"Seungkwan!"
"Aku tak mau!"
"Sapa saja! Hey, apa kabar. Begitu."
"Kau saja! Kenapa tantangan mu aneh sekali."
"Oh ayolah! Hansol bukan monster es, kau pasti bisa menyapanya."
"Tidak! Si Chwe Hansol itu bajingan tak punya hati! Aku lebih baik mati di banding bicara dengan—"
"..."
"Ah..."
Begitu mereka belok di tikungan, Lelaki yang mereka bicarakan ternyata ada di hadapan. Teman teman Seungkwan di belakang diam membeku, malu.
Hansol menarik earphone yang menempel di kedua telingannya. Menatap datar Seungkwan yang berdiri menghadapnya, "Kau menghalangi jalan."
Seungkwan diam, menunduk. Pipinya merah karena malu. Ia khawatir setengah mati karena bicara buruk di hadapan orang nya secara langsung. Namun kepalanya naik bersemangat kala Hansol kembali berujar untuk bertanya, "Apa sudah bel? Aku tak bisa mendengar apapun sejak tadi."
Seungkwan buru buru menggeleng senang, "Belum! Belum!" Ucapnya semangat. Senang bukan main karena ternyata Hansol tak mendengar ejekannya.
Istirahat makan siang sebenarnya hampir selesai. Tapi setelah berpisah dengan Hansol tadi, Seungkwan dan teman temannya kembali bermain Truth or dare sambil berjalan. Si manis berpipi tembam masih marah karena teman temannya menganggap bahwa Seungkwan belum memenuhi tantangan nya.
"Uhh, Ayolah! Kalian curang sekali!"
"Tidak tidak! Kau harus menyapa nya seperti seorang teman!"
Seungkwan terus diledek. Ketiganya berjalan di depan lapangan besar di mana beberapa siswa dan siswi sedang berolahraga juga bermain bola.
Ramai di lapangan tak dihiraukan ketiganya. Seungkwan sibuk membalas ledekan teman temannya yang sangat suka membuat Seungkwan malu dengan membahas Hansol siswa dingin tak berambisi dari kelas sebelah.
Ditengah candaan tiga murid SMA itu, salah satu dari mereka berseru sambil menunjuk lapangan.
"Oh lihat! Kelas 2 sudah berlarian begitu padahal jam makan siang baru saja selesai."
"Apa itu pelajaran Pak Jimin? Ah aku ingat dia suka sekali membuat kita berlari memutari lapang saat kelas 2."
Tiga teman itu diam menonton lapangan. Para murid dengan pakaian olahraga sekolah berlarian bak di kejar anjing galak. Seungkwan menjerit kaget kala ada beberapa siswa dan siswi yang jatuh kala berlari dan tak sanggup berdiri lagi karena teman temannya malah menimpa mereka.
Cukup jauh, Namun Seungkwan merasa ada yang tak beres sekarang.
"Aih, Ku suruh mereka pemanasan terlebih dahulu mengapa mereka sudah mulai berlarian begitu?"
"Pak Jimin!?"
Pria dengan pakaian olahraga dan papan dada berisi absen siswa menatap Seungkwan dan kedua temannya bingung, "Ada apa?"
"Kau disini? Mereka berlari bukan karena kau menyuruhnya?"
"Apa maksudmu, tsk! Priiiit!" Guru Olahraga itu turun dari tangga yang menghubungkannya dengan gedung utama sekolah. Berjalan ke arah lapangan dimana murid murid sibuk berlarian, "Hey! Haechan! Kau pikir aku tak bisa melihat mu dari sini, Huh? Berhenti atau ku laporkan karena kau melecehkan teman perempuan?"
Dari jauh Seungkwan lihat, Jimin yang berjalan mendekat tak mampu melerai siswa yang sempat melompat ke atas tubuh teman perempuannya. Jimin malah ditarik jatuh dan diperlakukan persis sama dengan sang siswi di tengah lapang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Apocalypse | svt
FanficChan sebenarnya punya pilihan, namun ia malah memilih kematian. Walau Seungcheol sadar orang yang seharusnya ia tangkap ada dihadapan, Jeonghan ia biarkan berlindung di belakang punggungnya. Tak pernah punya waktu selain untuk uang, Jun kini malah...