Episode VIII

51 6 2
                                        

Hidup sebagai anak dari keluarga yang tidak harmonis dan kurang kasih sayang membuat Hyunjae menjadi seorang yang haus akan kasih sayang

Hal sekecil apapun bisa membuat ia merasa tersentuh, begitu juga dengan perhatian kecil yang menurut orang-orang terlihat sepele namun bagi Hyunjae itu sangat spesial

Tak heran ia akan mudah jatuh cinta

Terkadang karena hatimu yang terlalu lama kehilangan rasa kasih membuatmu sulit membedakan apa itu sebuah rasa cinta, suka, nyaman atau hanya sekedar kagum

Semua bercampur dan semua terasa berharga, sedikit menyedihkan jika hal itu disalah pahami. Entah itu afeksi atau atensi, Hyunjae tidak bisa membedakan keduanya

Rasa Hyunjae ke Younghoon mungkin bisa dibilang sebuah rasa nyaman karena sudah lama bersama. Saat Hyunjae mengira dunia hanya berputar di mereka saja, hingga sosok lain muncul ia merasa seperti sedang dikhianati

"Kau bilang tidak masalah jika itu hanya kasihan kan? Bagaimana denganmu? Apa kau tahu apa rasamu itu memang cinta atau hanya karena kamu kesepian saja? Bisakah kamu membedakan keduanya ?"

Sebuah pertanyaan yang selama ini Hyunjae berusaha cari jawabnya

Tidak ada yang mengajarkannya tentang itu semua, apa beda antara afeksi dan atensi. Apa bedanya cinta dan hanya kagum?
Siapa yang bisa membantu Hyunjae untuk menjabarkannya

Hingga akhirnya Hyunjae bertekad dan hanya ingin percaya satu hal

"Aku memang nggak pernah tahu apa itu cinta, karena aku memang tidak pernah merasakannya sendiri sedari dulu, tapi satu hal yang pasti, kakiku tak akan pernah berlari untuk sembarang orang"

Tubuhnya goyah, pertahanannya benar-benar tidak bisa lagi menopang semuanya

Rasa sakit ini berbeda

"Aku memang bodoh, tak bisa membedakan semua yang kau sebutkan, tapi tubuhku tak akan mau kembali mengulang rasa sakit yang sudah dengan susah payah ia obati. Setidaknya aku tidak sebodoh seseorang yang akan kembali pada orang yang sudah menghancurkannya"

"Jangan merasa paling tahu tentang kehidupan ku Hyunjae"

"Ya.. aku Hyunjae, orang yang sudah dengan seenaknya masuk ke hidupmu, dan pura-pura mengerti bagaimana kamu ini, izin pamit!"

"Aku harap kau akan hancur untuk yang kedua kali nya, dan aku juga jadi alasannya!"

Semua hal itu berputar di kepala Juyeon, adegan ini dan setiap kata-kata itu masih membekas bahkan setelah hampir enam bulan lamanya

Hari ini saat tengah mengunjungi sebuah cafe, dirinya secara tidak sengaja melihat sosok yang sangat familiar dan jujur sosok yang selama ini cukup mengganggu pikirannya

Dilihatnya tubuh itu masih tetap sama, dengan wajah yang selalu dipaksakan tersenyum. Tubuhnya seperti kehilangan berat badan sehingga membuat wajah putihnya semakin kelihatan tak berdarah

Juyeon ingin menghampirinya, ia ingin mengakui satu hal, tapi kakinya tertahan rasa tidak pantas kembali menghantuinya

Tak ada yang salah dari semua perkataan Hyunjae saat itu. Kebodohannya yang memaafkan seorang yang sudah menghancurkan hidupnya

Ia kira saat itu si gadis menyesal sudah pergi dari hidupnya, namun ternyata dia hanya pelarian saja. Hanya sekedar mencari celah untuk hubungan mereka agar tidak begitu membosankan

Juyeon akui dia bahkan lebih bodoh dari Hyunjae yang tidak mengerti cinta itu apa

Dia lebih dari pria bodoh itu

Hari-hari dengan Hyunjae ternyata bisa menjadi sebuah kenangan indah baginya

Suara berisik Hyunjae dan sifat usilnya yang suka tiba-tiba menutup paksa laptopnya hanya untuk sekedar mengajak Juyeon makan atau sekedar melepas lelah dengan menonton film kesukaannya di layar televisi

