Semalaman Vincent duduk membisu. Tetapi pikiran serta raganya dipaksa untuk bergerak berkelana hingga entah sampai ujung mana. Kurang lebih hal itu terjadi saat sembilan jam yang lalu sejak ia membuka mata di pagi hari ini.
Vincent mengambil segelas air putih bersama sebutir obat pereda pengar di atas meja pada ranjang besarnya. Setelahnya ia terdiam, mengambil satu buah bathrobe di dalam lemari lantas memakainya. Rasa dingin sempat menerpa kulit tan-nya. Vincent tersadar, ia memang tertidur tanpa memakai atasan.
Vincent berjalan membuka jendela kamar, menyambut udara pagi hari yang menerpa wajah setengah kantuknya. Netranya menangkap sebuah mobil yang terlihat tidak jauh terparkirkan di ujung pekarangan kediamannya. Mobil biasa yang memang terlihat paling mencolok dengan warnanya yang nyaris luntur; mungkin jarang dilakukan perbaikan ataukah perkara sudah umurnya alias tua.
Vincent mengambil ponselnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mencari kontak penjaga satpam di bawah. Menanyakan akan siapakah tamu yang datang di pagi hari buta seperti ini meski waktu telah menunjukan pukul tujuh kurang tiga menit.
Pikirnya, mungkin hari ini ia akan kembali berhadapan dengan orang-orang dari relasinya yang seringkali menyebabkan masalah, namun, senyum simpulnya terbit ketika tak sadar rungunya menangkap pertanyaan yang diucapkan oleh anak buahnya.
"Nona Adaline ingin bertemu dengan tuan, haruskah saya memintanya kembali lain waktu?" tanya pria di seberang Vincent sopan.
Vincent membasahkan bilah bibirnya setelah menegak minuman di gelasnya yang masih setengah. Menjawab santai, "Biarkan dia menemuiku. Aku memiliki beberapa urusan bersamanya."
Vincent meletakkan ponselnya dan menghabiskan minumannya dalam sekali tegukan. Hendak keluar sebelum menghubungi Logan terkait pergantian jadwal pertemuan bisnisnya di hari ini agar di alihkan menjadi minggu depan.
••
Adaline menggaruk tengkuknya ketika sekitar sepuluh menit berlalu ia menjajahkan kakinya di bangunan megah ini.
Sebuah mansion dengan interior klasik. Dindingnya berwarna kuning dengan ubin cream. Banyak lukisan lawas buatan kurang lebih bumi Eropa.
Sejenak Adaline berpikir.
Mungkinkah selera pemilik rumah memang seperti itu? Adaline hanya merasa gugup, sebab kedatangannya begitu disambut. Padahal ia kemari pun hanya bermaksud membicarakan pasal perjanjian yang ditawarkan oleh Vincent padanya.
Kemarin malam di Reiver Reev; jembatan tempat pertemuan kedua dirinya dan Vincent, adalah hal yang menjadi alasan kedatangannya kemari. Namun, dibalik niatnya tersebut, ada alasan lainnya yang berhubungan dengan hidupnya—lebih tepatnya kebaikan hidup orang yang disayanginya.
Sang ibu.
"Kupikir kau menggunakan dengan baik kartu nama milikku," ucap seseorang yang turun dari lantai dua. Memakai bathrobe, dengan dibiarkan setengah terbuka, menampilkan dada yang luas bertemu jawline. Tatapannya gelap namun ada sedikit kehangatan ketika memandang lurus lawan bicaranya.
Demi Tuhan, makhluk itu terlihat tampan dan seksi dalam satu waktu.
Tanpa sadar, Adaline merasa gugup, entah pesona pria yang sama sekali tak mempedulikan penampilannya saat ini yang terkesan terbuka dan santai, ataukah dirinya sendiri yang bingung ingin memulai mengutarakan isi pikirannya dari mana.
"Jadi, ada yang ingin dibicarakan? Sampai pagi-pagi sekali kau mendatangiku," ujar Vincent lagi sembari mendudukkan bokongnya di sofa. "Padahal kita bisa memulai perjanjiannya melalui telepon."
KAMU SEDANG MEMBACA
Let Me Be With You [M]
Mistério / SuspenseDominic Vincent itu tampan, kaya, seksi dan juga berbahaya. Pandangannya terlalu luas, seperti taktiknya dalam menguasai sebagian pasar bisnis benua Eropa---putra satu-satunya Lamberg Group yang telah dikenal dunia. Baginya menaklukan lawan sama se...
![Let Me Be With You [M]](https://img.wattpad.com/cover/303582550-64-k571199.jpg)