Chapter 32

1.5K 121 15
                                        

Sana mengatur nafasnya saat kakinya mendarat di pintu depan rooftof yang tertutup,ia berisitirahat sejenak,mengatur nafasnya yang memburu akibat lari tadi.

Ia akan berusaha
mengendalikan dirinya dihadapan Tzuyu,meski rasanya sangat ingin kembali memeluknya,ia harus tenang.

"Rilex Sana,jangan bar-bar" guammnya memantapkan diri,tangan kanannya siap memutar knop pintu.

Pintunya terbuat dari besi,membuat Sana membukanya dengan sedikit tenaga ekstra.

Hal pertama yang ia lihat adalah pemandangan yang sangat indah,gedung-gedung terlihat jelas meski ia belum berjalan ke tepi pembatas.

Matanya mencari sosok yang memanggilnya kesini.Celingak celinguk..ia menemukannya...

Berdiri di sisi pembatas dengan kepala yang ia donggakkan menghadap langit indah penuh bintang.

Sana berjalan mendekat,raganya sedikit ragu.

Hingga sampailah ia tepat dibelakang sang kekasih.

Ingin memanggil tapi ia urungkan,takut jika Tzuyu akan marah kembali kepadanya.

"Kau sudah datang?" Tanya Tzuyu menormalkan posisinya.

"I-iya" gugup Sana.

Sedikit was-was,bisa saja Tzuyu akan menghajarnya habis-habisan disaat mereka hanya  berdua disini.

Tzuyu membalikkan badannya,menatap Sana dengan mata hitam mempesonanya.

"Aku merindukanmu Sana"

Kalimat Tzuyu barusan membuat Sana merasakan sesak didadanya,
penglihatannya seketika memburam,kristal-kristal bening sudah mengepung di pelupuk matanya.

Tak sanggup untuk menatap Tzuyu Saat ini.

"Kau kira aku tidak me-merindukanmu Tzu?" Jawab sana bergetar.

"Aku sempat berpikir seperti itu" Tzuyu mengangkat bahunya acuh "Aku cuman mau perkataan jujur darimu Sana,benar kau tak melakukannya?"

"Bukankah perdebatan tadi pagi cukup jelas? Aku sungguh tak melakukan nya Tzuyu"

"Tadi aku sempat merenung dikamar,banyak hal yang kupikirkan,disatu sisi 79% aku percaya padamu,tapi disisi lain masih banyak hal yang belum terungkap membuatku binggung" Tzuyu membalikkan badannya menghadap luar,kedua tangannya menggenggam erat tralis besi pembatas.

"Maka dari itu bantu aku untuk mendapat titik terang,aku tak sanggup Tzuyu,aku ingin kita kembali"

Dengan Langkah ragu Sana mendekat,
mencoba menggapai tubuh Tzuyu dari belakang.

Ia mendapatnya..

Pelukan erat dari belakang tak terhindarkan.

"Hikss...kau menyiksaku" Sana memukul pelan bahu Tzuyu "Kau menyiksaku Tzuyu hiks...hiks..."

"Maaf Sana"

"Aku tak butuh ucapan maaf darimu hikss...aku hanya ingin kau percaya padaku,aku sangat merindukanmu hikss.."  Sana menjatuhkan kepalanya di bahu Tzuyu,tangannya meremas kuat bahu sebelahnya.

"Kita pernah berjanji..harus saling percaya,sehebat apapun badai menerpa hubungan kita,kita akan terus bersama kan...Kau pernah berucap seperti itu"

"Maafkan aku Sana" Sana menggelang pelan.

"Bukan itu yang kumau!"

"Terus kau mau apa hah?" Tzuyu membalikkan tubuhnya,posisi mereka saling berhadapan.

Rasa percayanya pada seseorang sekarang telah di uji.

"Aku ingin kita kembali" Sana kembali memeluk Tzuyu,tangisnya kembali pecah saat bisa merakan kembali kehangatan tubuh yang sudah berapa lama ini tidak ia rasakan.

Roommate (SATZU) END.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang