Empat

11 5 6
                                        

Sudah dua hari berlalu semenjak kejadian itu dan mos sudah selesai.

Atau belum?

Karena masih ada satu kegiatan lagi yang belum terlaksana.

Aku meregangkan otot, lelah karena baru saja kembali setelah seharian berada di luar.

Hah.. Rasanya ingin sekali mandi, tetapi cuaca yang dingin membuatku enggan untuk sekedar menempelkan kaki ke lantai.

Aku beranjak, mengambil sebuah buku journal tebal dengan lukisan ku pada sampul.

Apa yang ku tulis sebelum ke Bandung menimbulkan rasa nyeri pada dadaku.

Daftar keinginan yang ingin ku lakukan bersama Jingga dengan berbagai tempat yang sebelumnya sangat ingin ku kunjungi bersamanya.

Sungguh tidak berguna.

Pada akhirnya semua ini hanyalah angan yang kuciptakan sendiri, harapan dengan ekspetasi tinggi yang tidak terwujud satu pun.

Aku melipat dua halaman menjadi satu, memberi perekat agar tak terbuka kembali.

Biar tersimpan saja, tidak perlu di robek untuk di buang. Agar menjadi pelajaran kedepannya.

Aku mulai menulis, menghabiskan beberapa lembar untuk sedikit kisah yang sempat ku lalui, menggores kenangan pada teman ceritaku ini. Juga, kembali membuat rencana baru untuk berbagai hal nanti.

Aku mengerjap, tak sadar menyunggingkan senyum saat menuliskan nama Saka pada buku.

Teman pertamaku di Bandung, aku berharap hubungan kami akan baik-baik saja mengingat betapa merepotkan nya aku padanya. Takut-takut ia jadi merasa terbebani dan tak nyaman.

Aku melirik kalender, mencoret beberapa tanggal agar tidak lupa dengan kegiatan penting yang akan kulakukan.

Berpikir untuk memulai hal menyenangkan, rasanya aku tidak ingin melewatkan satu hal untuk besok, karena mulai lusa aku akan cukup sibuk dengan kuliah. Di tambah, aku memutuskan untuk bekerja part time untuk biaya hidupku.

Tok.. Tok..

Aku terperanjat, bangkit dari posisi nyaman ku dan mengintip dari celah pintu.

Percuma, wajahnya tak terlihat karena tubuhnya yang tinggi.

Aku menengok kanan kiri, mulai parno dengan keadaan ini.

"Tetangga, di rumah ngga?"

"Halo halo" Teriaknya lagi.

Aku membuka pintu perlahan, melihat bagian bawah terlebih dahulu. Memastikan bahwa ia memang seorang manusia.

Hening, kami saling menatap. Hingga muncul celetukan, "Teteh netnot kopi"

Hah? Apa? Netnot apa?

"Ingat saya ngga?"

Aku memiringkan wajah, bingung harus mengingat apa dengan melihat wajah yang tertutup masker dan tudung hoodie.

Orang ini punya masalah apa sebenarnya?

"Perlu saya pukul kepalanya ngga teh? Di TV orang amnesia suka di pukul biar ingat"

Aku yakin ada yang salah dengan otaknya.

"Kamu aja sini saya pukul pake hidayah"

"Teteh suka ngelawak ternyata" Jawabnya terkekeh, sedetik kemudian menepuk jidatnya pelan.

Ia membuka tudung kemudian masker, menampilkan senyuman yang membuat matanya seolah hilang sembari menggaruk tengkuk.

Ah.. Sekarang aku tau siapa laki-laki ini.

"Ternyata kita tetangga ya, a'a barista"

Lelaki di hadapan ku ini mengangguk riang, "Saya ngira yang bakal keluar mas-mas seram bertato"

"Tapi kamu ngga keliatan takut? Dilihat dari cara kamu bertamu tadi" Tanyaku heran.

Ia meringis, merentangkan jari, "Lihat teh, sebenernya tangan saya keringetan"

Aku tertawa, orang ini benar-benar tidak terduga.

"Saya bawain ini" Ucapnya menyodorkan kantong kresek yang dengan sigap kuterima.

"Di makan sama susu hangat" Tambahnya.

"Makasih udah repot-repot bawain ini. Gimana kalo makan bareng aja di dalem?"

"Ngga usah, saya mau langsung aja. Udah kangen banget sama pelukan istri"

Aku terkejut, "Loh? Sudah nikah toh?"

Kulihat raut wajahnya berubah, seperti tidak sengaja mengungkapkan rahasia besar.  Kemudian ia menengok kanan dan kiri, memastikan tak ada satu orang pun yang mendengar. Tangannya melambai kecil, menyuruhku untuk lebih mendekat. Kemudian ia berbisik, "Istri saya itu kasur"

Orang gila.

Aku melangkah mundur, tak menunjukkan ekspresi apapun. Wajahku benar-benar datar.

Ia tertawa keras, mengabaikanku yang sudah bersembunyi di balik pintu.

Jarinya mengusap ujung mata, masih terkekeh kemudian menatapku dan berkata "Saya pulang dulu ya, pintunya cepet di tutup dan jangan lupa kunci"

Aku mengacungkan jempol, raut wajahnya mulai berubah. Tampak serius. Ia melanjutkan, "Karena saya udah anggap teh netnot temen, saya kasih sedikit rahasia tentang kost ini"

Aku memutar bola mata sebagai respon karena enggan mengeluarkan suara. Tak percaya dengan ucapan lelaki aneh di depanku ini.

Yang kulihat ia hanya diam dengan wajah sangat meyakinkan. Kemudian ia kembali membuka suara, "Beberapa bulan lalu, penghuni kamar teteh gantung diri karena selalu di ganggu hantu cowok di pojok sana" Katanya menunjuk pada bangunan paling kiri.

Memang terlihat sedikit menyeramkan karena cahaya lampu yang remang-remang.

Aku mulai merinding.

"Dia ngga bakal ganggu kok asal ngga denger perempuan nangis"

"Karena katanya dia terobsesi sama perempuan nangis" Lanjutnya berbisik.

Aku mengangguk paham.

Tiba-tiba pikiranku terlintas saat aku datang kesini.

Tunggu.. Pada hari itu bukankah aku menangis seharian karena Jingga?

Aku melamun untuk beberapa saat sampai lelaki di hadapanku kembali membuka suara.

"Kalo gitu saya tunggu teteh nutup pintu buat jaga-jaga, baru saya pulang. Jangan lupa kunci ya"

Aku mengacungkan jempol, menurut untuk segera menutup pintu.

Setelah terkunci dan kakiku mulai melangkah, kembali terdengar tawa kencang lelaki itu.

Sial, aku kena lagi.

_______

ig? @ordxnoir




Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 30, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

EUNOIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang