

"Hobinya juga cuma sama lo."
"Heran gue," gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya melemparkan sepotong salmon ke dalam mulut. "Hobi buruk yang harus dihilangkan."

Berdeham sekilas, "Poinnya, gue gak nyangka aja lo udah mau bergaul sama anak-anak sekolah ini," Ben berhenti sejenak, "Apalagi Felix."

Alis sebelah Olive terangkat begitu saja. Beralih menatap Ben curiga, Olive terus mengikuti pergerakan lelaki itu ketika Ben beranjak dari tempatnya, "Jadi sebenernya lo kenal?"

Ben mengambil tempat ternyaman di pagar balkon kamarnya yang kebetulan bisa diduduki,
"Enggak. Kebetulan semalem band gue ngobrolin tentang pergantian vokalis karena Kak June udah mau lulus, terus nama Felix diajuin jadi penggantinya oleh si Kak Chan."

"Chan.. Kak Bangchan? Anak kelas sebelah?"
"Yeh. Dia yang jadi gitaris dan kebetulan tetanggaan deket sama Felix. Kabar burung tuh anak suaranya bagus karena sering volunteer nyanyi bareng di gereja."

"Oh," Olive menyahut singkat. "Keren. Oke juga."

Kemudian percakapan selesai. Olive kembali sibuk menghabiskan makanan, dan Ben mulai memetik senar ukulele-nya lagi.

Dua puluh detik. Lalu semenit berlalu. Dua menit. Tiga, empat, enam.

Memainkan ukulelenya dengan sepenuh hati.
Menghasilkan nada yang rancu dan terkesan amatir. Namun Olive tidak sekalipun meluncurkan kalimat protes atau sarkasme selama sahabatnya itu bermain.

Sang gadis memejamkan mata, ikut bersandar di dinding balkon seiring Ben mulai larut dalam permainannya sendiri. Membawakan sepotong lagu yang tidak pernah Olive dengar, tetapi mampu dirasakan ketulusan yang mendalam.

Tidak sempurna, namun indah dengan cara yang dapat Olive simpulkan- ini adalah Benjamin.

"... Makin lama progres lo sama gitar mini makin bagus, Ben."

Angin sepoi bertiup sesaat, kala Olive menoleh sedikit untuk melemparkan senyum tipis kearah Ben- yang duduk tak jauh dari tempatnya bersandar.

"Ukulele," sahut Ben ringan. Tidak menunjukkan tanda-tanda kebosanan akan mengamati semburat matahari yang perlahan terbenam, mewarnai langit dengan sapuan oranye juga merah yang indah. "Seandainya gue juga bisa nyanyi."

"Talenta lo kan segudang, bro. Pasti bisa," ujar Olive. "Lo mau buat lagu juga pasti bakal laku kalau lo pasarin."

"Maksudnya bakal populer karena bikin kericuhan massal saking jeleknya buat didenger?"
Olive terbahak, "Lo yang bilang itu, Benji."

Seulas senyum teduh terbit di wajah tampan Ben. Merekam pemandangan Olive yang masih berlepotan nasi dan saus di sekitar mulut tertawa lepas dalam memorinya baik-baik, 

"Itu karena gue anaknya sadar diri."









--

Introvert ternyata udah 4 tahunan? 😭🏃‍♀️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Introvert ternyata udah 4 tahunan? 😭🏃‍♀️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

introvert  |  olivia hye, benTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang