SEBATANG COKELAT DAN SURAT

22 10 0
                                    

Aku berdiri di sini. Mengamatinya dari bawah pohon rindang yang tidak jauh darinya. Dia tidak menyadari keberadaanku. Bisa aku lihat wajahnya yang terlihat serius menulis rangkaian kata di kertas itu. Ia menulis surat. Angin berhembus menerbangkan helaian rambutnya. Sesekali, ia menghapus air mata yang siap jatuh kapan saja. Setelah itu, ia bangkit dari posisinya. Ia meninggalkan surat itu beserta sebatang cokelat di sana. Ia tersenyum dan meninggalkannya.

Setelah kepergiannya, aku berjalan ke tempat di mana ia meninggalkan surat dan sebatang cokelat itu. Aku mengambil surat itu dan membacanya.

•••

Untukmu, Kevin.

Kevin, saat aku tulis surat ini, suasana di sekelilingku sepi. Aku tidak menyangka kamu merasakan ini setiap harinya. Sebagai perempuan, aku merasa tidak berguna karena tidak bisa menemanimu setiap hari. Seharusnya, aku bisa menemanimu. Aku menyesal. Maafkan aku, ya, Kevin.

Kevin, aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Aku senang karena aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di Australia. Aku akan mengabulkan satu permintaanmu, memiliki rumah di Australia. Aku akan pergi ke sana dan akan mengabulkannya. Aku berharap, kamu menyukainya meskipun kamu tidak bersamaku.

Kevin, beberapa hari yang lalu, Kak Kenzi mengatakan bahwa ia menyukaiku dan memberikanku sebuah buket bunga. Tapi, aku mengatakan jika aku menganggapnya sebagai seorang kakak. Dan untuk buket bunganya, aku tidak menerimanya karena aku alergi serbuk bunga. Berbeda denganmu yang memberikanku sebatang cokelat.

Lihat, Vin! Senja. Waktu favorit kita. Kita menghabiskan waktu saat senja. Menatap indahnya langit dengan semburat jingga. Aku ingat, kau menyatakan perasaanmu saat senja. Semua itu hanyalah kenangan indah. Tapi, Vin, itu akan membekas juga dengan indah.

Vin, sudah saatnya aku pulang. Terima kasih untuk semuanya. Seperti biasa, aku tinggalkan surat dengan sebatang cokelat. Sampai jumpa, Kevin.

-Karin-

•••

Setelah membacanya, aku melirik nisan yang bertuliskan nama adikku di sana, Widjaja Kevin.

“Aku mundur, Karin.”

DUNIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang