Part 2
"Apa!!!" Teriakkan semua orang yang berkumpul di Super Rock Villa bergema di ruang tersebut. Wajah masing-masing dari mereka menampilkan raut suram, kesal, sedih, khawatir, dan menakutkan.
"Jadi maksudmu, Dewa kematian tidak sengaja melakukan kesalahan di Dunia lain, hingga dia membuat kesepakan dengan pemimpin dunia lain tersebut, dan sebagai konsekuensinya dia membawa Cale untuk ikut membantu masalah di sana?" Cage mengangguk atas pertanyaan yang diserukan oleh Eruhaben.
"Kurang lebih seperti itu Eruhaben-nim. Dewa Bajingan itu melakukan kesalahan sendiri tetapi Tuan Muda Cale lah yang harus menanggungnya. Dia mengucapkan minta maaf kepada kalian, ia berjanji akan mengembalikan Tuan Muda Cale setelah urusan disana selesai."
"Dasar Bajingan Sial."
"Kakek Goldie bisakah kita membunuh Bajingan Dewa Kematian itu? Dia membawa Manusia Kita!" Aura Hitam terpancar di sekitar Raon, membuat Eruhaben harus ekstra menenangkan anak itu, bukan hanya anak itu tetapi juga seluruh orang yang ada diruangan.
"Mari kita bunuh Dewa Kematian itu." Choi Han dengan ekspresi gelap dan suram memengang pedang yang tersarung apik di pinggangnya, bersiap menyerang apa saja yang akan di hadapinya nanti, tak jauh beda dengan yang dilakukan oleh Ron yaitu mengusap belati yang entah sejak kapan berada di tangannya, jika Cale melihat mereka melakukan itu, mungkin Cale akan tersentak dan bergidik ngeri.
"Tenang lah kalian! Aku juga marah, tapi mari kita pikirkan baik-baik. Nona Cage." Eruhaben menatap Cage yang juga menampilkan wajah suramnya.
"Eruhaben-nim, mari kita kutuk Dewa Kematian Sialan itu?!" Eruhaben kembali menghelai nafas lelah, memilih mengabaikan ucapan Cage.
"Nona Cage, bisa kau tanyakan pada Dewa Kematian bagaimana kabar Cale? Dan bisakah kita berbicara dengan Cale?" serentak semuanya mengangkat kepala mereka mendengar ucapan Eruhaben.
"Benar apa yang dikatakan Eruhaben-nim, apakah saya bisa berbicara dengan Dongsaeng saya Nona Cage?" Cage menunduk lesu dan menggeleng pelan.
"Maaf, Dewa Bajingan itu mengatakan bahwa ia bahkan tidak dapat berkomunikasi dengan Tuan Muda Cale. Tapi ia dapat melihat keadaan Tuan Muda Cale. Dewa itu juga berkata bahwa ia akan memberikan sesuatu untuk kita agar dapat melihat Tuan Muda Cale."
Tak lama setelah ucapan Cage, sebuah cahaya biru muncul di tengah aula, tak jauh dari tempat mereka berkumpul, membuat mereka semua waspada bahkan Raon, Rosalyn, dan Eruhaben sudah menyiapkan sihir mereka jikalau sesuatu tiba-tiba terjadi.
Tetapi kewaspadaan mereka itu sia-sia saat cahaya tersebut perlahan menghilang dan menampilkan sebuah layar besar yang mengisi aula, membuat mereka semua dapat melihatnya. Tiba-tiba di dalam layar hitam tersebut muncul sebuah tulisan, yang segera dibaca oleh Eruhaben.
~~~~~**~~~~~
'Ini hadiahku untuk kalian, kalian dapat melihat Cale dari layar ini. Layar Ini tidak akan selalu menyala, layar ini akan sesekali mati untuk mengisi daya-nya. Dan kalian tenang saja, aku akan mengembalikan Cale setelah urusan di sana selesai, dan yang perlu kalian tau waktu disana berjalan lebih cepat, berkali-kali lipat lebih cepat dari dari dunia di sini, jadi kalian tenang saja. Dan selamat menyaksikan.'
~~~~~**~~~~~
"Dewa Kematian Bajingan." gumam Cage yang tentunya dapat didengar oleh seluruh orang yang ada di ruangan karena ruangan yang hening.
Tak lama tulisan di layar itu berganti, menampilkan seorang pemuda bersurai merah tengah terduduk di atas tikar dan berbicara dengan seorang pria tua.
"Manusia!! Itu manusia!!" Raon terbang mendekat pada layar, melihat pria bersurai mera tersebut tengah melihat sekeliling. "Nyan, nyan." On dan Hon ikut berjalan mendekat layar untuk melihat wali mereka.
"Dasar Dewa bajingan Kematian sialan!" suara dalam layar tersebut terdengar sangat kesal, membuat suasana di dalam aula itu kembali menjadi suram.
"Seperti yang diharapkan dari Dongsaengku." ujar Alberu dan mengambil sofa dengan bantuan Lock untuk lebih dekat pada layar. Eruhaben yang melihat itu membuat beberapa sofa melayang untuk ditaruh lebih dekat pada layar. Ia mengambil duduk di salah satu sofa paling depan dan bergumam, "Dasar Bajingan sial."
"Hahh... sekarang apa yang harus aku lakukan?" Raon, On dan Hong menunduk lesu melihat wali mereka yang kebingungan dan mereka tidak dapat membantu apa-apa. Anak rata-rata berusia 7 tahun itu beranjak mendekat ke naga kuno dan duduk di samping naga tersebut.
"Kakek Goldie, kasihan manusia, dia pasti kebingungan."
"Benar Nyan, apa yang dikatakan oleh bungsu kami." On hanya dapat mengangguk setuju mendengar penuturan kedua yang termuda.
"Tenanglah, aku mendengar suara kalian teman-teman."
"Ha? Apa yang dikatakan manusia Kakek Goldie? Apakah manusia mendengar apa yang kita ucapkan?" Raon tampak bersemangat menatap Eruhaben yang juga tengah menatap layar di depannya dengan dahi berkerut binggung.
"Aku pun tidak tahu, mungkin kita di Korea? Kalian ingat Bumi 2?"
"Sepertinya tidak? Tapi, apa itu Korea dan Bumi dua?"
Alberu dan Choi Han yang mengerti apa yang dimaksud Bumi 2 oleh Cale saling pandang sejenak.
"Itu.Tempat.Kami.Ilusi.Tersegel." Choi Han dengan akting buruknya memang tidak bisa dipisahkan membuat Alberu menghelai nafas panjang dan menggeleng. "Bumi 2 adalah tempat Cale melewati Ilusi dari Dewa Tersegel, ingat orang-orang di dalam Cintamani? Dari sanalah mereka." Eruhaben hanya mengangguk singkat menanggapi.
"Tapi, dengan siapa Tuan Muda berbicara?" tanya Cage yang mengalihkan atensi semua orang termasuk Ron dan Beacrox yang serius menonton. "Mungkin kekuatannya?" ujar Rosalyn menatap mereka satu-persatu.
"Tapi kekuatan kuno tidak berbicara." Alberu yang pernah memiliki kekuatan Kuno Bintang Penyempuh menyangkah ucapan Rosalyn. "Tuan Muda dapat berbicara dengan Angin, Tuan Muda memiliki kekuatan yang luar biasa." sekarang semua atensi teralih pada Ron yang menampilkan senyum ramahnya.
"Manusia memang luar biasa, tetapi dia sangat lemah! Maka saya Raon Miru yang hebat dan perkasa harus melindunginya!" semua orang yang ada di ruangan mengangguk setuju mengingat betapa lemahnya fisik Cale yang sering pingsan dan mutah darah.
"Yahh, lebih baik kita makan. Tapi dimana kita bisa makan? Aku tidak memiliki uang di dunia ini, kalian tahu?"
Terlihat dilayar Cale berjalan mencari bangku di tepi sungai yang sepi, diam-diam dia merogoh saku bajunya untuk mengambil kantung spasial. "Baiklah kita makan dulu, kita tidak akan bisa bekerja saat kelaparan bukan?!"
Mereka memandang sendu Cale yang memakan pai apple pemberian Raon itu.
"Saya akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, waktu makan siang hampir dekat."
Beacrox berdiri dari duduknya dan tanpa kata pergi dari sana menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang. "Saya juga akan pergi untuk mengabari kuar Duke Hetnituse." Ron dengan senyum ramahnya keluar dari Villa Super Rock menuju ke kediaman Hetnituse Estet.
Cage berdiri dari duduknya dan memandang beberapa orang di ruangan tersebut, "Saya akan pulang untuk mengabari Taylor soal ini dan akan kembali lagi nanti, selamat tinggal." Cage bertukar sapa sejenak dengan Rosalyn sebelum pergi dari Villa Super Rock.
"Hahhh, sepertinya Aku juga harus mengabari beberapa orang soal masalah ini. Saya akan kembali ke kediaman sejenak." Alberu segera merobek kertas teleport untuk segera sampai di kediamannya.
_____ RV _____
Maap apabila ada kesalahan kata atau typo, jangan lupa vote dan komen nya ya~~ :)
Thanks you!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Hero in World (TCF X ORV)
ФэнтезиPerjalanan seorang Cale Hetnituse setelah mengalahkan White Star dan memasuki dunia baru. Kesalahan yang dilakukan oleh Bajingan Dewa Kematian tersebut menyebabkan Cale tidak dapat mencapai impiannya menjadi seorang pemalas. Fanfict Crossover TCF d...
