Adelia tak sungkan lagi memegang tangan Elang saat mereka menyeberang jalan yang cukup ramai lancar di lintasi oleh berbagai jenis kendaraan itu.
Sampai di klinik Andri yang sudah duduk di ruang tunggu terlihat terkejut dengan kedatangan mamahnya yang bersama Elang dan mereka terlihat sangat akrab.
"Loh kok duduk di sini memang sudah baikan?" Kata Adelia yang langsung berlari menghampiri Andri anak semata wayangnya.
"Mamah dari mana seh lama bener... Memang tadi ngambil duitnya ke Semarang." Ujar Andri agak sewot, lalu menatap Elang yang hanya tersenyum. Sementara Adelia langsung melangkah ke arah customer service klinik untuk menyelesaikan masalah administrasi nya.
"Ketemu nyokap gue dimana tadi.. katanya elu tadi langsung ngilang?" Lanjut Andri bertanya kepada Elang.
"Iya Ndri... hehehe sudah baikan kamu?" Jawab Elang sambil tersenyum
"Lukaku ga seberapa kok tapi makasih yah bro tanpa kamu, gue yakin tadi sudah berada di alam baka." Kata Andri terdengar bergurau.
"Bukan apa apa Ndri... hanya kebetulan tadi aku pas lewat di depan rumah tua itu dan lihat kamu terkapar sendirian." Ujar Elang membuat Andri tertunduk dan teringat kembali kejadian yang menimpanya pagi tadi.
Saat dia di tantang duel oleh Ryan anak kelas XI STM swasta xx yang sama sama memperebutkan cinta Safira yang juga siswa SMANSA namun beda jurusan dengan Andri, mereka telah sepakat bahwa pecundang dari duel itu harus menyingkir dari Safira.
Tiba tiba saja hati Andri seperti teriris sembilu, perih rasanya menerima kenyataan bahwa ia harus menyingkir dari Safira mengingat mereka telah resmi berpacaran selama tiga bulan terakhir ini.
"Ndri maaf aku harus bilang jika permainan yang kau lakukan itu sangat berbahaya, apapun hasilnya sama sekali tak sebanding dengan resikonya." Ujar Elang melanjutkan perkataannya.
"Iya bro....aku juga ga abis pikir bahwa Ryan akan segila itu." Kata Andri lirih, ia masih ingat jelas ketika ia hampir saja memenangkan duel itu saat ia berhasil menyudutkan Ryan dan menghujaninya dengan pukulan pukulannya. Sebelum Ryan dengan liciknya yang entah kapan tepatnya tapi tiba tiba saja perutnya terasa sangat sakit dan mengeluarkan darah segar yang terus mengalir deras membuatnya ketakutan dan akhirnya tumbang tanpa seorang pun yang menghiraukan kecuali Elang yang merupakan anak kemarin sore di kota itu.
"Ayo nak kau boleh pulang sekarang!" Ujar Adelia sambil menjinjing beberapa bungkus obat dan sebotol povidone iodine di tangannya.
"Kau harus libur sekolah dulu setidaknya seminggu Ndri..." Lanjut Adelia.
"Minta surat dokter sekalian mah...titip sama Elang biar di sampaikan ke wali kelas." Ujar Andri sambil menatap Elang yang langsung mengangguk.
"Sudah....di kasih...kau pikir dokter Indra tak ngerti hal hal seperti itu." Kata Adelia sambil memasukkan semua barang di tangannya ke dalam tas tangannya.
"Bro bisa antar nyokap gue dulu nggak...ke rumah lalu jemput gue lagi..." Kata Andri pada Elang yang lagi lagi Elang hanya mengangguk.
Adelia yang mendengar perkataan dari anaknya itu sebenarnya bisa menolak untuk di antarkan oleh Elang karena akan sangat merepotkan anak itu, toh banyak angkot yang menuju arah rumahnya namun yang ia memilih untuk menyetujui usul Andri dengan tak berkata apapun.
"Kamu gapapa Ndri nunggu dulu di sini sebentar....?" Tanya Adelia pada anaknya.
"Ya elah mah...tadi aza aku hampir jamuran nunggu mamah juga gapapa kan..." Jawab Andri yang membuat Adelia tertawa dan Elang tersenyum kecil.
"Ya sudah mamah duluan yah nak...ayo El !" Kata Adelia sambil menatap Elang lalu melangkah duluan keluar.
"Sabar dulu yah nak...!" Ucap Elang bercanda di sertai tawa kecilnya membuat Andri hanya mendengus saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
ADELIA
General Fictioncerita fiktif dewasa berkisah pemuda multitalenta yang jatuh hati pada ibu seorang temannya, penuh bahasa vulgar apa adanya dan penuh dengan cerita erotis yang menampilkan bahasa sexual... hanya untuk di baca orang yang telah berusia di atas 18 tahu...