Chapter 3

99 21 0
                                    

Hujan turun dengan gemuruh besar membasahi kedua lelaki yang kini menuju parkiran sebuah mall. Hujan sialan, tidak memberi aba aba tetapi turun begitu saja! bisakah memberi sebuah indikasi dengan petir?

"Lu gapapa?" Motor tersebut mengambil parkir dibawah basement. Pengemudi motor itu memutar kepala untuk menengok kepada kawannya yang kini tengah menggelengkan kepala mengeringkan rambut yang sedikit terkena hujan.

"Gapapa, basah dikit." Jawabnya tertawa. Untung saja ia tidak kesal, kalau bisa Zilong ingin tenggelam bersama hujan saja.

"Bagus kalau gitu." Ujarnya senang. Sungguh, kapan lagi ia dapat menaikki motor bersama temannya dan berseru-seru di dalam hujan. Tapi sayangnya, mereka tidak bisa melakukan hal yang terakhir.

Mereka berdua turun dari motor, "Snacknya gimana? Banyak gitu toh mau di sembunyiin dimana?" Ujar Ling mengambil snack yang bergantung pada motor dan mengangkatnta didepan muka Zilong. Sial, dia lupa soal snack itu.

"Hehe, gimana ya.."

Ling mendesah pelan, "Masukkin ke tas ku aja, tapi gabisa semua."

Aish, bodohnya ia. Mengapa otaknya tidak berkerja dengan benar sekali saja.

"Ah, maaf ngerepotin gua lupa." Kemdian sebuah ide muncul di benak kepalanya

"Snack sisanya makan sekarang aja, nontonnya nanti kan?" Senyum kembali muncul di wajah tampannnya. Ling terlihat berpikir sejenak sebelum menyetujui usulan pria itu.

—–—–
"Mana sih, mereka lama amat buset." Wan Wan sungguh kesal, walapun mereka sepakat bertemu jam 12, tetapi mengapa tidak datang terlebih dahulu?

"Sabarlah, baru jam 12." Mengacak rambut pertemuan disampingnya, ia tertawa lucu.

"Laper nih, pengen makan." Belum sempat melanjutkan ceramahnya, terlihat dua bayangan yang mirip dengan orang yang mereka tunggu.

Ling dan Zilong kini menghampiri pasangan tersebut. "Laper ya? mukanya ko kesel gitu." Ling tertawa pelan, perempuan itu kalau lapar pasti memasang muka yang busuk.

Wan wan mengalihkan muka kemudian lari meninggalkan mereka untuk mencari makanan. "Dih, baru mau dikasi cemilan, malah kabur." Pria yang berada disampingnya memasang muka kesal, mengikuti Wan Wan yang berlalulalang. Melihat kejadian itu, Yin dan Ling hanya tersenyum.

—–—–
"Asal lu tau ya, nilai gua lebih tinggi."

"Alah bacot, gue dipuji."

Kini yang berantem Yin dan Zilong. Sungguh, mengapa mereka tidak bisa makan dengan tenang?

Restoran yang mereka tempati bertema Cina, dengan hiasan kerajaan yang indah dan lukisan-lukisan besar. Tetapi memakan duit banyak. Siapa coba yang ingin menolak jika diajak ke restoran mahal serta ditraktir. (Sebenarnya hanya untuk mendapatkan pengampunan dari Wan Wan.)

Mengabaikan pertengkaran yang ada di sebelah, Wan Wan mengajak bicara pria yang ada di depannya, "Kak, emangnya mau nonton apa?"

Jika dipikirkan, sebetulnya Ling juga tidak tau apa saja yang sedang tayang. Ia hanya menyebut bioskop untuk ikut dalam conversation yang mereka bawa tadi.

"Menurut kamu apa yang bagus?" Mengambil Dim Sum dan memakannya sembari menghabisi snack yang telah Zilong bawa.

Wan Wan tertawa licik, "Gimana kalau film horror?" Ia tau bahwa Ling tidak terlalu suka film horror tetapi ia tidak bisa menolak Wan Wan. Bocah sialan.

Belum sempat mengambil Dim Sum selanjutnya, Ling berhenti tengah di udara.

"Oh, uhm. Apa namanya?" Mencoba menutupi gelisahnya.

"Jalangkung."

Anjing. Sungguh bajingan. Ling tau film yang dimaksud adik kelasnya itu. Ia telah melihat trailernya tanpa disengaja, sepanjang malam memikirkan adegan adegan seram yang di buat oleh otaknya dan mengakibatkan dirinya tak bisa tidur dan lebih paranoid.

"Kau yakin?"

"Yakin apa?"  PENYELAMAT!! SUNGGUH PENYELAMAT!! Mengeluarkan nafas lega, Ling berterimakasih kepada siapapun yang mengrimkan malaikat ini karena malaikat ini juga tidak suka dengan film horror.

"Nonton Jalangkung, mau kan?" Sayangnya, ia lupa bahwa malaikat itu juga lemah dihadapan seorang Wan Wan.

"Eh, uh, duh, sakit perut." Akting Yin sangat jelek, ia ingin mengejek. Tetapi biarlah, mungkin ini kuncinya untuk kabur.

Senyum ancaman dilempar kepada Yin, membuatnya lebih takut. "Oh, iya hooh boleh banget." Yin tertawa canggung, menjauhi dirinya dari orang yang ia panggil sahabat.

Sementara lawannya menyamber "Sok iye lu, lu kan takut ama setan." Zilong mengejek, menghabisi teh yang mulai dingin.

Semua ketakutan yin terbuang dan kembali ribut dengan pria didepannya. Kapan mereka bisa berbicara dengan tenang?

"Mau kan?" Kedua alis itu naik turun menggoda, seperti mengejek dirinya.

Ah, masa bodo. Paling ia tidak bisa tidur selama beberapa hari saja. Hal kecil.

"Baiklah." Ia bersumpah akan membalasnya nanti.

—–—–
"Terimakasih dan selamat menonton." Ujar petugas itu dengan senyuman ramah yang dikembalikan oleh mereka.

Waktu masih tersisa 20 menit sebelum studio dibuka, popcorn yang dipajang pada counter membuat seorang Yin lapar. Perutnya tidak kenal kenyang saat melihat cemilan cemilan menggoda.

"Gua duluan ya hehe, mau beli popcorn." Yin menyengir senang.

"Aku ikut."

Kini tersisa hanya kedua kakak kelas.

"Lu gamau beli?"

"For your information gue masih nyimpen snack tadi kalau kau lupa." Alis surai ungu muda itu naik sebelah.

Aelah salah langkah mulu gua.

Zilong terkekeh pelan, "Hehe iya sorry lupa.."

Ling memutar bola matanya dan mencari tempat duduk, "Kalau kau mau beli silahkan saja." Ia menengok sekilas kepada pria dibelakangnya.

"Engga, udah cukup itu." Zilong mengikuti langkah Ling menuju sebuah meja.

Mereka duduk, menunggu kedua bocah itu kembali dengan popcorn mereka.

"By the way, Kita mau nonton Jalangkung kan?" Zilong menatap lurus kepada manik ungu cantik Ling.

Topik ini lagi, sesungguhnya ia berencana untuk kabur tengah film. Tak mungkin ia akan selamat diam di sana selama berjam-jam tetapi Wan Wan pasti akan menyinggungnya.

Ling mengalihkan pandangannya kedepan, tidak ingin melihat pria itu, "Iya, kenapa?" Nada suaranya terdengar sedikit goyah, ah masa bodo. Tidak mungkin Zilong masih ingat dengan ketakutannya terhadap hal-hal horor. Ia tidak pernah memberitahunya secara langsung.

"Lu yakin? bukannya takut sama beginian?" Ia terdengar khawatir dan mengejek. Ling mengerutkan alisnya kesal. Maksud dari ia itu apa? mau mengejek apa bertanya??

"Yakin, engga takut." Sedikit kebohongan tidak akan sakit bukan?

Ya, bukan sedikit.. tetapi ia pasti bisa. Ia sudah mempersiapkan sebuah sleep mask untuk menutupi matanya. Just in case diajak nonton film horror seperti saat ini.

"Kalau emang gamau, ntar gua temenin keluar."

Ia tersedak ludahnya sendiri.

"Engga kok, ngga perlu," Pandangannya kembali tertata kepada sang surai cokelat, memberikan senyuman sejuta umatnya, "tapi terimakasih."

Deg

Zilong merasa tertampar ketika dilontarkan senyuman manis itu. Ling tidak sering tersenyum walaupun tidak jarang juga. Tetapi ia terlihat sangat lucu sekarang-

Hei, tunggu apa yang ia pikirkan? sungguh tolol

———————
sorry yaa updatenya lama, abis ujian 😿

NirmalaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang