5

540 44 4
                                    

***

Kim Jisoo tertawa terbahak-bahak saat ia mendengar cerita Jiyong. Pria itu berkunjung ke rumahnya malam ini. Belum lama sejak ia kembali dari New York dan pengalaman mengejutkan sudah terjadi padanya. "Ini semua karena kau pindah," katanya, mengeluh pada gadis yang malam ini sedang mewarnai kuku kakinya sementara Jiyong bertamu untuk beberapa mangkuk nasi.

"Sejak kau pindah rumah, semuanya berantakan," susulnya. "Daesung terpeleset dan hampir tenggelam di kolam renang-"

"Aku sudah bilang kan kalau lantai di sekitar kolam renangmu itu licin?" potong Jisoo. "Rasanya aku sudah ratusan kali mengatakannya. Biasanya Seungri oppa yang terpeleset di sana. Dia baru mendengarkanku setelah aku pergi? Cih!"

"Seungri diare, karena minum susu kadaluarsa. Karenamu juga, karena kau pindah dan kami tidak tahu kalau susunya kadaluarsa," Jiyong tidak menyerah begitu saja.

"Aku ragu itu kadaluarsa. Biasanya Daesung oppa yang lupa menutup lagi tutup susunya. Jadi susunya basi," santai Jisoo.

"Hhh... Lalu sekarang karpetku terbakar," keluh Jiyong.

"Sudah berapa kali aku bilang jangan merokok sambil tidur? Hanya oppa, orang yang tertidur saat merokok."

"Aku lelah, sangat kelelahan setelah kembali dari New York lalu tiba-tiba diajak berkencan oleh pria! Mentalku tidak bisa mengatasinya! Augh! Aku hampir memukul orang karenanya! Putuskan saja kekasihmu itu, aku yakin aku bisa lebih baik darinya, tolong pertimbangkan perasaanku— bagaimana bisa ada orang yang sangat percaya diri seperti itu? Darimana dia dapat kepercayaan dirinya itu?" cerita Jiyong, dengan mulut penuh nasi juga lauk yang Jisoo berikan padanya. "Tapi tinggal di dekat ibumu tidak buruk, masakannya enak. Ibumu tidak ingin membuka restoran saja?"

Jisoo hanya tertawa. Ia tanggapi cerita temannya itu dengan tawa renyah khasnya, sampai suara dering handphone terdengar dan menginterupsinya. "Kekasihku, tutup mulutmu," suruh Jisoo, sementara ia menghentikan kegiatannya untuk menjawab panggilan itu.

"Nona Tokyo! Kapan season dua-nya tayang? Aku tidak bisa menunggu terlalu lama! Aku butuh lebih banyak scene Danver dan Misun!" seru Jiyong, menjahili Jisoo yang langsung melemparkan tutup cat kukunya, membuat benda kecil berwarna hitam itu mengenai dahi Jiyong kemudian jatuh ke dalam mangkuk nasinya. "Ya! Sialan Kim Jisoo!" kesal Jiyong kemudian.

"Jangan dengarkan dia. Dia hanya gelandang yang minta diberi makan," kata Jisoo, bicara pada seseorang di panggilannya. Dengan berhati-hati, gadis itu kemudian turun dari kursinya, melangkah perlahan meninggalkan Jiyong setelah ia berpesan agar Jiyong mencuci piringnya sebelum pergi.

Sementara Jiyong sibuk beradaptasi dengan kepergian Jisoo dari rumahnya, membuat hari-harinya terasa sangat kacau seolah ia kehilangan seorang ibu dari rumahnya, Lisa pun merasa sangat tidak nyaman karena ketidakhadirannya. Apa dia benar-benar marah dan berhenti jadi managerku sekarang? Kenapa dia tidak datang ke lokasi syutingku? Kenapa dia tidak muncul di lokasi pemotretanku? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku? Kenapa dia tidak mengirimiku pesan? Dia tidak lagi mengingatkan jadwalku. Kenapa dia tiba-tiba pergi dariku?— semua pertanyaan itu mengganggunya, membuat ia kehilangan setengah tenaganya.

Hari berubah jadi minggu dan minggu berubah jadi bulan, pesan yang Jiyong kirim untuknya bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya. Pria itu hanya memberitahu Lisa jadwalnya selama satu pekan, merevisi jadwal itu kalau Lisa keberatan dan mengirimkan kembali hasil revisinya. Selebihnya mereka berkomunikasi lewat Jihoon. Jiyong menghubungi Jihoon dan pria itu yang menyampaikan pesannya pada Lisa. Karenanya, tidak ada pesan-pesan pribadi. Semua pesan yang Jiyong titip pada Jihoon hanya sebatas pesan-pesan pekerjaan. Dia benar-benar marah— yakin Lisa.

Short Story - The ManagerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang