new year

29 2 2
                                        

Tinggal hitungan jam saja, anggota keluarga kecil Seo belum lengkap. Johnny dan ketiga anaknya sudah membujuk Taeil agar tidak pergi karena seminggu sebelum tahun berganti dia mendapat cuti. Tapi tidak disangka, pagi tadi Taeil mendapat panggilan untuk menyelamatkan sepasang induk sapi serta anaknya yang terpeleset masuk sumur disebuah desa. Dengan berat hati Johnny membiarkan suami mungilnya pergi.

Inisiatif sendiri, Johnny menunggu kepulangan Taeil disebuah taman dekat dengan markas pemadam kebakaran. Johnny membiarkan ketiga anaknya bermain sesuka hati asal mereka tidak rewel, pasalnya Johnny tidak tahu jam berapa suami mungilnya kembali.

"Do you guys thirsty?" Johnny sedikit berteriak karena ketiga anaknya sedang saling kejar.

"Yes, We do, Daddy!"

Johnny membawa Yangyang ke dalam gendongannya lalu menyuruh Mark saling menautkan jari dengan Haechan. Kemudian mereka menyebrang jalan tempat dimana minimarket berada.

Tak butuh waktu lama, Johnny dan ketiga anaknya kembali ke taman tadi masih menunggu  kedatangan Taeil. Mark sedari tadi tenang menikmati minuman dan pemandangan didepannya, sementara kedua adiknya akan mulai bertengkar.

Haechan sebenarnya menikmati minumannya seperti Johnny dan Mark, namun tiba-tiba Yangyang menekan kotak minum Haechan sehingga air masuk ke hidungnya dan membasahi bajunya.

Haechan merebut paksa kotak minuman Yangyang lalu membuangnya ke tempat sampah. 

"Haechan babo! Minumanku!!" Yangyang mengejar Haechan seraya membawa batu.

Johnny memijat pangkal hidungnya. Semakin hari kedua anaknya itu semakin sering bertengkar. Tak perlu bertanya siapa pelaku dibalik pertengkaran diantara mereka, tentu saja jawaban nya Yangyang. Dia yang paling kecil, dia yang paling jahil.

Mark ikut berdiri dibelakang Johnny ingin membantu memisahkan kedua adiknya. Johnny menangkap Yangyang sedangkan Mark menangkap Haechan.

"Kali ini apa yang kau lakukan, Yangyang? Dan mengapa kau memanggil Haechan tanpa Hyung dan babo?"  Johnny mendudukkan Yangyang dikursi taman bersebelahan dengan Haechan.

"Dia memang babo, Dad! Dia membuang minumanku padahal belum habis,"

"Eoh? Kau duluan yang memulai. Dia menekan kotak minumanku hingga airnya masuk ke hidungku dan baju ku basah," jawab Haechan berapi-api.

"Aku ingin minta minumnya sedikit tapi dia tidak memberikannya," bantah Yangyang.

"Kenapa tidak ambil dua kotak tadi? Daddy tak akan marah. Sekarang Yangyang minta maaf ke Haechan hyung ya? Setelah ini kita beli minuman lagi,"

Yangyang bersedekap dada dan membuang muka. "Tidak mau!"

"Ya sudah, biar aku yang minta maaf. Tapi belikan aku mainan baru ya, Daddy? Daddy kan pernah bilang kalau anak yang mau minta maaf pertama dibelikan mainan baru." Haechan mendekat dan mengulurkan tangan.

"Yangie juga mau mainan baru!" teriak Yangyang. "I'm sorry, Haechan hyung." Yangyang memeluk erat Haechan dan mencium pipi nya.

Setelah menunggu sekitar satu jam lebih, akhirnya Taeil menampakkan batang hidung. Dia berjalan kearah keluarga kecilnya yang sedang duduk dibawah pohon dengan senyum merekah sepanjang jalan. Memang Taeil meninggalkan mereka hanya beberapa jam, tapi dia sangat merindukan ketiga putranya, terutama suaminya.

"Hai!" Taeil berdiri dibelakang Johnny. Dia merentangkan tangan ingin dipeluk ketiga putranya.

"Papa!" Ketiga anak itu menubrukkan tubuhnya. Setelah itu Johnny pun ikut memeluk keluarga kecilnya.

"Hyung mau makan diluar saja?"

"Makan diluar tidak sehat. Biar aku memasak. Oh iya.. dinding halaman belakang kalau tidak salah warnanya sudah pudar. Bagaimana jika kita mengecatnya bersama?"

bearfam Where stories live. Discover now