#26 GELANG

312 35 30
                                        

Instagram & TikTok: @urfairyy.byy

***

Sesampainya di sekolah SMA Garuda, Tiara langsung menuju ke kelasnya. Di kelas, tampak Anggi sedang menghapus tulisan-tulisan yang ada di papan tulis. Melihat sahabatnya itu, Tiara pun menyapanya dengan ceria. "Hai, Anggi!"

Anggi hanya melirik kemudian menghentikan aktivitasnya. Ia melempar penghapus papan tulis tersebut ke atas meja guru, kemudian berjalan kembali ke tempat duduknya. Namun, Tiara menahan lengan gadis itu. "Anggi," panggilnya.

"Apa sih?" tanya Anggi risih sambil menarik tangannya dari genggaman Tiara.

"Lo kenapa sih sama gue? Kalo gue ada salah, gue minta maaf"

"Gue tuh benci banget sama orang yang munafik!" ucap Anggi sambil melipat kedua tangannya.

"Siapa pun dia, temen deket gue, sahabat gue, pacar gue, atau keluarga gue, kalau dia munafik, ya gue bakalan tetap benci sama dia" lanjutnya.

"Gi, dulu lo nggak kayak gini" jawab Tiara.

"Itu dulu. Dulu gue berusaha sabar dan menahan semuanya. Tapi makin lama, kesabaran gue habis dan gue udah nggak tahan sama kelakuan lo"

Tiara hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka.

Anggi mengangkat tangannya dan melepas gelang yang terpasang di pergelangan tangannya, kemudian memperlihatkannya kepada Tiara.

"Nih, gelang yang lo kasi dan lo bilang ini gelang persahabatan,"

"UDAH NGGAK ADA ARTINYA!" Anggi melempar gelang tersebut ke arah muka sahabatnya. Tiara menatap gelang yang jatuh ke lantai itu dan menahan air matanya.

"Kita udah nggak sahabatan lagi. Nggak ada sahabat yang munafik!" lanjut Anggi. Tiara pun menatap kembali sahabatnya itu. Anggi melanjutkan langkahnya ke tempat duduknya.

"ANGGI!" Tiara kembali menarik Anggi. "APA LAGI?!" Anggi melepaskan tangan Tiara dan mendorongnya hingga terjatuh.

"AW!" jeritnya kesakitan.

"LO NGERTI NGGAK SIH MAKSUD GUE?!" lanjut Anggi.

Tama baru saja datang dan akan menuju ke kelasnya. Untuk menuju ke kelasnya, ia harus melewati beberapa kelas, termasuk kelas Tiara. Saat melewati kelas milik sahabatnya itu, ia melihat Tiara yang duduk di lantai dan Anggi yang sedang membentaknya.

Tama pun langsung menghampiri Tiara yang sedang menangis. "Ra, lo nggak papa, kan?" tanyanya. Tiara tidak menjawabnya dan terus menangis.

"Anggi, kamu yang dorong Tiara?" tanya Tama.

"Iya. Kenapa? Mau marah? Marah aja! Bela aja terus sahabat kamu itu" jawab Anggi, kemudian pergi meninggalkan kelas.

"Ra, kaki lo sakit, ya?" tanya Tama. Tiara menjawabnya dengan anggukan.

"Ya udah, gue anterin ke UKS, ya" Tama pun membawa Tiara ke UKS untuk istirahat sejenak. Ia memijit pelan kaki sahabatnya yang sedang duduk di atas brankar.

Saat sampai di UKS tadi, Tama langsung memberitahu Nuca bahwa Tiara baru saja jatuh dan sedang berada di UKS. Tak lama, Nuca pun datang menghampiri Tiara.

"Tiara, kamu nggak papa?" tanya Nuca khawatir. Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap kosong ke depan, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.

"Tam, Tiara kok bisa jatuh sih?" tanya Nuca kepada Tama.

"Tadi dia di dorong sama Anggi. Gue juga ngeliat Anggi ngebentak Tiara"

MUTIARA [TELAH TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang