🦋

5 0 0
                                    

Stella Art High School adalah sekolah seni terbaik di kota ini. Bahkan beberapa aktor, pelukis, model, penyanyi ternama pernah bersekolah disini sebut saja Olivia Huma, Raka Adhitama, Arsa William, Adrian Surya, dan sebagainya. Namun rupanya tidak hanya artis yang pernah bersekolah disana. Beberapa CEO muda di kota ini rupanya pernah bersekolah disini misalnya Aksa Hartono, Kenzo Pranadipa, Madava Rajendra, dan sebagainya.

Stella sendiri memiliki makna bintang yang diambil dari bahasa Italia. Dimana beberapa bintang ternama lahir dari Stella Art High School.  Selain itu, Stella Art High School menjadi sekolah impian semua orang yang ada di kota itu bahkan ada juga yang dari luar kota. Semua bakat dan minatmu akan diwujudkan di Stella Art High School.

8 tahun lalu adalah tahun dimana angkatan terbaik lahir di sekolah itu..




🤍🍭🤍🍭🤍




Seorang pria berlari-lari kecil dengan nafas terengah-engah. "Heh, lo ngapain goblok!" menepuk keras pundak temannya.

"Apa?" acuhnya sembari menyebat rokok favoritnya.

"Dih, si bego! Hari ini tu MPLS nya adek kelas."

"Tau."

"Astaga Aksa, sumpah pengen gua tendang."

Aksa Nicholas Hartono adalah ketua OSIS sekaligus ketua geng  Axello. Ayahnya juga menjabat sebagai Direktur baru sekolah ini. Yap, seharusnya dia mengurus MPLS untuk adek kelasnya, tetapi dengan santai nya ia tetap menyebat rokoknya.

Putra yang sedari tadi frustasi karena ini tuh MPLS buat adek kelasnya bisa-bisanya dia santai dan kayak nggak peduli. Padahal kan dia pengen cari perhatian ke adek kelas. Siapa tau ada yang cantik kan ya..

Lantaran frustasi Putra pergi ke kantin meninggalkan Aksa.

"Put, gimana?" tanya Gavin.

"Ahhhh!! Nggak ngerti gue maksud dia apaan. Ketua OSIS kan harusnya yang ngurus beginian. Wakil Ketua OSIS itu harusnya duduk manis ya nggak?"

"Sulit sulit." Gavin memegang dagunya jadi ikut frustasi. Kayak aura frustasi dari Putra kesedot sama Gavin. Padahal tadi Gavin juga semangat soalnya bakal kenalan sama adek kelas yang cantik-cantik.

Karena nggak tau harus apa Gavin akhirnya memilih duduk. "Gue udah bosen godain kakak kelas. Berasa deketin janda, udah pada layu."

"Eh eh! Mulutnya mas dijaga dong" Putra nabok mulut Gavin tanpa rasa bersalah.

"Anj" protes Gavin, soalnya sakit ditabok gitu.

"Maksud anda bawa-bawa janda apa ya?" Putra duduk disebelah Gavin dan berlagak mengintrogasi Gavin.

"Em.. Maaf para janda. Maksud saya itu.." gugup Gavin.

"Meski janda tapi hebat bisa menghidupi diri sendiri dengan baik bahkan ada anak, mandiri, kerja keras." bangganya.

"Waduh, kok tau banyak ya?"

Nggak ada hujan nggak ada petir, tiba-tiba ada lemparan tas ransel dari belakang. Gavin dan Putra membalikkan badannya ke belakang.

"Bacot lo pada"

"LAH!?" Gavin tak terima. Nggak tau kenapa dia nggak terima aja, padahal kan emang bacot daritadi.

"Anjir tu anak, minta dirujakin tulangnya."

"Emang berani lo?" tanya Gavin pada Putra.

"Nggak."

Putra meninggalkan Gavin sendirian dan menyusul kepergian Aksa yang ngelempar tas seenak jidat kan sakit.

Gavin juga menyusul mereka dengan membawa tas ransel Aksa yang menjadi barang bukti kekerasan Aksa.



🤍🍭🤍🍭🤍



Seluruh peserta didik baru mengikuti MPLS di lapangan upacara. di Stella Art High School cuma menerima 200 siswa aja padahal yang daftar 2000 lebih.

"Panas banget asli. Ini kita udah 30 menit nungguin Ketua OSIS nya anjir ampun deh." keluh Mawar salah satu peserta didik baru.

"Skincare gueeee" heboh salah satu peserta didik baru yang berdiri disamping Mawar.

Mawar mendengar suara itu disampingnya nggak ragu buat kenalan. "Eh, nama lo siapa?"

Ia menoleh ke Mawar dan mengulurkan tangannya, "Amanda Rachel Gabriella. Panggil aja Rachel, Acel, Amanda, Gaby, anything. Tapi lebih sering dipanggil Acel sih hehe."

"Acel ya, gue Mawar." sembari membalas uluran tangan Acel.

"Ini ada besti gue sejak SMP." Mawar mengenalkan 2 sahabatnya sejak duduk di bangku SMP

"Hai, Amanda Rachel Gabriella." Acel mengulurkan tangannya.

"Hai juga! Gue Huma. Nama lo bagus deh." sembari membalas uluran tangan Acel

"Gue Jehanara panggil aja Jeje."

"Btw Jeje lo cantik banget. Hampir aja kagak inget gender gue." puji Acel pada Jeje

Jeje hanya tersenyum canggung. Soalnya dia kalo sama orang yang baru dikenal nggak bisa langsung akrab pasti lebih banyak diem.

"Eh, gue juga ada temen SMP sih disini tapi nggak tau wujudnya dimana." Acel jinjit sambil clingak-clinguk mencari keberadaan rekannya.

"Ya udah nggak papa nanti juga nongol." ucap Huma tersenyum pada Acel.

Emang ya Huma itu anaknya ramah banget gampang senyum. Bahkan sifatnya keibuan idaman deh pokoknya.

Berbeda dengan Mawar ia lebih emosi dan terkadang susah mengontrol emosinya. Bahaya deh pokoknya, untung bisa tenang kalo sama Huma dan Jeje.

"Ini siapa sih ketua OSIS nya. Kalo nggak ada kan bisa diganti wakil ketua OSIS nggak tahan gue panas banget ck." Mawar mulai kehilangan kesabarannya.

"Lo dibelakang gue aja, biar gue yang didepan. Jadi Lo bisa ketutupan gue." ucap Huma.

"Tinggian gue Huma cantikkk." gemas Mawar.

Kesabaran Mawar kini sudah dipuncak. "Nggak bisa anjir, gue harus samperin itu orang belagu banget asli! Nggak tau waktu mentang-mentang Ketua OSIS."

Mawar berlari melewati belakang barisan, kalo didepan barisan kan malu diliat anak-anak yang lain.

Dengan emosi memuncak dan keringat bercucuran karena kepanasan Mawar berlari dengan mengepalkan tangannya.

Brukk!!

Tbc.

Stella AHSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang