Dunia sudah di-setting memiliki dua hal yang saling bertentangan. Baik dan jahat. Bahagia dan sedih. Pertemuan dan perpisahan.
Aku telah mengalami semua itu. Rasanya bukan sesuatu yang menyenangkan. Mengapa harus ada kehidupan, jika akan berakhir pada kematian? Bagaimana bisa dua orang yang saling mencinta, kemudian berujung pada benci yang membara?
Seharusnya, Bumi memiliki komposisi seperti Venus. Dipenuhi karbon dioksida dan sulfur pada atmosfernya. Sehingga tak ada satu mahluk hidup yang mampu bertahan. Sampai Aksara mengubah persepsiku.
Dia bilang, dari mana aku bisa tahu itu menyenangkan, jika sebelumnya aku sendiri tak pernah merasakan kesulitan? Hidup dan mati diperlukan untuk menyeimbangkan populasi manusia di Bumi. Perpisahan terjadi agar seseorang bisa lebih menghargai kebersamaan.
Lagi-lagi ucapan Aksara mampu membuat hatiku tenang. Aku ingin menghargai setiap waktu yang kami habiskan bersama. Seperti saat ini.
Aksara menemaniku olahraga pukul empat pagi. Masih terlalu dini untuk berlari mengelilingi taman di sekitar apartemen. Aku memang masih terganggu dengan suara manusia, kecuali suara Aksara.
"Tubuhmu nggak capek, Lan?" tanyanya sambil berlari-lari kecil.
Aku meregangkan kedua tangan. Menggoyangkan pinggul sebagai bentuk pemanasan. "Lebih baik setelah rutin berolahraga pagi."
"Masih belum bisa tidur malam? An hour maybe."
Aku menggeleng. "Nggak bisa. Aku menyukai suasana malam. Aku nggak mau melewatinya dengan tidur," jawabku dengan tenang.
Berbeda dengan Aksara. Pria itu menghela napas berat. "Sesuatu yang berlebihan nggak baik, Kelana. Malam adalah sesuatu yang pasti datang. Gimana kalau yang kamu suka itu manusia?"
Aku diam. Membiarkan Aksara menyuarakan pemikirannya.
"Kamu nggak bisa mengatur hati seseorang. Kamu bisa terluka."
Hatiku sudah pernah terluka, Aksara. Masih membekas hingga sekarang.
"Kalau gitu jangan sampaikan salam balikku pada Ren. Aku mungkin bisa terluka."
Aksara menatapku dengan mata melebar kaget. "Eh? Kok gitu?"
"Ren juga manusia, Aksara ...." Kutepuk bahunya sebelum lari mengelilingi taman.
Aksara mengejarku. Kakinya yang panjang memudahkan dia menyamai lariku. Dan dia sepertinya masih belum ingin mengakhiri obrolan.
"Ren berbeda, Lan. Dia nggak akan menyakiti kamu."
Spontan aku menoleh. Menatap Aksara dengan alis bergelombang. "Ucapanmu kali ini nggak konsisten. Kamu ini dibayar berapa sama Ren?" Jangan salahkan aku yang nethink. Sikap Aksara sungguh tak biasa.
Dia terkekeh. "Memang nggak ada jaminan Ren nggak akan menyakitimu. Tapi, aku yakin, dia nggak akan meninggalkanmu."
"Kamu mau meninggal, Ra?"
Aksara seketika menghentikan larinya. Begitu juga denganku. Memandangnya dengan ekspresi datar seperti biasa.
Pukul empat pagi, suasana hening itu terpecahkan oleh tawa keras Aksara. Dia sampai memegangi perutnya. Mungkin merasakan nyeri sebab tawanya yang berlebihan.
"Aku baik-baik saja. Kamu terlalu banyak menulis novel romance ya begini."
"Novel romance ditulis berdasarkan pengalaman. Nggak seutuhnya imajinasi penulis."
"Tapi itu nggak berlaku buatku."
"Aku cuma bertanya." Aku tak mau mengalah.
Pada akhirnya, Aksara mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Kini dia membenarkan posisinya menghadapku. Menatapku dalam seperti sedang berusaha menghipnotisku.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR, AKSARA
Romance"Keinginanku sederhana. Menghabiskan waktu bersama Aksara sampai maut memisahkan. Aksara sudah seperti peta kehidupanku. Ke mana Aksara pergi, aku akan mengikuti tanpa ragu. Apapun pilihan Aksara, akan selalu jadi keputusanku." "Kalau kamu memberika...
