2- MPLS

154 13 0
                                    

Salawat Tarhim sudah terdengar pertanda adzan subuh hendak dikumandangkan. Ada beberapa santri yang sudah mandi, bahkan sudah berada di masjid.

Para ustadzah maupun ustadz sedang berpatroli membangunkan para santri yang masih terlelap tidur. Bagi santri yang susah dibangunkan, akan di kasih cipratan air bahkan ada yang kena guyuran. Meski terbilang sangat tega, tapi itu para pengurus membuat para santri agar terbiasa bangun sebelum adzan subuh berkumandang.

Azkia sudah bangun dari 5 menit yang lalu. Gadis itu sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh. Bahkan dari kelas 7 belum ada ustadzah yang membangunkannya. Azkia mengambil jilbab instan dari gantungan baju, memakainya dengan cepat. Peralatan mandi yang berada di gayung ia ambil, lalu bergegas keluar kamar.

Kamar mandi masih terlihat lenggang. Cuman ada beberapa santri saja yang mandi. Azkia mengantri di depan pintu, sambil menunggu Azkia muraja'ah sebentar. Melatih hafalannya supaya semakin lancar.

Adzan subuh berkumandang keseluruhan desa. Pintu bilik itu terbuka, Azkia masuk ke dalamnya setelah mbak mbak keluar. Tapi sebelum itu Azkia menyempatkan membaca doa masuk kamar mandi.

***

“Bangun bangun! Rek Tangi rek wes subuh,”

Brak brak

Beberapa pengurus dan ustadzah mencoba membantu membangunkan para santri, dengan sesekali menggebrak pintu.

Zahro mengerjapkan mata. Retinanya menyipit kala lampu kamar dinyalakan. Sayup-sayup suara adzan subuh bercampur suara pengurus yang tengah membangunkan para santri, masuk ke alat pendengarannya.

Zahro menggeliat sebentar. Badannya terasa kaku. Setelah dirasa puas, Zahro bangun lalu duduk sambil menatap teman-temannya yang kini sudah pada bersiap untuk ke masjid.

Udara begitu sejuk di pagi ini. Zahro jadi malas untuk mandi, jadi dia putuskan untuk mandi setelah matahari berada di atas kepala. Ya walaupun sudah bisa dia pastikan bahwa dirinya akan mengantri lama.

Aqilla yang sedang memakai mukenah menatap Zahro yang baru saja kembali setelah mengambil wudhu. “Zahro kamu enggak mandi?”

Zahro menggeleng. “Engko ae. Anyep soale." Balasnya seraya memakai mukenanya.

Aqilla mengangguk. "Yaudah yuk ke masjid bareng. Yang lain baru saja berangkat,"

Mereka berjalan beriringan menuju masjid. Suasana masjid sudah ramai penuh orang. Lagi-lagi mereka kebagian shaf paling belakang. Aqilla mendesah pelan. Jujur saja dirinya tidak terlalu suka berada shaf paling belakang, dia lebih suka shaf paling depan. Karena itu akan membuat sholatnya lebih khusyuk. Tapi mau bagaimana lagi?

Iqomah berkumandang nyaring. Imam mengucapkan takbir. Sholat subuh berjalan dengan khidmat. Zahro mengikuti bacaan imam dengan sesekali menguap. Matanya masih mengantuk.

2 raka'at akhirnya selesai. Selesai salam, dilanjutkan dengan witir. Zahro segera bergegas menuju asrama dengan mukenah masih ia kenakan. Gadis itu bergegas dengan cepat meninggalkan teman-temannya yang masih mengobrol di masjid.

Tujuannya sekarang ialah kamar mandi. Zahro menghela nafas pelan. Benar dugaannya, kamar mandi sudah penuh bahkan mengantri panjang.

Mengantri adalah momen paling menyebalkan bagi Zahro. Dia adalah gadis pemilik stok sabar sedikit, dan kini kesabarannya telah diuji.

Matahari sudah berada sempurna di atas kepala. Sekitar 2 jam Zahro mengantri, akhirnya bagian dirinya mandi datang juga.

Zahro dengan cepat masuk ke dalam bilik. Dia mandi begitu cepat, karena takut telat ke sekolah untuk pertama kalinya.

***

Bel sekolah berbunyi. Semua kelas 10 dikumpulkan di aula untuk mengikuti kegiatan MPLS yang akan dibimbing oleh guru.

