3

821 98 6
                                    

Sore ini doyoung pulang dengan suasana hati yang cerah karena ia diberitahu oleh guru matematika bahwa doyoung terpilih menjadi perwakilan lomba matematika di sekolahnya. Senang? Tentu saja ia senang, ia harus memberitahu ayah dan papanya kalau dia menjadi perwakilan lomba.







"Aku pul- Ayah?"







Doyoung menatap ayahnya yang duduk dengan pandangan datar, tanpa di beritahu pun sebenarnya doyoung tau jika ayahnya sedang marah. Entah marah dengan siapa doyoung pun tidak tahu.










"Doyoung, mengapa pulang telat?"










Doyoung menelan ludah pahitnya, intonasi suara yang ayahnya berikan sangat menyeramkan. Tapi karena doyoung tahu bahwa ia tidak melakukan kesalahan, jadi anak itu menatap sang ayah dengan pandangan takut-takut "Aku meminta ma-"












"JUNGHWAN PINGSAN KARENA MENUNGGUMU DI GERBANG SEKOLAH! IA INGIN PULANG BERSAMAMU"











Mendengar kata 'junghwan', doyoung langsung mengurungkan niat untuk meminta maaf kepada jihoon. Lagi juga apa-apaan ini? Doyoung kan tidak tahu bahwa junghwan menunggunya, anak itu bodoh kah? Kan punya handphone. Mengapa tidak mengabari?













"Aku tidak tahu dia menungguku, dia tidak mengabariku ayah"






Jihoon tertawa sarkas dan bertepuk tangan "Salahmu juga doyoung, kau kakak yang tidak bisa merawat adikmu dengan benar"










Lagi, ia disalahkan lagi karena junghwan? Ah sudahlah, ia tidak akan menang berdebat dengan orang tua. Lagi juga, anak mana yang akan menang jika berdebat dengan orang tua? Mereka akan selalu kalah, entah mereka di pihak benar atau salah.








"Baik, doyoung keatas dulu ayah"


















Doyoung berjalan lesu menaiki tangga, seharusnya ia mengatakan hal yang baik kepada ayahnya, seharusnya ayahnya tidak memarahinya, seharusnya ia senang karena terpilih menjadi perwakilan. Mengapa jadi seperti ini? Ia tidak melakukan kesalahan, mengapa ia yang dimarahi juga?









Doyoung menutup pintu kamar dan mengunci pintu tersebut, ia butuh waktu sendiri untuk menetralkan emosinya. Doyoung menaruh tas miliknya di meja dan berganti pakaian, setelah berganti pakaian, ia langsung berbaring, memakai earphone yang sudah terputar sebuah lagu dan menutupi seluruh badannya dengan selimut.





Entah apa yang dilakukannya di kamar sendiri, tapi jika dilihat. Selimut itu bergetar dan samar-samar terdengar suara seperti orang menangis memenuhi kamar ini.




















"Hoon, jangan terlalu keras sama doyoung"



Jihoon menatap dua kawan lamanya, junkyu dan mashiho yang tidak sengaja mendengar pertengkaran kecil antara dirinya yang anak pertamanya.





Jihoon menyesap kopinya dengan santai lalu berkata "Doyoung mandiri kyu, dia bisa ngerti dan gak ngulangin kesalahannya kan?"







"Tapi kalo begini terus, secara gak langsung lu bikin jarak sama anak lu sendiri hoon" Ucap jaehyuk, ia menatap jihoon dengan serius.
"Jangan sampe anak lu kaya gua sama kak yoshi dulu" Sambung jaehyuk.





Ruang tamu ini menjadi hening, entah apa yang dipikirkan mereka bertiga. Sampai-sampai haruto datang dengan tangan yang membawa sebuah kotak lucu, sepertinya kotak itu dihias.





"Om, doyoungnya ada?" Tanya haruto, lelaki jangkung itu menatap para bapak-bapak yang ada dihadapannya




Jihoon menunjuk tangga yang memang akses untuk ke kamar doyoung "Ada, dikamar. Kenapa haru?"





"Ini om, haruto sama mami bikin kue buat doyoung soalnya dia udah kerja keras sampe jadi perwakilan lomba matematika"






Hah? Perwakilan? Doyoung tidak bilang apa-apa kepadanya. Jihoon memasang muka terkejut sekilas dan langsung berdehem "O-oh yaudah kalo mau ngasih ke kamarnya aj-"









"Taro situ aja pit" Ucap junkyu, ia menunjuk bagian meja yang memang kosong.

"Nanti papi makan kan?" Tanya haruto, matanya mendelik menatap orang tuanya itu.









"Buset bocah, kagak. Udah taro aja si biar bapaknya aja yang ngasih" Junkyu membalas tatapan haruto, curiga sekali anaknya ini terhadap dirinya. Lagipun ia tidak suka kukis, ia hanya menyukai mashiho. Eh, lupakan.








Setelah lama terdiam, haruto menaruh kotak itu di meja dengan perasaan setengah percaya dan tidak percaya terhadap tiga orang lelaki dewasa tersebut.







"Awas ya kalo dimakan, nanti ruto bilang mami"

"Gak bocil"

"Yaudah, ruto pulang"






Haruto berbalik meninggalkan tiga orang itu. Setelah haruto hilang dari pandangannya, junkyu menatap kotak yang di tinggalkan haruto.









"Kasih hoon"

Jihoon menatap junkyu dengan tampang tidak mengerti, kasih? Apa yang harus diberikan? "maksudnya apa?"





"Ck, ini orang yang dulu pinter seangkatan? Gua aja tau maksud junkyu daritadi. Dia mau lu kasih tuh kukis ke anak lu terus minta maaf, kalo lu belom kasih selamet ya kasih" Jelas jaehyuk panjang lebar, entah setan apa yang merasuki jaehyuk tapi perkataan kali ini jaehyuk benar.




Jihoon menatap kotak kukis itu dan mengangguk singkat, sebenarnya ia tidak ingin repot-repot memberi kukis itu. Tapi sahabatnya ini tipe pemaksa jadi mau tidak mau jihoon harus memberikannya "Nanti gua kasih"














...
.....
........

Alone?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang