[SFN] - About Us 1.3

578 66 21
                                    

"Aku bukan tidak kasihan. Aku bukan tak merasa iba." Naruto meraih satu tangan Sasuke yang jari manisnya tersemat cincin pernikahan, menggenggamnya kuat namun juga sedikit bergetar. "Aku hanya... berusaha mempertahankan keharmonisan rumah tangga kita. Aku hanya berusaha tetap menggenggam apa yang memang milikku. Apa aku salah?"

Mikoto mendengkus mendengar penuturan Naruto. "Keharmonisan? Kau pikir, kehidupan rumah tangga tanpa anak termasuk ke dalam keharmonisan?"

" .... " Naruto menahan ucapan. Sebab dia sadar,  jika dia membalas perkataan Mikoto maka suasana di antara mereka akan semakin tidak bagus.

Sasuke balas menggenggam seraya ikut terduduk. "Aku tahu, ini berat untukmu. Tapi, bisakah kau mempertimbangkan lagi?" tuturnya membuat sepasang safir Naruto membola tak percaya akan sikap Sasuke yang terus mendesaknya untuk ke sekian kali.

"Aku tidak perlu mempertimbangkannya dua kali." Suara Naruto terdengar rendah, namun tegas.

Sakura tampak menipiskan bibir.

Sasuke melirik Sakura yang masih duduk di hadapan mereka dengan wajah penuh perasaan sendu sebelum kembali menatap sang istri. "Naru, kumohon."

Cukup lama Naruto terdiam sampai akhirnya pandangan dia menunduk, tak lagi menatap siapapun. "Sasuke, seharusnya kau lebih menghargai perasaanku, bukan?"

Mikoto membuang napas kasar. "Kupikir karena kau juga seorang wanita, kau mampu memahami dia. Tapi, sedikitpun kau tidak memiliki rasa iba."

"Kalau begitu ..." Naruto berdiri, menatap sang ibu mertua dengan mata yang basah. "..., kalau begitu coba Ibu bayangkan. Bagaimana bila saat Ayah Fuga masih hidup dan Ibu berada di posisiku saat ini? Didesak agar memberi izin suami untuk menikahi wanita lain. Apa Ibu bersedia? Apa Ibu akan mengizinkan? Apa Ibu akan rela melihat Ayah hidup bersama wanita lain? Apa--"

"Naru!" Suara Sasuke terdengar tinggi, dia ikut berdiri. Keningnya berkerut tak suka.

"Jadi, bagaimana Ibu? Apa jawabanmu?" Naruto tak mengindahkan sang suami yang mulai ikut tersulut emosi karena ucapannya. Dia tetap teguh menatap Mikoto. "Apa mudah bagimu untuk menerima semua i--"

Naruto terbungkam oleh sebuah tamparan yang cukup kuat hingga keheningan pun menyelimuti mereka dalam seketika.

Wajah Mikoto memerah penuh amarah. Tangan yang semula dia gunakan menampar Naruto kini mengepal erat. "Kau. Berani sekali kau mengatakan itu padaku!"

Sakura bergeming. Tak dia duga Mikoto akan memberi tamparan telak pada menantunya. Sedangkan Sasuke sendiri hanya diam dengan ekspresi tak suka yang masih kentara. Bukan tak suka akan perlakuan sang ibu, melainkan tak suka karena ucapan Naruto kepada sang ibunda.

"Ah, maaf bila ucapanku terkesan tidak sopan." Naruto tampak tegar walau sebelah pipinya telah memar. "Aku hanya ingin Ibu memahami perasaanku sebagai seorang istri. Aku--"

"Cukup, Naru." Rahang Sasuke mengeras disertai tatapan tajam. "Jangan berbicara lagi."

Sorot mata Naruto mulai meredup. Dia tak lagi menatap siapapun.

Sasuke menghela napas. "Pulanglah," pintanya pada sang ibu dan Sakura. "Kurasa pembicaraan kita cukup sampai di sini."

Raut wajah Sakura terlihat cemas. Dia menggeleng tak setuju. "Tapi, Sasu ..."

Tanpa diketahui Naruto, Sakura meraih satu tangan Sasuke, menggenggamnya cukup erat. "Sasu," Dia memelas lagi.

Sasuke membalas genggaman Sakura dan mengelus punggung tangannya dengan lembut. "Ini sudah malam. Pulanglah."

Paham dengan bahasa tubuh yang Sasuke beri, Sakura pun dengan berat hati meninggalkan mereka, menyusul langkah Mikoto yang sudah lebih dulu memasuki mobil.

SHORT STORY COLLECTION | Uchiha × (Fem) NarutoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang