*****
"Aku berharap kunang-kunang benar adalah jelmaan orang yang telah meninggal."
"Juan, apa kau tahu seperti apa rasanya merindukan sesuatu yang sudah tak ada lagi?"
"Aku tak tahu seperti apa itu tapi aku tahu rasanya merindukan seseorang yang bahkan belum sepenuhnya kukenal."
Myth berjalan tenang keluar dari ruangan staf, hari sudah sore ketika ia melangkah untuk pulang. Hari ini adalah perkenalan untuk wakil direktur yang baru dan orang itu adalah Juan Kim, putera bungsu dari Tuan Kim sendiri. Seisi kantor kasak-kusuk sejak pagi sampai jam pulang, para gadis sibuk bergosip tentang pangeran tampan yang telah bertunangan tersebut.
Myth lebih memilih diam karena ia sendiri tak tahu harus berkata apa, meskipun beberapa waktu ia dekat dengan Juan, tapi ia tak tahu apa yang dirasakannya. Juan serupa Levan, tapi mereka orang yang berbeda. Myth dapat merasakannya.
Tapi kemiripan mereka yang identik membuat Myth merasakan kerinduan itu semakin besar. Rasanya seluruh rongga dadanya hanya diisi dengan sebuah kata yang namanya rindu.
Myth keluar dari lobby, berjalan menuju stasiun terdekat saat sebuah mobil mewah berhenti tepat di sisinya. Kaca jendela mobil diturunkan dan wajah tampan Jesse Kimlah yang muncul.
"Myth, kau akan pulang?" Jesse bertanya dari dalam, Myth sesaat terdiam, mengamati wajah lelaki tampan itu dan kemudian mengangguk sopan.
"Masuklah, Myth. Kuantar kau pulang."
Pintu mobil terbuka dari dalam, Myth terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napasnya dan masuk ke dalam mobil kemudian. Duduk di sisi Jesse Kim yang nampak serius mengemudi, Myth juga lebih memilih diam.Suasana hanya hening sampai mobil mewah itu berhenti tepat di depan rumah Myth, pemuda berparas manis itu akan keluar kala lengan kurusnya ditahan oleh pria tampan itu.
"Myth, bisa kita bicara sebentar?"
Jesse menatap wajahnya dengan pandangan memohon.Myth merasa ini sungguh situasi yang tidak nyaman, meskipun Jesse adalah orang baik namun Myth merasa ini sungguh tidak pantas untuknya.
"Ada apa, Direktur?" Myth mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil, memilih memberi kesempatan pria tampan ini untuk berbicara.
"Sebenarnya, aku ingin membicarakan ini dengan situasi yang berbeda tapi ...."
Jesse terdiam sejenak, menatap wajah Myth dengan tatapan lembut."Aku menyukaimu Myth, ah-aku jatuh cinta padamu sejak jauh hari."
Deggg!
Akhirnya kalimat keramat itu terucap, Myth terkejut meskipun ia sudah tahu akan seperti ini pada suatu ketika. Bukan karena rasa percaya dirinya terlalu tinggi tapi karena Myth memang sudah tahu itu sejak awal ia mengenal pria ini. Ia tahu jika Jesse selalu menatap berbeda pada dirinya, ia tahu kalau Jesse memberi perhatian lebih padanya. Myth bukan anak balita kemarin sore yang tidak mengerti gelagat khusus seseorang terhadap dirinya. Tapi ia tetap terkejut kala kalimat itu akhirnya terucap.
"Maukah kau jadi kekasihku?"
Myth refleks menatap tepat di sepasang mata sipit namun mempesona itu. Menemukan wajah tirus laksana tokoh anime itu berkespresi penuh permohonan padanya.
Tak ada yang salah sesungguhnya, Jesse berhak menyukainya. Jesse berhak menyatakan perasaannya, Jesse itu pria single demikian juga Myth. Masalahnya adalah Myth tak bisa menerima siapa pun saat ini, hatinya membeku dan terkubur bersama jasad Levan di sana, entah di mana itu.
"Aku tahu ini terdengar begitu cepat, tapi aku telah memendamnya selama empat tahun, Myth. Kupikir aku bisa gila jika aku menahannya lebih lama lagi."
Dada Myth sesak. Ia tak tahu harus menjawab apa?

KAMU SEDANG MEMBACA
Feels Like Home
FanficKonon dari 7,954 miliar penduduk bumi, hanya 1 dari 135 orang yang memiliki doppelganger atau kembaran yang tak terikat hubungan darah. Bagaimana jika Myth yang tak bisa melupakan mendiang kekasihnya yang telah meninggal 5 tahun silam bertemu dengan...