Aksara pernah bertanya, apa yang paling menakutkan di dunia ini? Sampai aku menarik diri dari panggung sandiwara yang bernama kehidupan.
Semuanya.
Aku benci mendengar suara manusia, deru mesin kendaraan, serta hiruk-pikuk ibukota. Aku benci mendengar segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Mereka semua membuat dadaku bagai ditindih berton-ton karung beras.
Bagiku, tatapan mereka seperti mengintimidasi. Bibir yang bergerak dengan suara samar itu seakan sedang mencibirku. Perasaan takut akan tak diterima. Usaha yang tak pernah dirasa cukup. Pengabaian yang melahirkan kesepian. Aku ingin menyingkirkan semua ingatan memuakkan itu.
Jika mengisolasi diri satu-satunya yang dapat menjaga kewarasanku, aku tak punya pilihan lain. Karena Tuhan pun benci, manusia mendahului takdir hidup yang telah ditetapkan-Nya.
Lantas, aku masih salah?
Aksara seharusnya mempertanyakan kepada Tuhan. Mengapa semua yang diciptakan untukku hanya derita? Sungguh, bukan kemauanku menjalani hidup seperti ini.
"Kamu serius ambil jurusan Akuntansi, Lan? Kamu kan nggak suka berhitung," cecar Aksara setelah mendengar rencanaku usai lulus SMA saat itu. Aksara menentang keras ketika alasanku mengambil jurusan Akuntansi, yaitu dirinya.
"Nggak masalah selagi aku masih sama kamu."
"Kelana, aku tahu kamu belum menemukan passion-mu itu apa. Tapi seenggaknya, bukan memilih jurusan yang nggak kamu suka. Memangnya, kamu sanggup 4 tahun berkutat dengan angka? Itupun kalau nilai-nilaimu bagus dan lulus tepat waktu."
"Aksara, Aksara, Aksara." Aku mengucapkannya berulang-ulang sembari bertopang dagu. Tersenyum simpul menikmati raut kesal pemuda itu.
"Aku nggak tahu buat apa diberi napas. Aku cuma menjalani apa yang semestinya manusia lakukan. Makan dan minum buat bertahan hidup. Berinteraksi sosial demi memiliki teman dan relasi. Juga menempuh pendidikan supaya mudah mendapat kerja."
Well, baiknya dari pertengkaranku dengan Aksara aku jadi ingat. Aku pernah berinteraksi sosial seperti manusia pada umumnya. Memiliki banyak teman, bercanda dan bertengkar, serta berkencan.
Dan pada akhirnya, Aksara lah yang membawaku mengenal dunia sastra. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa menebak, bahwa menulis dan mengamati sekitar akan cocok denganku.
See, Aksara mengenalku lebih dari diriku sendiri. Lantas, kenapa dia bersikeras menjerumuskanku pada kubangan penderitaan?
Aksara sudah tidak peduli lagi padaku?
Pelan-pelan dia mengusirku, karena aku terlalu bergantung padanya?
Atau, keberadaanku sudah dirasa membebaninya?
Dua belas tahun berteman, mustahil Aksara tidak menginginkan kehidupan yang normal, 'kan? Penyakit overthink-ku kambuh.
Sebuah notifikasi masuk. Aksara baru saja meng-upload sebuah foto. Penasaran, aku membuka notifikasi tersebut.
Foto pertama, pemandangan langit senja persis dengan yang kulihat beberapa jam lalu. Indah dan menakjubkan. Kedatangannya begitu singkat. Oleh sebab itu, kehadiran senja terasa lebih bermakna. Keputusan yang bijak, Aksara mengabadikan momen tersebut melalui lensa kamera.
Foto kedua, menampilkan satu set menu main course lengkap dengan wine. Tersusun cantik dan elegan. Entah kenapa aku merasa kecewa. Hati kecilku berkata, seharusnya Aksara tidak boleh seperti ini. Masalah kami belum selesai, tapi dia tampak baik-baik saja.
Lalu, satu komentar menarik perhatianku.
Aurelia476 Nice to meet you :)
Secara naluri aku mengklik akun tersebut. Tidak di privat. Betapa terkejutnya aku melihat foto yang sama terunggah. Kali ini disertai foto dirinya dengan Aksara. Mereka duduk berhadapan. Tangan Aksara terlihat yang mengambil selca.
Mesra sekali. Senyum Aksara juga terlihat cerah. Aku tak tahu bahwa Aksara bisa tersenyum secerah itu disaat aku sedang mendiamkannnya.
"Cantik," gumamku memperhatikan wajah asia perempuan itu. Mirip dengan artis-artis korea yang digandrungi oleh kaum milenial dan generasi Z.
"Aksara, Aksara, Aksara." Aku tidak mengerti mengapa harus menggumamkan nama Aksara sampai tiga kali.
Jujur saja, pikiranku lebih ruwet dari labirin sekarang. Berbagai macam hal saling berebut atensiku hingga kepalaku nyaris pecah.
Apakah Aksara benar-benar punya pacar? Aku tak masalah. Toh, selama ini aku pernah beberapa kali melihat Aksara pacaran.
Hanya saja timing-nya membuatku overthink. Aksara tak pernah memaksaku untuk keluar dari zona nyamanku. Seolah-olah dia memang berencana mengusirku keluar dari dunianya.
Karena Aurelia ini?
"Mungkin, aku harus mempersiapkan diri dari sekarang ... kehilangan Aksara," lirihku berusaha menghibur diri. Ngga papa, Kelana. Ngga papa.
Kuturunkan topi hingga menyembunyikan nyaris seluruh wajahku. Menyumpal telingaku dengan headset, memutar musik instrumental. Lalu berjalan menyusuri trotoar yang mulai dipadati pejalan kaki.
Satnight, pukul delapan malam. Ibukota yang tak pernah sepi akan semakin menggila malam ini.
***
Kehilangan tak selalu bermakna kematian. Bisa jadi kamu masih dapat melihat, bahkan menyentuh wajahnya. Namun, tidak dengan hatinya. Tinggal satu rumah, tapi tak saling menyapa. Tidur di ranjang yang sama, tapi tak pernah saling menyentuh. Kira-kira seperti itulah gambaran yang pernah terjadi pada kedua orang tuaku.
Ayah dan Ibuku terjebak hubungan toxic relationship cukup lama. Tak sekali aku mendengar suara teriakan mereka kala bertengkar hebat. Suara benda pecah mengikuti. Hingga saat ini, aku memiliki ketakutan mendengar suara-suara kejut. Tubuhku akan merespon cepat-- lemas bahkan bisa sampai tremor.
Seperti sekarang. Aku geming melihat pertengkaran sepasang kekasih yang berhasil menarik atensi publik. Di pintu masuk sebuah cafe.
"Kamu sebagai cewek harusnya ngerti bangsat!" Nada bicara pria berkemeja tosca itu meninggi.
"Aku? Kurang ngerti apa aku selama ini, Bram? Kamu selingkuh berkali-kali, aku masih maafkan!" teriak si perempuan, sepertinya tak kalah emosi.
Pria itu menunjuk tepat di depan wajah pasangannya. "Itu juga gara-gara kamu, lonte!"
Tiba-tiba si pria mengambil meja kaca di area luar cafe. Membantingnya hingga menciptakan bunyi yang cukup keras.
Game over.
Tubuhku tak bisa lagi mentoleransi. Aku ambruk terduduk di aspal. Bayangan itu berkelebat memenuhi isi kepalaku. Suara, tempat, bahkan pakaian apa yang dikenakan saat itu, terlihat begitu jelas.
Kelima inderaku bukan lagi terfokus pada kejadian saat ini. Namun lima belas tahun lalu, kemudian secara acak melompat pada beberapa tahun berikutnya, berikutnya, dan berikutnya lagi.
Ingatan menyakitkan itu datang silih berganti. Sakit sekali.
Mataku memejam seiring dengan air mata yang jatuh bergulir melewati pipi. Tangan kiriku bergetar hebat. Aku sulit sekali bernapas. Setiap kucoba menghirup senyawa O2, sakit yang menusuk dadaku semakin nyata.
Pikiran buruk mulai menggelayutiku. Apakah aku akan mati sekarang? Semoga saja demikian. Sungguh, sakit ini teramat menyiksaku.
Tuhan, aku lelah ....
Lalu aku merasakan sepasang tangan yang menutup kedua telingaku. "It's okay, Kelana. Ada aku di sini."
Suara itu-- mana mungkin aku tak mengenalnya. Satu-satunya suara manusia yang tak pernah kubenci. Aksara.
Dengan sisa tenaga, aku mendongak. Hal pertama yang kulihat, yaitu wajah cemas Aksara. Tangisku pecah seketika.
"Aksara ... sakit," kataku dengan susah payah.
Sakit di seluruh tubuhku kian tak terkendali. Sepertinya aku sudah diambang batas kemampuanku bertahan.
Dan hal terakhir yang kuingat, Aksara memelukku seraya memanggil, "Kelana, Kelana, Kelana."
KAMU SEDANG MEMBACA
DEAR, AKSARA
Romance"Keinginanku sederhana. Menghabiskan waktu bersama Aksara sampai maut memisahkan. Aksara sudah seperti peta kehidupanku. Ke mana Aksara pergi, aku akan mengikuti tanpa ragu. Apapun pilihan Aksara, akan selalu jadi keputusanku." "Kalau kamu memberika...
