Setelah sholat Isya dan muroja'ah hafalannya, Syifa mengambil sisir yang telah dipakai oleh Gus Faqih, ia tersenyum saat melihat ada rambut suaminya yang tersisa disana. "Alhamdulillah, minjem rambutnya ya Gus, Syifa cuma mau mastiin aja Hamzah itu benar anak Gus atau bukan," monolognya. Syifa memasukkan 3 helai rambut itu kedalam sebuah plastik kecil.
Ia melihat ke arah Hamzah yang sedang bermain bola kecil bayi itu tertawa gemas sambil melempari bola-bola kecil itu, Hamzah merangkak kesana kemari untuk mengambil bola-bolanya.
Syifa duduk di karpet bulu tempat baby Hamzah bermain, lalu ia mencium kedua pipi gembul Hamzah ia merasa sangat gemas dengan anak sahabatnya itu.
"Dede emesh sebenernya ayah kamu itu siapa sih?" ucap Syifa.
"Babba baba," jawab bayi gemas itu tangan mungilnya sambil menepuk-nepuk paha Syifa.
Jelas saja baby Hamzah akan menjawab Baba Faqih sebagai ayahnya karena Faqih lah yang ia lihat setiap hari dan laki-laki itu yang selalu menenangkannya saat menangis, jadi wajar Hamzah mengakuinya sebagai ayah.
"Pipi kamu makin hari makin gembul, lucu deh kayak bakpao," ucap Syifa sambil mengunyel-unyul pipi gemoy Hamzah.
Gus Faqih masuk kedalam kamar yang ia lihat keadaan kamar saat ini sedikit berantakan oleh mainan Hamzah yang berserakan, seulas senyum terbit dibibirnya ketika melihat tertawa lepas dengan bayi gembul itu.
"Baba baba baba," ucap baby Hamzah.
Syifa langsung menengok ke arah yang dilihat Hamzah, Gus Faqih masih berdiri di dekat pintu yang sudah tertutup. "Eh Gus, kapan masuknya?"
"Baru saja."
Syifa berdiri membenarkan rambutnya yang tadi diacak-acak oleh baby Hamzah lalu mencium punggung tangan suaminya. "Maaf ya Gus kamarnya berantakan, ini baru mau Syifa beresin."
"Iya ga papa wajar kalo punya bayi mah."
Gus Faqih mengambil Hamzah lalu duduk di sofa saat Syifa akan membereskan mainan Hamzah yang berserakan. Syifa langsung mengambil satu persatu mainan itu lalu ia masukan ke dalam kotak tempat menaruh semua mainan Hamzah.
Setelah selesai ia lihat baby Hamzah sudah tertidur di pangkuan Faqih, mungkin bayi itu sudah lelah dan mengantuk karena sejak tadi bermain dengannya. Syifa mengambil alih Hamzah lalu ia menaruhnya di tempat tidur bayi itu.
"Hmm Gus, boleh minjem kunci laci lemari Gusnya ga? aku mau taruh handphone asing ini lagi di sana," ucap Syifa.
Ia akan menaruh handphone yang berisi video terbunuhnya Zahra, ia sudah menyalin video itu dan nomer Azzam ia akan simpan disana agar aman, sebenarnya ada tujuan lain yaitu Syifa akan mencari sesuatu disana apakah disana ada barang yang sama dengan ada di video, yang Hasbi sebutkan ciri-cirinya.
Gus Faqih yang sedang membaca buku itu langsung mengok ke arah Syifa. "Itu kunci lemari yang ngegantung itu juga kunci lacinya," jawab Gus Faqih.
Syifa benar-benar tidak tau jika kunci lemari itu dapat membuka juga kunci laci yang berada di dalam lemarinya, ia kira Gus Faqih sengaja menyembunyikan karena ada suatu hal rahasia didalamnya. Syifa beristighfar di dalam hati karena ia telah Su'udzon pada suaminya.
Ia membuka lemarinya dan benar kunci itu cocok untuk membuka laci, disana berisi buku catatan Gus Faqih, tasbih dan ada satu gelang, Syifa ingat gelang itu sama persis dengan yang di lihatkan oleh Hasbi di dalam video, ia membuka handphonenya untuk membedakannya ternyata itu gelang yang sama.
"Hmm Gus itu gelang siapa?" Syifa mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Faqih.
Gus Faqih menaruh bukunya lalu bangkit dari duduknya melangkah ke arah Syifa melihat gelang yang dipegang oleh Syifa. "Itu gelang Tiara," ucapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GUS DUDA IS MY HUSBAND (END)
Spiritual- Zona teka-teki 1 - Kalian baca cerita ini siap-siap jadi detektif (Sedang Pre Order di Teori Kata Publishing dengan judul "Teka Teki Syifa) "Menikahlah dengan suamiku dan jaga baby Hamzah." Syifa Adzkia Husna, si gadis super aktif itu harus rela...
