Sabrina masih menatapku tidak percaya, aku menghela nafas.
"Ayolah Saby kita tidak punya banyak waktu, dia akan sadar sebentar lagi." Ujarku sambil menunjuk pria hitam itu.
Sabrina berdiri masih bingung sambil menatapku, aku menyodorkan jaketku padanya, dia meraih dan memakainya. Kuserahkan kunci kamarku padanya.
"Pergilah, tunggu aku di sana." Kataku seraya mendorong Sabrina keluar dari kamar.
Aku menaikkan pria hitam ini dengan susah payah ke atas ranjang, efek obat biusnya akan segera hilang, setelah memastikan semua beres aku mendorong troli keluar dari kamar.
Di lorong terjadi keributan aku melihat pria yang kugoda sedang panik, kamarnya terbuka lebar dengan tenang aku mendorong troli menjauhi kamar menuju kamarku.
Ting.
Suara lift aku melangkah keluar dari lift, troli aku tinggalkan di dalam lift. Setelah memastikan bahwa aku tidak diikuti akupun menempelkan kartu di pintu kamarku. Terlihat Sabrina sedang duduk melamun di depan meja rias.
"Saby.." Tegurku.
Sabrina menoleh padaku, aku tersenyum lalu membuka topengku dengan cara melepasnya dari bagian bawah leherku dengan hati-hati. Bahannya benar-benar lengket dikulit wajahku. Sabrina ternganga melihatku. Aku menaikkan sebelah alisku, tersenyum miring.
"Penyamaran yang hebatkan?" Ujarku menyeringai.
Dia mengangguk. Aku menggeser bangku ke depan Sabrina. Kugenggam tangannya erat.
"Apa yang terjadi Saby? Kenapa kau di sini?" Tanyaku.
Sabrina menunduk lesu.
"Seseorang menculikku satu minggu yang lalu saat aku akan pergi bekerja, aku disekap dan diperkosa bergantian, setelah itu mereka membawaku ke negeri ini 2 hari yang lalu." Ujarnya paruh.
Aku terhenyak, Ya Tuhan.
"Apa Hans yang menyekapmu Saby?" Tanyaku.
Sabrina menggeleng frustasi.
"Aku tidak tau Bu." Jawabnya pelan.
Dia terisak, ponselku bergetar.
Prof. Alex calling.
"Ya Prof. "
"Misi sudah selesai, segera turun." Ujarnya.
"Siapkan satu Paspor wanita, Prof. " Kataku tegas.
Hening.
"Kita tidak bisa membawanya Sleeper." Katanya sambil menghela nafas.
"Kalo dia tidak bisa ikut maka akupun tidak akan pulang Prof!!!" Jawabku tegas.
"Keras kepala."
"Aku masih memegang dokumennya Prof, jika Saby tidak bisa ikut pulang bersama kita, aku pastikan dokumen ini akan lenyap." Ujarku sambil menyeringai.
Suara hela nafas di seberang.
"Kau mengancamku Sleeper."
"Huh tentu tidak Prof aku hanya bernegosiasi." Jawabku santai.
Suara hela nafas lagi.
"Baiklah kau bisa membawanya tetapi gadis itu tanggung jawabmu sepenuhnya Sleeper."
"Ay Ay Sir..." Jawabku sambil tertawa.
Dengan tergesa kami turun ke lantai bawah hotel ini. Ketika melewati lobi aku menghindari kerumunan sekelompok orang yang sibuk dengan pria yang kugoda.
Perjalanan dari Genting dengan mobil membuatku teringat curamnya Puncak. Pernah terjadi kecelakaan di jalan ini. Kukemudikan Proton Sport berwarna putih dengan plat nomer unik ini.
Bandara King Abdul Aziz. Setelah melewati bagian imigrasi akhirnya kami bisa duduk dengan tenang di atas Jet pribadi. Entah berapa lama aku tertidur setelah lepas landas, tepukan di tanganku membuatku terjaga.
Prof. Alex menatapku dengan tajam. Aku membetulkan dudukku, menyeringai menang.
"Berikan aku dokumennya." Katanya.
Aku melipat tanganku, "Aku mau melanjutkannya Prof."
Prof. Alex terbelalak. Dengan gusar dia bertolak pinggang.
"Cukup untuk tugas ini Sleeper, aku hanya mengujimu."
"Bukankah belum semua terungkap Prof?"
"Dokumen ditanganku hanyalah awal dari semua rentetan pembuka pintu." Ujarku sambil menyilangkan kaki.
"Itu benar, tetapi harus diingat bahwa sekarang kau membawa dia." Tunjuk Prof pada Sabrina yang duduk disebelahku.
Aku tersenyum miring, "Dia akan berguna Prof, percaya padaku."
Kulirik Sabrina yang menatapku bingung. Prof menggelengkan kepalanya.
"Keras kepala." Ujarnya kesal.
Aku tertawa keras. Seperti itulah Sabrina sekarang. Setelah kejadian itu dia mulai berubah, lebih tepatnya aku yang memaksanya berubah. Menjadikannya Agen yang hebat.
************
haiiii reader tercintaaaa...
huaaaa lamanyaaa aku upload, ckckck #dilemparinsendal.
aku sibuk edit part di awal, beberes.
Tadinya aku hanya ingin share apa yang ada di otakku, tapi seiring berjalannya waktu. Kritik yang banyak mengalir aku mulai beberes.
Jika kalian menginginkan kesempurnaan, oke aku bakalan kasih.
Aku banyak belajar, banyak mengamati cara penulisan, meski tetep aku ingin jadi diriku sendiri.
Banyak yang bingung dengan Lelah/Andini ini, maklum karyaku mah emang harus mikir.
Jelimet, seperti benang kusut xixixixixixi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Andini-Marriage With Complicated Disaster.
Mystery / ThrillerKisah ini tentang wanita yang bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup. Sosok Andini sangat cantik, cerdas dan keras kepala. Bagi Andini hidupnya selalu menderita tapi dia menjalaninya dengan keras. Pertemuan Andini dengan Bayu membuat hati Dini te...
