5

600 85 9
                                    

Sarapan dirumah jihoon dan hyunsuk pagi ini terasa begitu hening dan tegang, sudah dua hari semenjak masalah kukis doyoung yang habis. Keluarga ini seperti orang asing satu sama lain, hanya hyunsuk dan jihoon yang tidak seperti orang asing disini.


Jujur saja jihoon sebagai kepala keluarga mengerti situasi tersebut, ia peka dengan situasi ini hanya saja dirinya sendiri pun bingung bagaimana cara agar memberantas kecanggungan ini. Jihoon mengerti dirinya salah membiarkan junghwan menghabiskan kukis milik doyoung, tapi apa salahnya berbagi dengan saudara sendiri kan?




"Aku sudah selesai"



Keheningan diruangan ini dipecahkan oleh suara doyoung, ia sebenarnya hanya makan beberapa suap. Entah kenapa pagi ini doyoung sangat tidak memiliki selera untuk sarapan. Biarlah dirinya makan di kantin nanti.




"Apa kau ingin diantar?" Tanya jihoon




Doyoung menggeleng "Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri ayah"



"Kalau begitu biar ayah suruh om junkyu antarkan? Ingin dengan haruto? Bus untuk ke sekolah masih libur dan jika kau berjalan sendiri itu cukup jauh"





Eh? Sebenarnya doyoung bahagia mendengar perkataan ayahnya sekarang. Sudah lama ia tidak diperhatikan seperti ini. Iya, sudah lama.




Terakhir mungkin saat ia sekolah dasar, semenjak kesehatan junghwan semakin memburuk, doyoung dipaksa dan diajarkan untuk selalu mandiri. Bahkan keuangan pun dia yang mengelola sendiri saat sekolah dasar.


Disaat anak-anak bertemu orang tuanya di hari ibu, doyoung hanya bisa tersenyum karena orang tuanya mengantar junghwan ke rumah sakit.




Disaat om jaehyuk dan jeongwoo terus-terusan beradu argumen, doyoung juga hanya bisa tersenyum kecil karena ia dan jihoon sangat canggung untuk ukuran anak dan ayah.





Disaat haruto dan jeongwoo dibawakan bekal, doyoung hanya bisa menatap iri karena hyunsuk selalu sibuk mengatur obat-obatan dan memasak makanan yang baik untuk junghwan.







Hidup doyoung selalu merasa iri jika disangkut pautkan dengan keluarga.

















Junghwan membersihkan sisa-sisa darah yang keluar di toilet sekolah. Darah itu keluar dari hidungnya dan baru saja berhenti, jujur saja itu membuat junghwan sedikit panik tapi setelah dilihat ini hanya mimisan biasa saja.


Setiap kelelahan junghwan memang selalu berakhir dengan pingsan, sakit atau mimisan seperti sekarang. Kesehatannya membuat dirinya tidak bisa beraktivita layaknya remaja lain, ini membuat junghwan jarang mempunyai teman di kelas.



"Hufftt"


Junghwan menatap lurus kearah kaca, dirinya terkekeh pelan. Ia iri sekali dengan teman-teman seusianya yang bisa bergerak bebas kemana saja, semaunya tanpa berurusan dengan penyakit yang bisa membunuhnya kapan saja.





"Memang penyakit tidak tahu diri, andai saja aku seperti teman-temanku yang lain"







Junghwan menghela nafas berat, tangannya menyalakan keran yang ada dihadapannya dan membasuh muka agar terlihat lebih segar dari yang tadi. Setelahnya, ia meninggalkan toilet tersebut.













Tbc...

Haii😭👍
Maaf lama update, salahkan metopen😞🙏

Alone?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang