[SFN] - About Us 1.1

1.1K 90 11
                                    

Menikah dan hidup bahagia dengan orang yang dicintai pada umumnya adalah impian setiap insan. Tidak ada orang yang tak ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang tak harmonis. Namun, tak ada juga kehidupan rumah tangga yang berjalan mulus tanpa masalah.

Naruto bahagia bisa menjadi seorang istri, mengarungi lembaran hidup baru bersama orang yang dia cintai. Akan tetapi, di sisi semua kebahagiaan itu, Naruto juga harus bersabar dalam menghadapi setiap permasalahan.

"Bagaimana hasilnya?"

Naruto melirik Sasuke. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Mikoto; sang ibu mertua.

"Negatif." Suara Naruto mengalun lirih setelah sebuah genggaman lembut Sasuke berikan pada salah satu tangannya.

"Lagi-lagi!?" Mikoto menghela napas kasar seraya memberi pijatan kuat pada dahi, seolah dia telah merasa sangat pening mendengar jawaban Naruto.

Sasuke menguatkan genggaman ketika Mikoto berdiri dan menatap mereka dengan jengkel.

"Berusahalah lebih keras lagi! Kau tidak mandul, 'kan!?"

Dada Naruto terasa menyempit. Telah satu tahun dia menikah dengan Sasuke. Selama itu pula dia berusaha sabar dalam menghadapi sikap sang ibu mertua. Namun, hatinya tetap sulit untuk terbiasa menerima luka. Ucapan Mikoto selalu saja terasa sangat menyakitkan, terutama bila sudah membahas perihal kehamilan.

"Kami akan berusaha." Sasuke yang menyahut setelah beberapa saat tak kunjung ada tanggapan dari istrinya atas ucapan sang ibu.

Tidak. Naruto bukan tak ingin menanggapi. Naruto hanya bingung harus melontarkan kalimat seperti apa. Karena setiap kali Naruto berbicara, Mikoto seperti enggan menerima. Padahal dia dan Sasuke juga selalu berusaha keras untuk bisa memiliki anak demi menyempurnakan kehidupan rumah tangganya.

Mikoto berdecak kesal melihat Naruto yang masih membisu. "Jika sebelumnya aku tahu kau sulit hamil, aku tidak akan pernah memberi restu untuk pernikahan kalian!"

Kalimat itu bagai sebuah panah yang menancap kuat di hati Naruto. Tetapi, Mikoto tak pernah mempedulikan perasaan sang menantu, karena dia merasa bahwa dia hanya berucap apa adanya.

Tanpa perasaan bersalah, Mikoto berlalu pergi dari kediaman sang anak. Sedangkan di dalam rumah, Naruto masih mematung dengan kesedihan yang kali ini tak mampu dia sembunyikan.

"Kenapa kau diam saja?"

Sasuke menatapnya heran. "Apa?"

"Kenapa kau hanya diam saat Ibu berbicara seperti itu padaku?" Naruto yang semula menunduk, kini menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca. "Bukankah ucapan Ibu sudah keterlaluan?"

"Memang aku harus bagaimana!?" Dahi Sasuke mulai berkerut, kentara akan ekspresi tak suka. Intonasi suara pun tak terdengar lembut seperti semula. "Melawannya!?"

"Setidaknya kau membelaku, Sas." Naruto masih berusaha menahan tangis.

Memang tidak ada pilihan lain dari bersabar dalam menghadapi sikap Mikoto. Akan tetapi, Naruto tak ingin menelan kepahitan ini seorang diri. Sejak awal, Sasuke tak pernah sekali pun membela dirinya di hadapan Mikoto. Sasuke selalu diam, berubah menjadi manusia bisu bila sang istri mendapat perlakuan tak menyenangkan dari ibundanya.

Pernah ada dua orang yang tak pernah bosan menenangkan hati Naruto bila sudah berhadapan dengan Mikoto. Orang itu adalah Fugaku; ayah Sasuke dan Shizune; kakak Sasuke. Tetapi, empat bulan lalu Fugaku meninggal karena sakit keras yang dideritanya. Sedangkan Shizune tak menetap di kediaman Uchiha sehingga kini tidak ada seorang pun dari keluarga Uchiha terdekat yang berpihak pada Naruto.

SHORT STORY COLLECTION | Uchiha × (Fem) NarutoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang