That Question

341 51 17
                                        

.

.

,

Soobin POV

Aku menghempaskan selimutku dengan bosan, waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi dan aku tidak bisa tidur sama sekali. Kalau sudah begini satu-satunya yang harus kulakukan adalah pergi ke kamar Yeonjunie hyung dan memaksanya menemaniku begadang semalaman. Kurasa dia tak akan keberatan, lagipula besok kan hari libur.

Aku menaiki tangga menuju kamar Yeonjun hyung yang ada dilantai dua. Jika malam hari memang hampir semua lampu dipadamkan, jadi aku tidak bisa melihat dengan baik apalagi dengan mataku yang sebenarnya sudah terasa perih. Akhirnya dengan dipandu cahaya temaram dari lampu dinding berwarna kuning aku sampai juga di depan pintu kamar Yeonjun hyung yang tertutup rapat. Aku tersenyum karena pintu itu tidak terkunci seperti biasa.

Kubuka pintu dan mengendap masuk ke dalam. Entah kenapa aku melakukannya, padahal aku tahu orang tua kami sedang tidak ada dirumah dan hanya ada kami berdua disini. Aku menatap tubuh Yeonjun hyung yang tertidur pulas dengan posisi yang berantakan. Wajahnya imut sekali saat ia terlelap. Selimutnya sudah tersingkap seperti biasanya.

"Apa kau tidak kedinginan? AC nya menyala begini?" aku menarik selimut dan menutupi tubuhnya sebisaku (posisinya terlalu berantakan). Aku mengurungkan niatku untuk mengganggunya sebab kulihat kuas, cat dan palet juga kertas-kertas berhamburan dilantai kamarnya, dia pasti tadi sedang mengerjakan tugasnya. Beginilah kakakku, dia pernah bilang jika otaknya sama sekali tidak bisa bekerja jika peralatan lukisnya tertata rapih, jadi dia pasti sengaja membuatnya berantakkan seperti ini.

Aku naik ke atas ranjangnya, menyesap masuk ke dalam selimutnya dan berbaring di sisinya. Kulitku bersentuhan dengan lengannya, dan aku merasa hangat. Hangat sekali. Aku bahkan bisa mendengar dengkuran kecilnya dan itu membuatku sedikit mengantuk. Aku tidak tahu seperti apa hubungan kakak dan adik yang lainnya, tapi bagiku skinship dengan kakakku membuat hatiku tenang sekaligus bergejolak. Dan kali ini keinginan untuk melakukan hal yang lebih menjadi semakin besar dari pada biasanya.

Aku meraba pinggang Yeonjun hyung dengan lembut dan perlahan, berusaha sebisa mungkin agar ia tidak terbangun. Tapi aku salah, ia menggeliat pelan dan menyentuh punggung tanganku tanpa membuka matanya.

"Ummh.. Soobin-ah?"

"Hm?"

"Insom?"

"Hm"

"..."

"Tidurlah, aku tau hyung lelah"

"Krr.." aku tersenyum, ia tertidur lagi berarti ia tidak merasa terganggu.

Yeonjunie hyung memang tak pernah merasa terganggu dengan kehadiranku, karena itulah aku jengah karena akhir-akhir ini ia bersikap dingin dan sering menolak keberadaanku di sisinya. Itu membuatku gelisah dan marah. Aku tidak suka jika ia memilih sibuk dengan teman-temannya ketimbang denganku. Aku benci jika ia mulai melirik para gadis dan mencoba menjalin hubungan yang lebih. Aku yakin semua orang di dunia ini tak ada yang pantas untuk mendampingi hyungku yang baik hati sebab mereka semua brengsek dan jalang.

Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, kupeluk erat tubuhnya yang wangi agar ia merasa hangat. Aku tahu dia pasti bisa merasakan kehangatan yang aku rasakan tiap kali kami bersama. Tubuhnya membelakangiku, karena itulah aku dapat mencium wangi rambutnya. Keharuman yang paling aku suka di dunia ini. Aku mengecup pucuk kepalanya dengan lembut dan penuh kasih.

"Tidurlah hyung"

Aku ingin waktu berhenti untuk malam ini. Aku takut jika matahari terbit esok hari dan hyungku berubah menjadi orang lain dan bersikap seolah-olah aku ini musuhnya. Namun baru sekitar sepuluh menit aku mempertahankan posisi yang nyaman ini, ia menggeliat pelan, tidurnya terlihat gelisah.

Ares & Aphrodite [Soobjun]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang