1

3 1 0
                                    

Seorang anak perempuan berusia 5 tahun tengah meringis kesakitan, ia beringsut sedikit demi sedikit menuju pojok ruangan. Entah sudah berapa kali ia menerima perlakuan ini, rambut kusut dan pakaiannya terlihat sangat lesu, ruangan terasa hampa dan dingin. Matanya memandang sayu seekor burung yang hinggap dijendela seberang ruangan. Burung tersebut mematuk-matuk pinggiran jendela. Sayapnya yang gagah dan kuat mengepak dengan sempurna dan terbang dengan tinggi di angkasa penuh kepercaya diri. "Aku juga ingin seperti burung itu" ujarnya dalam hati. Gadis kecil itu kemudian meringkuk dan memeluk kedua lututnya. Ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua kaki kecilnya itu sembari menahan isak tangis. Entah mengapa dunia terasa kejam dan sangat kejam untuk gadis belia sepertinya yang hanya sebatang kara. Setiap hari terasa seperti mimpi buruk baginya, dan ia berharap bahwa itu benar-benar mimpi buruk, ia sangat berharap bahwa suatu hari ia dapat terbangun di sebuah istana yang megah dan di penuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran, burung-burung saling bercengkrama dengan merdu, langit terlihat sangat baik dipenuhi dengan awan yang berarak dan matahari yang menyinari dengan semburat cahayanya yang terasa hangat di kulit, akan tetapi hari baik tersebut tidak pernah terjadi. Hanya ada badai yang menerpa dirinya , hujan yang tidak pernah berhenti, tidak ada kehangatan hanya ada dingin yang menusuk dan meremukkan tulang-belulang. Matahari dan hari yang baik terasa seperti dongeng sebelum tidur, selebihnya hanya kegelapan dan malam-malam yang terasa sangat panjang.

"Bahkan sampai hari ini pun" ucap seorang gadis remaja berusia 16 tahun yang kembali menatap langit seperti waktu itu. Sudah diputuskan, "harapan adalah hal yang tidak nyata, sekedar bualan belaka" sambungnya lagi dengan tatapan yang kosong. Kemudian perempuan itu bangkit dan mengambil tasnya serta membereskan alat tulisnya yang tampak berserakan di lantai bersama lembar-lembar kertas dan sampul buku yang sudah sobek. Berbeda dengan waktu itu, saat masih kecil ia menangis karena perlakuan serupa yang ia dapatkan. Semua orang membencinya, ia dianggap tidak tahu diri dan tidak bersikap seperti pada tempatnya. Sayangnya ia tidak pernah tau 'tempat' yang dimaksud itu seperti apa. Apapun yang ia lakukan selalu saja salah di mata orang-orang. Bagaimanapun, sekeras apapun ia mencoba mengerti tetap saja menjadi hal yang sia-sia. Memang di zaman yang memandang silsilah keluarga dan kasta ini, orang yang hidup tanpa diketahui asal-usul keluarganya dicap sebagai orang yang terbuang dan sangat hina, keberadaannyapun tidak dianggap. Jadi percuma saja melakukan sesuatu, seperti yang terjadi pada saat ini. Gadis yang terbuang itu melanjutkan hidupnya dengan tinggal di sebuah rumah yang berada jauh di dalam hutan. Saat keluar menuju pusat kota, ia selalu menyembunyikan wajah dan identitasnya dibalik tudung dan selalu menghindar dari masyarakat.

The Shy GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang