Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tidak tenang.
Bayangan wajah pria itu terus terlintas di kepalaku. Caleb Antonio. Nama yang terdengar mahal. Tatapannya tadi… aneh. Seolah-olah dia tahu sesuatu yang aku tidak tahu.
"Lidya?" Suara Mesya membuyarkan lamunanku.
"Hah? Kenapa?"
"Kamu dari tadi bengong. Jangan bilang kamu masih mikirin WC?" Cibir Theara.
"Ih nggak lah!" Aku memukul pelan lengan Theara. "Tadi aku ketemu anak kecil lucu banget. Namanya Acha. Dia nyasar terus manggil-manggil mamanya."
Mesya mengangkat alis. "Terus?"
"Dia malah ngira aku mamanya."
"Hah?!" Mesya dan Theara kompak menoleh ke arahku.
"Iya! Dia peluk aku kenceng banget. Nangis lagi. Malu tau diliatin orang-orang."
Theara menahan tawa. "Mungkin kamu punya aura emak-emak."
"BODO AMAT!" Aku mencubit pinggangnya.
"Terus orang tuanya mana?" Tanya Mesya penasaran.
"Ada papanya. Namanya Caleb Antonio." Aku berusaha terdengar biasa saja, padahal jantungku berdegup aneh saat menyebut namanya.
Theara langsung berhenti melangkah. "Caleb Antonio? Yang punya Antonio Group itu bukan sih?"
Aku mengerjap. "Hah? Emang siapa?"
Mesya langsung membuka ponselnya dan mencari sesuatu. Beberapa detik kemudian dia menunjukkan layar padaku.
"Itu loh! CEO muda, duda, tajir melintir, masuk daftar 30 Under 30 Asia versi majalah bisnis. Anak satu."
Foto yang muncul di layar membuatku membeku.
Itu dia.
Wajah yang sama. Tatapan yang sama.
"I-itu dia…" gumamku pelan.
Theara menjerit kecil. "ALIDYA KAMU TADI NGOBROL SAMA DIA?!"
"Sssttt! Jangan teriak!" Aku panik melihat orang-orang menoleh.
Mesya menatapku tak percaya. "Dan kamu bilang ‘om’?!"
Wajahku langsung memerah. "Ya kan kelihatan dewasa banget! Masa aku panggil kak?"
Theara tertawa keras. "Gila sih kamu. Itu banyak cewek ngejar-ngejar dia tau. Kamu malah manggil om."
Aku menghela napas panjang. Entah kenapa aku tidak terlalu peduli soal statusnya. Yang menggangguku justru perkataan Acha tadi.
Tuhkan dia mama—
Kenapa setiap kali anak itu mau bicara, Caleb selalu menutup mulutnya?
"Aku pulang duluan ya…" kataku tiba-tiba.
Mesya menatapku curiga. "Kamu nggak papa kan?"
"Iya. Cuma capek."
---
Malamnya, aku baru saja selesai mandi ketika ponselku menyala kembali setelah di-charge.
Beberapa notifikasi masuk.
Dan satu pesan tak dikenal.
Nomor asing.
Aku ragu sejenak sebelum membukanya.
> Unknown:
Terima kasih sudah menjaga Acha tadi. Dia sulit sekali dekat dengan orang baru.
– Caleb
Aku membeku.
Dari mana dia dapat nomorku?
Jantungku mulai tak karuan.
Belum sempat aku membalas, pesan kedua masuk.
> Caleb:
Maaf jika Acha membuatmu tidak nyaman. Dia sangat merindukan ibunya.
Aku menelan ludah.
Jari-jariku mengetik pelan.
> Alidya:
Tidak apa-apa. Acha lucu sekali kok 😊
Semoga lain kali dia tidak salah panggil orang lagi ya.
Beberapa detik.
Typing…
> Caleb:
Sepertinya bukan salah panggil.
Aku terdiam.
Apa maksudnya?
Sebelum aku sempat bertanya, pesan berikutnya muncul.
> Caleb:
Apakah kamu percaya pada takdir, Alidya?
Deg.
Kenapa pembicaraan jadi aneh begini?
Aku belum sempat menjawab ketika panggilan masuk.
Dari nomor yang sama.
Tanganku gemetar sedikit sebelum mengangkatnya.
"Halo…"
Suara bariton seraknya terdengar jelas di telingaku.
"Maaf menelepon malam-malam. Aku hanya ingin memastikan kamu sampai rumah dengan selamat."
Aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat sederhana itu membuat pipiku terasa hangat.
"Iya… sudah kok."
Hening sesaat.
"Lidya," panggilnya pelan.
"Iya?"
"Besok sore Acha ingin bertemu denganmu lagi."
Jantungku serasa berhenti.
"Apa?"
"Dia tidak mau tidur sebelum memastikan kamu benar-benar bukan mamanya."
Aku terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Anak kecil memang begitu."
"Jadi… apakah kamu bersedia? Aku akan menjemputmu."
Menjemput?!
"O-om— maksudku—"
Terdengar dia tertawa pelan di seberang sana.
"Panggil aku Caleb saja."
Suaranya terdengar lebih lembut kali ini.
Aku menatap langit-langit kamarku, mencoba berpikir jernih.
Ini gila.
Aku baru kenal dia beberapa jam.
Tapi entah kenapa… aku tidak merasa takut.
Hanya gugup.
"Aku… pikir-pikir dulu ya."
"Tentu." Suaranya terdengar tenang. "Aku tunggu jawabanmu besok pagi."
Telepon terputus.
Aku masih menatap layar ponsel.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
___
Di sisi lain kota, Caleb berdiri di balkon apartemennya sambil menatap foto lama di ponselnya.
Foto seorang wanita yang mirip Lidya, tidak...itu memang Alidya dengan seragam Batik SMA nya!
Acha tertidur di pelukannya.
"Lidya…" gumamnya pelan.
Bersambung…
KAMU SEDANG MEMBACA
Figuran?!
Novela JuvenilGadis Bernama Putri seorang Penyuka Novel Genre Action juga Transmigrasi Dan Tidak Terlalu menyukai Romansa~ ia Gadis yg masih menduduki Bangku SMA. Namun Naasnya Diusia muda ia Tertabrak TRUCK-KUN. Truck yg sedang Linglung Diakibatkan Sang Sopir n...
