Gin menerjapkan matanya disaat ia merasa lengan miliknya seperti ingin patah. Sungguh, hal itu sangat mengganggu tidurnya.
"Aduh, sakit sekali.." Lenguhnya sembari menggeser kepala Echi dari lengan yang dijadikannya bantal tidur perlahan-lahan.
Gin melirik ke arah jam dinding kamar Echi, waktu menunjukkan pukul 12 tepat. Gin menatap ke arah sekeliling ruangan, ia baru sadar bahwa ia tadi tertidur di kamar Echi.
Pemilik kamar tersebut– Echi. Membuat gerakan kecil yang menandakan bahwa tidurnya sedikit terganggu. Gin beralih menatap ke arah Echi.
"Dia cantik jika tidak sedang marah." Gumamnya. Ia memejamkan matanya, lalu helaan nafas pun muncul.
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, Gin pun menatap ke arah pintu tersebut.
"Loh? Gin? Mengapa kamu ada disini?" Tanya Key yang berjalan masuk kedalam ruangan setelah menutup pintu.
"Tidak sengaja tertidur disini." Balasnya.
"Ohh.. Tapi kenapa bisa tertidur disini?"
"Menemani Echi. Kamu sendiri mengapa ada disini?" Tanyanya balik. Key duduk di sebelah Gin.
"Ohh.. aku mau membangunkan Echi untuk turun kebawah, kamu tidak dengar perintah dari protofon?" Jawabnya.
"Tidak.. Kan aku ada dikamar Echi, profonku ada dikamarku sendiri."
"Memangnya protofon Echi tidak menyala?"
"Sepertinya aku tidak melihat keberadaan benda itu dikamar ini." Jawab Gin, Key hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Yasudah, pergilah siap siap untuk turun. Echi biar aku yang bangunkan." Ujar Key.
"Tidak usah, aku saja yang mengurus Echi." Jawab Gin.
"Kamu yakin?"
"Ya. Pergilah."
"Baiklah, jangan terlalu lama. Jangan sampai Papi mengeluarkan ancaman 3 menit." Key menepuk pundak Gin, lalu melangkahkan kakinya menuju luar ruangan, meninggalkan Gin dan Echi disana.
✭✭✭
Setelah beberapa menit lamanya menunggu Echi, Echi dan Gin melangkahkan kedua kakinya tergesa-gesa menuruni anak tangga hendak menuju ke ruang keluarga.
"Baiklah, apa yang membuatku harus terbangun ditengah malam seperti ini?!" Echi merasa kesal karena tidurnya yang nyenyak itu terganggu.
"Kita menculik salah satu pelakunya." Reiji menghisap rokok di tangannya dan bersandar di dinding.
"Oh, really? dimana dia saat ini?" Tanya Gin. Tepat saat Gin melontarkan pertanyaan tersebut, Reion dan Sui membawa seseorang dengan kondisi tangan terikat erat dan wajah babak belur mengenaskan.
Reion mendorong seseorang tersebut ke hadapan seluruh anggota keluarga, menendang punggungnya hingga ia terjatuh tersungkur ke tanah.
Gin mendekat ke arah seseorang tersebut, mengusap dagunya. "Wow, jadi inikah salah satu bedebah yang berani mengganggu keluarga kita?" Gin tertawa kecil.
"Berani mengganggu kami, apa kau sudah bosan hidup?" Sahut Sui.
Reion mendekat ke arah seseorang tersebut, "Siapa yang memberimu keberanian ini, sialan?!" Tanya Reion. Namun yang sedang diberi pertanyaan hanya menutup bibirnya membisu, sedari tadi enggan mengeluarkan sepatah kata pun.
Reion mengepalkan tangannya menahan amarah yang hampir meledak. Reion mencengkram dagu seseorang tersebut dengan geram.
"Sekali lagi kutanya padamu, siapa yang menyuruhmu?" Tanyanya lagi. Reion memukul wajahnya keras.
Sudut bibirnya berdarah, luka lebam sebab pukulan diwajahnya semakin parah.
"Kau tidak berhak tahu apapun, cuih." Ia menjawab dengan meludah ke arah Reion.
"Brengsek!" Umpat Reion, Reion menendang tubuhnya. Reion sudah menahan amarahnya sedari tadi.
Seluruh keluarga yang melihatnya pun terkejut, semua mengeluarkan senjata dari sakunya masing-masing dan menodongkan ke arah seseorang tersebut, entah senjata api ataupun senjata tajam.
Namun tangan Reion bergerak seolah berbicara kepada anggota keluarganya untuk tenang, tangannya mengisyaratkan untuk berhenti menodong.
Reion mendekatinya lagi, "Berani sekali kau, sialan." Reion mencekik lehernya kesal.
Gin memberikan sapu tangan pada Reion, Reion menerima sapu tangan yang diberikan Gin untuk membersihkan ludah di dadanya. Kemudian ia membuang sapu tangan tersebut.
Reion melepaskan tangannya dari leher seseorang dihadapannya itu. Namun tangan Reion beralih menarik rambutnya.
"Dirimu tidak akan bisa kembali dengan keadaan bernyawa jika dirimu tidak mau menjawab pertanyaanku." Reion berdiri, melepaskan tangannya.
Reion menodongkan senjata apinya ke arah seseorang tersebut. "Aku sudah terlalu baik karna tidak membunuhmu sejak pertama aku menemukanmu, siapa yang menyuruhmu? jika kau masih saja tidak mau menjawab pertanyaanku dalam hitungan ketiga, maka peluru ini akan menembus kepalamu."
"Satu."
Terdiam. Ia membeku, tak bergerak dan tak berbicara apapun.
"Dua."
"Kau membunuhku, maka keluargaku tidak akan pernah melepaskanmu."
Reion menembakkan peluru ke samping tubuhnya. "Tidak peduli, bodoh. Kau pikir aku hanya bergurau? Kau dari keluarga mana? Jawab."
"Jawab saja, Jason." Sahut Reiji.
Jason melirik ke arah Reiji yang sedang merokok dan bersandar di dinding. Jason tertawa kecil. "Kalian mengetahui namaku, apakah masih perlu aku menjawab pertanyaanmu?"
Reion tersenyum meremehkan. "Aku hanya ingin pengakuan langsung dari mulut kotormu."
"Sampai aku mati pun aku tidak akan mengkhianati keluargaku." Ujarnya.
Dor!
Mereka semua yang ada di ruang keluarga itu terkejut.
Satu peluru menembus kepala Jason, kini Jason sudah tidak bernyawa. Namun, peluru itu tak berasal dari pistol Reion. Melainkan dari pistol Echi.
Echi meniup ujung pistolnya, lalu menyimpan pistol kecilnya kedalam saku. "Maaf, lagipula dia terlalu berisik. Aku tidak tahan lagi."
"Urus mayatnya, cari tau keberadaan keluarganya, kirim mayatnya ke mereka. Dan suruh mereka menghampiriku di suatu tempat." Titah Reion. Reion memijat pelipisnya perlahan. Kepalanya terasa berat memikirkan semua yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAUNTED [REVISI]
Romans"Run.. If you can." Bisiknya lembut dengan seringai tipis yang muncul diwajahnya. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Bagaimana jika kamu ada dalam sebuah posisi dimana kamu sedang dijodohkan dengan seorang lelaki yang tidak kamu kenali sebelumnya karena...
![HAUNTED [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/327805322-64-k204505.jpg)