Hal-hal random yang tanpa Juyeon sadari bisa mengubah tatanan kehidupannya yang bahkan selama ini tak pernah bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk sang mantan kekasih yang memilih pergi

Saat pulang bekerja, Juyeon menatap pintu sebelah berharap si penghuni akan kembali, tapi nihil

Juyeon membawa langkahnya ke dalam, menghempaskan badannya di sofa. Rasa lelahnya hari ini terasa semakin berat

Juyeon berhasil mengusir semua orang di hidupnya, Juyeon berhasil membuat orang lain menyerah dengan dirinya hingga yang tersisa hanya dia dan dunianya

Juyeon pikir semua orang akan memahami sifatnya ini, dia mengira semua orang juga sama dengan dirinya. Hingga dia sadar saat satu persatu mereka menyerah dan berpaling darinya

Bukan mereka yang salah, bukan mereka yang menyakiti tapi mereka adalah korban dari ketidakpekaan hati seorang Juyeon. Dia terlalu sibuk dengan lukanya sendiri, dan berpikir semua orang akan memakluminya

Terlalu egois saat kamu berharap seseorang memahami mu sedang kamu tidak pernah membicarakan bagian mana dari dirimu yang harus mereka pahami.

Juyeon memang penuh luka tapi dia tak pernah membiarkan orang lain mengobati lukanya. Lukanya dibiarkan mengering begitu saja, hingga tanpa sadar orang sekitarnya menyentuh luka itu dan membuatnya berdarah kembali

Bukan salah mereka, karena sedari awal mereka tidak pernah diberitahu bahwa itu pernah terluka, bagian itu pernah berdarah dan butuh di obati

Saat kamu mengizinkan seseorang memasuki duniamu, sudah seharusnya kamu menuntun mereka. Jangan biarkan mereka tersesat dengan jalannya sendiri. Dan jangan menyesal saat mereka memilih menyerah dan keluar dari sana
karena kamu juga penyebabnya

Saat itu, Hyunjae mengulurkan tangannya, dia menceritakan setiap luka di tubuhnya, tidak berharap diobati tapi hanya agar Juyeon tau bahwa bagian itu pernah terluka
Dia berharap bahwa Juyeon juga melakukan hal yang sama, tapi yang dia dapatkan bahkan lebih dari sebuah penolakan

Dia memilih pergi, meninggalkan Juyeon dengan dunianya yang tak pernah ingin diganggu orang lain
Dia tidak ingin dibujuk untuk kembali, tapi dia ingin Juyeon tahu, alasan kenapa dia memilih pergi

Juyeon harus tahu itu, ia harus menemukan jawabannya

Enam bulan sudah berlalu, Juyeon mulai mencari alasan dari kepergian Hyunjae, namun ia tidak berani mendekatinya apalagi bertanya, karena ia merasa tidak ada hak untuk itu

Sore ini, Juyeon melihat Hyunjae, dia kembali terusik. Ingin rasanya mendatangi Hyunjae dan bertanya tapi kembali lagi, dia merasa tidak punya hak

Hingga malam tiba, Juyeon masih memikirkan Hyunjae. Dia  menjangkau gawainya, menggulir room chat mereka sebelumya. Penuh dengan Hyunjae yang selalu memulai segala obrolannya

Apakah jika aku aku mengambil langkah yang berbeda hasilnya tidak akan sama?
Apakah jika aku mengambil langkah yang berbeda apakah ia akan tetap di tinggalkan?

"bagaimana kabarmu?"

Juyeon memilih jalan itu, dia mencoba jalan yang berbeda. Mari kita saksikan apakah endingnya akan tetap sama

tbc

Hai, aku kembali lagi setelah empat tahun :( bahkan aku ragu apakah masih ada yang akan membaca ini, atau apakah kita masih mencintai tokoh di cerita ini

tapi setiap kali aku membaca ulang cerita ini, aku seperti sangat ingin untuk memberikan akhir dari kisahnya

siapapun tokohnya, apapun hasilnya, aku ingin cerita ini menemui endingnya

aku harap aku bisa,

Terimakasih telah membaca CWTCH
jangan lupa Vote dan Komen ya 🖤


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CWTCHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang