Bab 2 Pedekate

1.3K 11 0
                                    

"Ulah apa lagi yang di lakukan anak ini dokter...?" Tanya mamah Andri begitu sampai di ruang depan klinik barata.

"Untung saja Del...terlambat sedikit saja tadi nyawa anakmu bisa melayang..." Tukas Dokter Indra yang sekaligus pemilik dari klinik itu.

Dokter yang sudah dari sejak awal praktek sudah menjadi langganan semua anggota keluarga besar Adelia.

"Tapi sekarang kondisinya bagaimana dok?" Tanya Adelia, tampak kecemasan di wajah ayunya.

"Aku butuh darahmu untuk mengganti darah Andri yang tampaknya telah kehilangan banyak darahnya cukup lama." Kata Dokter Indra sambil mulai memasang alat pengukur tensi di lengan Adelia.

Beberapa saat dokter yang masih tegar di usianya yang sudah lebih dari kepala enam itu, hanya mengerenyitkan dahi nya berulang ulang.

"Waduh kondisi kamu sendiri tak memungkinkan Del... Tensimu sangat rendah." Kata dokter Indra.

"Coba darah saya pak dokter barangkali bisa di donorkan ke Andri." Sahut Elang tiba tiba saja.

"Golongan darah saya O+" Tambah Elang saat dokter senior itu menatapnya.

"Coba saya cek dulu..." Kata dokter Indra lalu melambaikan tangan ke arah suster yang lalu dengan sigapnya menyiapkan alat alat pemeriksa golongan darah.

Hanya butuh waktu sekejap saja dokter itu untuk memastikan hasilnya. Dan mengatakan kalo golongan darah Elang cocok untuk di donorkan ke Andri yang ber golongan darah AB+ itu.

Segera saja dua kantong darah secara cepat di ambil melalui selang transfusi yang terpasang di pangkal tangan Elang, dan segera tersalurkan ke dalam tubuh Andri yang tergolek lemah dan pucat. Adelia hanya terdiam tertegun seperti orang terhipnotis menyaksikan rangkaian semua prosesnya meski ia pun sering di ambil darah dari tubuhnya untuk anak semata wayangnya itu.

Dan baru terhentak dari lamunannya saat mengingat Elang, anak sebaya anaknya yang telah menyelamatkan jiwa anaknya.

Adelia keluar mencari Elang dan tak menemukan anak itu baik di ruang tunggu maupun di parkiran, sedangkan ia melihat motor anaknya masih terparkir di tempatnya seperti tadi.

"Bu Adel...mencari Elang kah? Dia sudah pergi oh iya ini kunci kontak motor Andri tadi dia menitipkan untuk di kasih ke ibu." Ujar suster perawat di klinik itu, sambil menyerahkan kunci kontak motor Andri pada Adelia.

Adelia menerima kunci kontak motor itu dengan matanya yang nanar menatap berkeliling, raut mukanya jelas menyiratkan kekecewaan. Sebuah rasa kecewa yang sangat besar pada dirinya sendiri.

"Bahkan sekedar ucapan terimakasih saja belum sempat terucap...kenapa main pergi begitu saja..." Gumam Adelia.

"Trimakasih mbak suster...!" Ujar Adelia pada suster perawat yang masih berdiri di depannya sesaat itu, sebelum meninggalkan Adelia yang tetap kebingungan dan kebimbangan hingga sejenak kemudian wanita berparas jelita di usianya yang akan memasuki kepala empat itu, masih tetap mencari keberadaan Elang sampai ke pinggir jalan raya, sebelum memutuskan kembali ke dalam klinik untuk menemani anaknya, yang ternyata mulai siuman saat ia datang.

Elang sendiri menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah warung tenda kaki lima sekitar klinik yang kebetulan masih menjajakan makanan bubur kacang ijo yang lumayan untuk sekedar mengganti sedikit nutrisi baginya setelah dua kantong penuh darah di ambil dari tubuhnya. Sayangnya saat Adelia mamahnya Andri tengak tengok mencarinya ia sama sekali tak mengetahuinya karena posisinya yang duduk membelakangi.

Baru saja Elang bikin status di sosmed chatting nya, smartphone nya langsung berdering...tepat saat ia sedang menyantap bubur kacang ijo ketan hitam pesanannya.

ADELIA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang