"Aduh... cantiknya. Sekarang Nadia sudah besar, ya."
Nadia tersipu malu. Hal yang seperti ini sudah biasa terjadi. Bahkan terkadang saat menghadiri acara keluarga, banyak sanak saudara yang sama sekali tidak dikenalnya, mengaku dulu hobi sekali menggendong- gendong dirinya, serta memuji parasnya. Membuat rasa canggung mengalir di seluruh tubuh.
Tetapi jika Mama Mahesa yang memuji, tentu Nadia tidak akan menolak, apalagi merasa keki. Sebab ketika dahulu kala, dirinya sering sekali berkunjung ke rumah yang dulunya berhadapan dengan rumahnya, yaitu milik Mama Mahesa. Hanya berbusana celana dalam dan kaus dalam saja, Mama Mahesa masih menyebutnya cantik.
"Ah, Mama bisa aja, deh. Liat, nih," Nadia menunjuk ke arah kedua pipinya. "Mama bikin pipi aku merah-merah begini." Kelakarnya seraya memeluk orang yang ia anggap sebagai Ibu kedua.
Sedangkan di ambang pintu, ada seorang lelaki yang sedari tadi menahan kesal dan mendengus melihat interaksi dua hawa yang berada tepat di hadapannya. Ia begitu kesal, namun mau tak mau harus menahannya karena Mama.
Dan sang gadis menyebalkan ini bisa-bisanya menjulurkan lidah, meledeknya seakan-akan ia pemenangnya. Bagaimanapun juga gadis itu tidak akan bisa bertemu Mama jika ia tak menjemputnya.
"Tch, Ma," Mahesa memanggil Mama. "Mahesa mau ke kamar duluan,"
"Eh, tunggu dulu, Mas!"
Mahesa menoleh, melihat Mama mengerling. Ia tahu ada maksud terselubung di balik kedipan itu. Jantungnya berdegup cepat, lebih cepat ketika detik-detik menunggu hasil nilai ujian keluar. Mama ini jika sudah mengeluarkan jurus berkedip, hal-hal diluar nalar atau hal-hal yang merugikannya akan terjadi.
"Ke Supermarket, beli bahan-bahan buat Mama masak, sekalian beli banyak camilan buat Nadia."
Kan...
Sudah Mahesa bilang ini akan merugikannya...
"Mama, ini panas banget. Watashi mau turu," Mahesa mengeluh, berharap Mama akan iba terhadapnya. "Itu ada Sastra, suruh dia aja... dari pulang sekolah kerjaannya makanin kacang se-toples sambil ongkang-ongkang di sofa."
Sastra yang mendengar hal itu langsung beranjak dari duduknya. "Apaan? Ini kacang hampir basi, Mas! Makanya aku habisin. Lagian seharian Mas juga nontonin drakor, sama aja!" Ia mengadu tak terima karena perkataan Mahesa. Padahal seharian ini mereka berdua tak ada bedanya.
Mama tertawa mendengar kalimat pertama Sastra, begitu pula dengan Nadia.
"Woi, Bahlul! Lo abis kejedot pager kawat apa gimana? Kacang mana bisa basi? Lagian Bunda baru goreng itu semalem!"
Lantas seisi rumah tertawa.
"Abis ditolak Badriah itu, Bang. Makanya jadi rada sedeng otaknya!" Loka tertawa terbahak-bahak sambil turun dari tangga.
Sastra yang mendengar suara cempreng khas milik adiknya itu lantas melotot dan menaruh toples yang dipegangnya. Berlari mengejar sang bungsu yang sudah kabur ke arah Bunda sambil menjulurkan lidahnya.
"Loka, gue tandain, ya, lo! Tadi udah janji nggak bakalan cepu, duit yang gue kasih emang kurang?!"
Hilang sudah harga diri Sastra di rumah ini. Kelakuan Loka yang cepu itu tak kunjung hilang. Ironisnya mereka berdua selalu berada dalam satu sekolah yang sama.
"Duit goceng bakal apaan?" balas Loka.
"Lo beli siomay udah dapet se-plastik penuh, Loka! Dasar anak jaman sekarang, hobinya foya-foya."
Untung Mama memiliki keteguhan hati yang begitu kokoh, serta kesabaran yang tak habis-habis. Sebab rumah ini ketika perang dunia ke sekian, kerusuhan dan suara yang menggelegar tersebar di semua sudut ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mahesa & Skenarionya
FanfictionDia Mahesa, sang lelaki maniak kata dan senja. Menyembunyikan luka dibalik sastra dan menyerah kepada cinta yang mengudara di atas kuasa. Dia Mahesa, si malaikat tak bersayap yang selalu diterjang lara. Mencintai tanpa dicintai, merasa sakit karena...
