part 22

2K 60 2
                                        

Pada saat tersadar, aku sudah di rumah Hans. Hanya satu yang membuat diri ini takut. Kehamilanku. Berhadapan langsung dengan Hans. Lalu kembali ditawan dalam kamar, hanya kali ini tidak ada Amang. Serasa dejavu.

Ceu mumun menatap sedih, ini kesekian kalinya aku muntah. Jauh dari Love secara psikisku terganggu, tidak ada yang bisa kumakan sama sekali. Bahkan air putihpun keluar kembali, hingga akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit.

"Perkembangannya sangat perlahan Sir. Hanya infus yang bisa ditolelir oleh tubuh. Saya sarankan membuat Nyonya bahagia, itu akan membantu pemulihan dari trisemester pertama kehamilan." Kata Dokter yang merawatku.

Hans hanya diam mematung, entah apa yang dipikirkannya, setelah Dokter berlalu, dia mendekatiku.

"Lahirkan anak itu, lalu aku akan membawamu pergi jauh darinya." Katanya dingin.

Aku melotot padanya, dia akan memisahkan kami. My Baby. Dengan gerak cepat disertai emosi mencabut selang infus dari tanganku. Darah segar mengalir, aku tak peduli. Sambil berteriak histeris memukul Hans. Dia berteriak. Detik selanjutnya Dokter, Suster berhamburan memegangi tangan dan kaki karena tidak ingin sesuatu terjadi. Mengamuk.

Mereka mengikat tangan dan kakiku ke besi ranjang. Airmataku sudah mengering, Tuhan jika kau memang ada berikanlah pertolonganmu padaku.

"Neng, bangun Neng." Suara seseorang.

Kubuka mataku, Ceu Mumun didepanku. Kupaksakan tersenyum, dia menempelkan telunjuk didepan mulut. Perlahan membuka ikatan.

Melarikan diri. Ya. Ceu Mumun sedang bantuku keluar dari Rumah Sakit. Dia memakaikan aku baju yang aneh, baju Suster.

"Neng harus bisa berjalan sendiri keluar dengan tegak, klo sampe ketahuan sebelum sampe di luar semuanya percuma." Katanya.

Aku mengangguk, meyakinkan diri sendiri. Harus bisa, untuk Baby. Lalu kubantu Ceu Mumun yang sedang mengikat Suster yang pingsan, untuk menggantikan tidur di ranjang.

Aku melangkah keluar dengan percaya diri sesudah menggunakan masker. Sampai dilift Ceu Mumun hanya diam mengiringiku. Lalu tiba dilobi dia mendahului berjalan didepan. Sambil tangannya yang terlipat, ke belakang punggung. Berisyarat menyuruhku berbelok ke kanan.

Ragu, aku melangkah dilorong ruang Dokter. Kuketuk pintu lalu membukanya, setelah terdengar suara dari dalam. Dokter bobi terlihat duduk depan meja, dia mengangguk.

Meski gelisah aku mencoba duduk dengan tenang. Ini tidak akan mudah, kataku dalam hati. Menunggu Dokter Bobi yang keluar. Setengah jam lalu.

"Bagaimana di luar?" Tanyaku setelah dia datang.

"Buruk. Hans cepat sekali, dia tau kau menghilang. Waktu kita tidak banyak kenakan baju itu, jangan membantah." Ujarnya lalu pergi.

Sambil mengambil baju seksi itu. Mini dres warna hitam dengan butiran swarovski. Meski risi tidak ada pilihan lain jadi kulakukan. Memakai rambut palsu warna pirang setelah sebelumnya menggulung rambutku. Merias wajah dengan make up tebal.

Aku bisa! Ujarku berulang kali dalam hati. Sambil melihat bayanganku dicermin. Persis seperti wanita penggoda, keluhku.

Tidak lama Bobi masuk, agak terkejut melihatku. Dia menyerahkan kontak lens warna biru. Penyamaran yang hebat, aku bersyukur dengan kulitku yang memang sudah pucat dari lahir. Hingga berperan sebagai bule, bisa meyakinkan.

Bobi merangkul bahuku. Erat, bergandengan berjalan keluar. Sesekali kami bercanda, di pintu keluar kami dihadang.

"Apa-apaan ini?" Tanya Bobi gusar. Dia semakin memeluk erat mendekat padanya.

Andini-Marriage With Complicated Disaster.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang