Malam mulai menjelang ketika seseorang berpakaian serba hitam berjalan memasuki sebuah gedung kosong di tengah kota. Dia berhenti di lantai sebelas untuk mengeluarkan isi tas jinjingnya yang berupa senapan laras panjang yang biasa digunakan untuk menghabisi target dalam jarak yang sangat jauh.
Sosok itu melangkah menuju jendela lalu duduk bertengger disana, seolah-olah dia sedang ingin menikmati dinginnya angin malam. Wajahnya tidak terlihat jelas karena dibayangi tudung jaketnya, namun bibirnya yang tipis dan ranum nampak menyunggingkan senyum tipis menggoda.
Sekitar tigapuluh meter dari tempatnya berada terdapat sebuah gedung pencakar langit yang merupakan pusat sebuah perusahaan terkenal di dunia saat ini. Dan di lantai yang sedikit lebih rendah dari posisinya, tampak seorang lelaki paruh baya baru saja memasuki ruangan sendirian.
Gerak-gerik lelaki tersebut sangat mudah diamati karena tirai jendela sama sekali tidak tertutup. Dan itu artinya kesempatan bagi si sniper. Dia mulai mengarahkan senjatanya pada target yang segera roboh dengan sebutir peluru bersarang di pelipis kanannya. Entah kapan sosok itu menarik pelatuk senjatanya. Yang jelas semua terjadi begitu saja dalam waktu yang sangat singkat.
Ia berpaling untuk memasukkan senjatanya ke dalam tas. Dari sikapnya sudah terlihat jelas kalau dia memang terbiasa melakukan hal seperti ini. Bahkan ketika seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya, ia sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi apalagi terkejut. Malah dengan santainya dia berdiri sambil menyelempang tasnya.
"Kau selalu melakukannya dengan cepat seperti biasa," puji sosok tersebut. Didengar dari suaranya, sepertinya dia adalah seorang pemuda.
"Aku bukan kau yang suka bermain-main dengan target," ucap si sniper ketus yang terdengar seperti seorang gadis. "Ayo pulang. Besok akan kubuatkan sup kesukaanmu pas sampai di rumah."
"Oke, Sayang. Aku merindukannya."
"Kau hanya merindukan masakanku?!" Suara gadis itu meninggi dengan nada yang sedikit menggambarkan kekecewaan.
Pemuda itu melangkah dari balik kegelapan. Badannya yang nampak ramping lumayan tinggi sehingga si gadis sniper harus mendongak padanya ketika mereka berhadapan. Lalu dengan sangat cepat ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Sebelah tangannya melepas tudung jaket gadis tersebut hingga rambut lurusnya yang selama ini tertutupi langsung tergerai hingga mencapai pinggangnya, sementara tangan lainnya bergerak nakal dengan mengelus punggung si gadis.
"Aku merindukan dirimu," ucap pemuda itu lirih. "Belakangan ini kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Bagaimana kalau kita bersenang-senang di hotel sebentar? Pesawatnya baru akan berangkat empat jam lagi."
@@@
Aku memang tidak punya hati, tapi kenapa aku sangat mencintainya?
Annie terbangun setelah mendengar gumaman itu. Dia mendesah keras dengan ekspresi tersiksa. Entah sejak kapan mimpi-mimpi aneh itu mulai mengganggu waktu istirahatnya yang selalu diakhiri gumaman seseorang seperti tadi. Yang jelas semua keanehan perlahan muncul setelah ia menginjak usia duapuluh tahun.
Tapi yang membuatnya penasaran adalah identitas kedua orang itu. Sejauh yang Annie tau, mereka adalah pasangan pembunuh internasional yang sangat profesional. Nyaris tidak ada yang luput dari incaran mereka. Dan satu yang pasti adalah fakta bahwa mereka adalah sepasang kekasih, atau mungkin suami istri.
Annie mengacak rambutnya frustrasi. Di sisi lain dia mulai menduga kalau ini adalah dampak dari kebiasaan-kebiasaan buruknya sebagai seorang mantan otaku kronik. Namun yang membuatnya bingung adalah kenapa mimpi itu datang berulang-ulang dan terlihat saling berhubungan satu sama lain? Apa ini semacam pertanda? Atau memang dia sedang stres karena jadwal kuliahnya belakangan ini yang semakin padat?

KAMU SEDANG MEMBACA
Dagger & Asterisk
ActionBelasan tahun hidup dengan menghabisi nyawa orang lain sudah cukup melenyapkan segala emosi dan perasaannya sebagai seorang manusia. Dia membunuh semua targetnya tanpa membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan miskin, se...