{13}

137K 11K 404
                                        

Sejak tadi Syifa mencoba untuk memejamkan matanya agar tertidur tapi sia-sia saja, ia tidak terlelap juga, dirinya masih memikirkan hal tadi yang membuatnya semakin penasaran, pasti suaminya itu punya rahasia yang semua orang tidak tahu.

Semenjak menikah ia harus memeluk suaminya itu baru ia akan bisa tertidur dengan nyenyak, sudah jam 10 Gus Faqih belum masuk ke Kamar sepertinya keasikan ngobrol dengan sahabat lama jadi lupa kalau sudah punya istri.

"Ihh Gus Faqih kemana sih? Syifa kan jadi ga bisa tidur," ucapnya kesal.

Baru saja Syifa mengatakan hal itu, Gus Faqih masuk ke dalam kamar, Syifa langsung memejamkan matanya kembali pura-pura tertidur, Faqih mengganti pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi.

Syifa membuka kembali matanya saat Faqih masuk kedalam kamar mandi. "Nah balik juga ke kamar, asik banget tuh ngobrol sama sahabat sampe lupa sama istri," gerutu Syifa.

Suara kenop pintu terdengar menandakan Gus Faqih akan keluar, Syifa buru-buru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring miring ke arah kanan lalu memejamkan mata.

Syifa merasakan suaminya itu membuka selimut yang menutupi tubuhnya sampai kepala, ia tetap memejamkan matanya, Gus Faqih merapikan rambut Syifa yang menutupi wajah lalu ia mengecup pipi istrinya hingga membuat tanpa sadar Syifa tersenyum tipis namun tetap terlihat oleh Gus Faqih.

"Kenapa belum tidur? ucap Gus Faqih.

Syifa menggerutu dalam hati kenapa tadi dirinya tersenyum, Gus Faqih kan jadi tau kalau dia belum tidur, Syifa membalikkan tubuhnya menghadap pada Gus Faqih, bibirnya mengerucut kesal. "Gimana mau tidur, Gusnya kan diluar Syifa jadi ga bisa tidur kalo ga meluk Gusnya," ucap Syifa.

Mendengar keluhan dari istrinya Gus Faqih langsung membawa tubuh mungil Syifa ke dalam dekapannya, Syifa merasa heran dengan perilaku Gus Faqih saat ini, biasanya Faqih tidak mau jika dipeluk pasti harus dipaksa, sekarang malah suaminya ini yang langsung membawanya ke dalam pelukan.

"Boleh ngobrol sebentar?" ucap Gus Faqih.

"Boleh."

"Tadi guru pesantren saya bilang dan nasehatin saya, jangan panggil istri dengan namanya, saya harus panggil kamu apa?" ucap Gus Faqih.

Disiang hari saat acara memperingati hari Santri tadi guru-guru Pesantren Gus Faqih hadir, mungkin mereka mendengar Gus Faqih memanggil istrinya itu dengan nama, maka tadi ia di nasehati oleh salah satu grurunya.

"Hmm panggil senyaman Gusnya aja mau panggil aku apa," ujar Syifa.

"Saya juga bingung harus panggil apa?"

"Hmm panggil 'dek aja Gus," ucap Syifa.

"Emang kamu adek saya."

"Yaudah hunny aja," ucap Syifa lagi.

"Jangan pake bahasa Inggris Inggris."

"Yaudah sayang."

"Ga mau."

"Ah seterah Gusnya deh," Syifa sudah kesal dengan suaminya itu minta saran tapi ini ga mau itu ga mau bikin badmood saja.

"Saya juga bingung Syifa."

"Syifa juga bingung maunya Gus itu apa! mending tidur aja pusing mikirin nama panggilan doang."

"Yaudah saya panggil kamu Fayang aja."

Syifa mendongak melihat wajah suaminya yang sedang menatapnya juga. "Apaan Fayang?" tanyanya.

"Syifa sayang," ucap Gus Faqih tanpa ekspresi apapun hanya datar, Gus Faqih tidak tahu saja perkataannya itu membuat Syifa ingin melayang, karena Syifa ini wanita baperan jadi diberi gombalan sedikit langsung meleyot.

GUS DUDA IS MY HUSBAND (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang