13. ❤ Rumah Yang Terlupakan ❤

451 131 55
                                    

Vote and comment, please! ♥️

***



Seorang bocah lelaki berjalan dengan meraba dinding, ia berjalan tak tentu arah. Entah di mana kini ia berada? Ia hanya sedang kesal dengan kakaknya makanya ia keluar dari mobil dan berjalan ke sembarang arah. Hanya gelap di matanya, ia tak dapat melihat apa pun. Bocah lelaki berusia sebelas tahun itu telah mengalami kebutaan akibat benturan hebat di kepalanya pasca kecelakaan yang ia alami setahun yang lalu.

Ia terus berjalan dengan tangan meraba.

Brukkk!

"Akhhh!" Ia menjerit kesakitan, ia jatuh tersungkur setelah menabrak sesuatu.

Dari arah berlawanan, dua orang bocah seusianya berlari sepanjang trotoar jalan, si gadis kecil tertinggal jauh di belakang sedangkan anak lelaki yang bertubuh kurus melesat cepat di depan sambil sesekali menoleh dan mengejek temannya.

"Myth tunggu aku, kau tidak boleh berbuat curang!" Jerit anak gadis di belakang sana.

Tapi anak lelaki itu justru menemukan sesuatu yang membuatnya memelankan larinya, "Kau terjatuh?" Ia benar-benar menghentikan larinya ketika menyadari seseorang seusia dirinya jatuh tersungkur di depannya.

"Sakit, Eomma ... hiks ...." anak di depannya meringis dan mulai terisak.

Bocah satunya menatap dalam diam, ia melihat anak di depannya nampak meraba-raba, tatapan matanya tak terfokus.

"Kau tidak bisa melihat?" Ia bertanya.

"Aku mau Eomma, carikan Eomma!" Anak di depannya mulai meraung.

Anak yang lebih kecil mendekat, ia mengulurkan lengan kurusnya untuk membantu anak yang kini menangis itu untuk berdiri, "mari kubantu, apa kau kehilangan ibumu?"

"Iya, kau tahu di mana Eomma?" Anak yang terjatuh kini bertanya.

"Aku tidak tahu, tapi aku akan membantumu mencarinya." Anak itu menuntun teman barunya untuk duduk di sebuah bangku taman.

"Helena, bisakah kita membantunya untuk menemukan ibunya?" Anak itu bertanya ketika teman gadisnya sudah tiba di depannya.

"Di mana kita mencarinya?" Anak gadis itu bertanya.

"Aku mau Eomma, aku kehilangan Eomma, huweeee!"

"Cup-cup ... kau jangan menangis, kita akan segera menemukan ibumu." Anak yang tubuhnya lebih kecil kini menggenggam tangan anak yang nampak menangis ketakutan, ia juga mengusap air matanya, "jangan takut, kami akan menemanimu sampai kau bertemu ibumu." Ucapnya berusaha menenangkan.

Meskipun masih kecil tapi anak itu mengerti seperti apa rasanya kehilangan orang tua. Ia sudah tak punya ayah dan ibu tapi setidaknya ia punya nenek dan kedua matanya bisa melihat, sedangkan anak yang kini terisak di dalam pelukannya ini kehilangan ibunya dan sedihnya lagi ia tak bisa melihat.

Setelah beberapa saat tangisan anak itu mereda, kedua bocah lainnya sepakat untuk membawanya menyusuri trotoar jalanan, berharap mereka bisa menemukan keluarga anak ini. Anak yang lebih kecil menuntun anak yang mengalami kebutaan sedangkan si gadis kecil berjalan di depan mereka.

"Myth di depan sana ada mobil dan beberapa orang, kau lihat?" gadis kecil di sana berseru, tanpa sempat temannya menjawab ia telah berlari menuju ke arah orang-orang yang nampak sedang mencari-cari sesuatu itu.

Feels Like HomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang