Tia mendongak, melihat langit Paris yang berwarna jingga. Hanya orang bodoh yang akan melewatkan saat-saat seperti ini. Sembari menunggu kuda pada carousel di depannya itu kosong, ia mengangkat kamera-motretnya untuk beberapa kali.
Netranya tertuju pada carousel di depannya, teman-teman Tia yang pernah berkunjung kemari mengatakan; carouselnya sepiiii banget! dan beberapa kata lain yang menunjukan makna sama yaitu; carouselnya selalu sepi.
Memang tidak ada salahnya mempercayai mereka-hari ini bukan hari Tia. Gadis itu hanya berdiri selama beberapa menit kedepan, hingga kuda berwarna coklat gelap yang gagah itu tak di tumpangi oleh wisatawan manapun.
Sialan. Tia selalu kalah cepat dibandingkan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka, ditambah gadis SMA dengan outer merah yang merupakan seragam di sekolah mereka, gadis itu terus duduk di kuda coklat yang didambakan oleh Tia.
Dengan hati yang tidak sepenuhnya ikhlas Tia berjalan menjauh dari crousel itu, kakinya membawa ia pergi beberapa langkah lebih jauh. Pada akhirnya kaki itu menapakkan dirinya pada rerumputan hijau dengan panorama menara Eiffel yang terpampang jelas dihadapannya, berdiri sangat gagah.
Tia mendudukan badan pada rerumputan itu, mengangkat kameranya lalu memotret satu foto dengan kualitas buruk-agar ia memiliki alasan untuk pergi kesini lagi. Lantas setelah menurunkan kamera miliknya ia membuka handphone. Wallpaper lock screen miliknya sudah terpasang selama kurang lebih satu tahun. Potret menara Eiffel dari apartemen yang nampak semakin indah dengan sebuah croissant dan secangkir teh hangat yang diletakkan di meja pada balkon apartemen itu. Kehidupan yang sejak dulu ia inginkan. Menjadi fotografer dan tinggal di Paris.
Lama ia menatap wallpaper lock sreennya, setelah tiga kali layarnya menggelap ia menggeser layar handphonenya. Berganti pada home screen lalu menggeser pada halaman berikutnya lantas memencet aplikasi yang selalu ia tuju. Jika melihat pada persentase kesehatan digital mungkin aplikasi hijau itu memiliki paling banyak persentase.
Tia menyambungkan earphonenya lagi, lantas menyetel playlist 'gentle classical', ia memutarnya secara suffle. Perlahan alunan-alunan musik klasik itu memenuhi indra pendengarannya. Lagu pertama yang ia dengar adalah lagu klasik favoritnya; 'Martynov: "come in!", Movement II'
Sang mentari sudah menghilang sejak tadi, hanya menyisakan semburat keungu-unguan pada langit. Suasana yang tidak bisa dijelaskan lagi. Berada pada kota cantik ini pada saat mentari baru saja terbenam dengan diiringi musik klasik yang lembut.
꧁✧꧂
Jarum jam menunjukan pukul tujuh malam sekarang, sudah dua jam Tia duduk di rerumputan ini. Playlist yang menemaninya sejak tadi belum usai mengingat playlist 'gentle classical' akan terputar selama lima jam lima puluh tujuh menit lamanya.
Sepasang netra milik gadis itu memberat tanda ingin ditidurkan. Karena tak mampu menahan kantuknya ia memutuskan untuk bangkit dan menyetop taksi. Bersedia mengeluarkan 15 euro. Sebenarnya apartemen Tia tidak jauh dari lokasi dimana ia melihat semburat keungu-unguan dengan lantunan musik klasik, tapi tetap saja ia takut bila diperjalanan akan menubruk orang lalu tidak sadar dan dibawa kesuatu tempat. Kenapa banyak sekali film menakutkan dengan latar Paris?
Ketika Tia sudah menemukan taksi dan segera masuk kedalamnya ia merasakan matanya kembali segar, sialan.
Tia sampai pada apartemenya, jari-jarinya lincah membuka pin unit apartemenya. Tak lama pintu itu terbuka, menampakan sebuah unit apartemen yang sederhana. Temboknya yang dicat dengan warna putih, dan ruang keluarga yang diberi wallpaper motif timbul berwarna emas.
Tia membuka pintu kamar tidurnya lantas menggantungkan tas kecil miliknya pada stand hanger yang nampak seperti pohon tanpa daun. Menutupnya kembali lalu berjalan pada ruang keluarga, merebahkan dirinya diatas sofa beige dengan dua buah bantal abu-abu yang terletak di setiap ujungnya.
Tatapanya tertuju pada lampu gantung yang memang sengaja tidak dinyalakan-agar bisa cepat tidur. Matanya mulai terasa berat dan dalam sekejam gadis yang masih menggunakan pakaian yang sama sejak tadi pagi itu terlelap. Sudah dalam perjalanan untuk pergi ke alam mimpi.
꧁✧꧂
Proses HD Tegar baru saja selesai, lelaki itu tengah menyantap baguette yang tekstur nya benar-benar keras bagi Tegar jadi ia membutuhkan effort untuk memakannya. Disampingnya Jevin juga sedang memakan makanan yang sama dengan Tegar, namun ia mengunnyah roti tersebut layaknya roti-roti yang dijual di Indonesia-empuk.
Pasrah. Tegar tidak ingin gigi-gigi miliknya copot hanya karena memakan baguette keras itu. Dengan mulutnya yang maju dua senti-karena harus mengunnyah gigitan terakhirnya, Tegar memasukkan roti keras itu dalam paper bag lalu meletakkannya di meja kecil.
"Jev... Air"
Dengan sigap lelaki itu melemparkan botol minum yang lantas terjatuh tepat di kasur. Tegar bodoh dalam hal tangkap-menangkap.
"Bonjour" ucap Tegar sumringah sambil mengangkat botol air mineral tadi.
Jevin mendongak nampak keheranan "Merci, bodoh."
"Noted" Tegar menunjuk kepalanya memberi isyaraat bahwa ia akan menyimpan kata 'merci' yang berarti terimakasih pada memorinya.
Lelaki yang sedang duduk pada kasurnya itu meraih ponsel mililnya diatas nakas rumah sakit.
Jari-jemarinya lincah menuju kontak, menekan tanda '+' lalu menukiskan nama gadis dengan kamera mahal yang ia temui di taman Jardin tadi siang.
"Jev, kartu nama gadis cantik"
"Cinta-cintaan juga lo Gar"
"Mau mati gini gue gak mati rasa ya Jev"
Jevin segera bangkit dari duduknya, lalu merogoh jaket milik Tegar.
"Noh" Jevin memberikan kartu nama dengan desain simple imut itu pada Tegar, "Good luck Gar"
"Hm" jawab Tegar singkat, segera mengambil kartu nama itu dari tangan Jevin lalu memasukan nomor yang tertera pada kontaknya.
"Septia" gumam lelaki itu, sekarang jari-jarinya sedang bergerak mencari emotikon lucu untuk gadis itu.
Septia🧸
Gadis yang kontaknya dibubuhi Tegar emotikon boneka beruang itu memiliki aplikasi whatsapp, segera Tegar pencet opsi 'message to Septia🧸'.
+33*********
Malam
19.20Gue Tegar
19.21Dua bubble message itu sudah terkirim, namun belum dibaca oleh nya. Tegar meletakkan kembali handponenya pada nakas disampingnya lalu turun dari kasur, bersiap pulang kerumah.
"Pulang?" tanya Jevin setelah mengetahui Tegar beranjak dari kasurnya.
"Gak, disini aja sampe lo lulus" jawab Tegar sambil mengenakan jaket baseballnya.
"Bagus deh, makin rajin HD-nya"
Percakapan diakhiri dengan Jevin, mereka sibuk dengan barang-barangnya sendiri. Hingga mereka tiba di parkiran.
"Kemana?" tanya Jevin membuka percakapan setelah diam sejak mereka berkemas.
"Apartemen gue aja" ucap sang lawan bicara sambil membuka mobil SUV putih milik Jevin.
Jevin hanya mengangguk, menuju kursi pengemudi lalu melajukan mobilnya.
꧁✧꧂
Haloo, lagunya jangan lupa didengerin yaa!! Tapi gatau deh kayaknya gak banyak orang yang suka genre kayak gitu, Mama aku aja bilang selera musik aku aneh😥
Ok deh, segitu dulu sampai jumpa bulan depan~~
Canda.
Plus, itu gak HD jadi maap
Ok dadah.

KAMU SEDANG MEMBACA
THIRD COUNTRY
Fiksi PenggemarTegar Revalentio, jika ia merasa suatu hari dalam hidupnya harus diabadikan, dikenang, diingat ia akan melukis atau membuat sketsa. Sama halnya dengan seorang gadis bernama Septia Amaranggana yang Tegar kenal saat mereka sedang bersantai di taman Lu...