Kegiatan MPLS seharusnya seru, namun bagi Zahro kegiatan ini begitu membosankan karena tidak ada lawan jenis untuk digunakan sebagai cuci mata.

Sekolah untuk Akhwat dan Ikhwan dipisahkan. SMA Cahaya untuk Akhwat, sedangkan SMA Cahya untuk Ikhwan.

Mata Zahro mengantuk mendengar sambutan dari pimpinan sekolah yang begitu lama. Sesekali Elvina menegur gadis itu agar tetap terjaga, namun Zahro tidak peduli. Dia sudah berusaha membuat matanya tetap melek namun ternyata susah.

Zahro, Aqilla, Elvina, dan Friska mereka satu sekolahan. Sedangkan Azkia dan Hasya mereka sekolah Salaf jadi beda sekolahan.

“Zahr tangi, disawang mbak OSIS Iki lho," kata Friska mencoba membangunkan Zahro yang tengah mengantuk.

Zahro dengan susah paya membuka matanya yang terasa berat. “Eh rek, antar aku cuci muka yuk," pintanya menatap teman barunya. Semoga saja salah satu dari mereka yang bersedia mengantarkannya.

Mendengar perkataan dari Zahro, mata Friska langsung cerah. "Sama aku aja yok!" Tentu saja gadis itu dengan semangat. Dengan mengantar Zahro ke kamar mandi sama saja dengan dirinya jalan-jalan.

"Mending sama aku aja. Soalnya aku pengen buang air kecil,"

Friska mendesah pelan. Keinginannya pupus, ketika Aqilla berbicara ingin buang air kecil.

Melihat wajah kusut temannya, Elvina menepuk paha temannya bertujuan mengasih pengertian. "Sudahlah, kagak usah ditekuk juga tuh muka."

Setelah mendapatkan izin dari OSIS, Zahro dan Aqilla segera pergi dengan dikasih arahan dimana letak toiletnya.

Selama perjalanan tidak ada yang membuka suara. Sama-sama dari mereka enggan untuk membuka obrolan. Aqilla yang terbiasa diam, dan Zahro yang gengsi.

Toilet sudah didepan mata. Mereka segera bergegas masuk ke dalam. Zahro mencuci wajahnya di wastafel, sedangkan Aqilla tadi izin buang air besar tidak jadi hanya buang air kecil.

Setelah dirasa cukup, Zahro keliling sebentar selagi menunggu Aqilla menuntaskan hajatnya.

Jantung Zahro berpacu cepat kala matanya tidak sengaja melihat ada kakak kelas yang sedang membully. Kejadiannya ada bilik pojok toilet.

Ingin sekali rasanya Zahro menolong gadis malang itu, tapi dirinya tidak punya nyali. Gadis yang mereka bully sudah begitu mengenaskan. Seragam sudah acak, jilbab sudah terlepas, rambut dijambak dengan bruntal, dan ditendang.

Zahro melihat itu gemetaran sendiri. Ia mengingat kejadian dimana waktu Mts pernah menjadi korban bullying. Maka dari itu dia tidak berniat untuk ikut campur, takut malah dirinya akan menjadi sasaran bully selanjutnya.

Salah satu kakak kelas yang melihat Zahro menatap ke arah dirinya dan teman-temannya, mata kakak kelas itu menatap tajam Zahro dengan gerakan tangan mengancam.

Ceklek

Aqilla keluar dari bilik. Zahro segera mengajak Aqilla pergi dari sana. Aqilla tanpa pikir panjang mengikuti Zahro, gadis itu tidak melihat aksi pembullyan itu.

Pikiran Zahro terngiang-ngiang wajah meminta tolong korban bully itu saat menatapnya. Ingin sekali ia melaporkan tindakan para bullying itu, dan menolong gadis malang itu. Namun itu hanya tercekat dalam tenggorokan.

Katakanlah bahwa Zahro memang pengecut. Tapi kalau kalian jadi Zahro apa yang kalian akan lakukan? Menolong atau tutup mulut? Menolong dengan ancaman menjadi korban selanjutnya, atau tutup mulut akan dihantui rasa bersalah?

Aqilla yang melihat temannya melamun, memutuskan untuk menyadarkan. "Kamu kenapa Zahr?"

Zahro tersenyum kikuk. "Ndak apa-apa kok."

T O B E C O N T I N U E D
Sabtu, 6 Agustus 2022

ZahroTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang