Sunday

186 23 4
                                        

Happy reading

Maaf kalau ada typo, tandai ya guys:)

Enjoy ya

Oiya, btw ini masih cerita tentang keseharian si putra sematawayang dan ayahnya, si duda kaya nan tampan.
Terimakasih:)

🐱🐯




“Aaaaa, ayaaaah. Kok nggak bagunin Rendra sih?! Rendra telat nih!” teriakan pagi yang pemuda itu gemakan hari ini.

Ia kaget saat melihat jam sudah tepat pukul tujuh, dan lima belas menit lagi kegiatan belajar akan dimulai.

Buru-buru ia melangkah kaki ke dalam kamar mandi. Meskipun sudah telat, ia tetap harus mandi, walaupun hanya mandi bebek. Dengan gerutuan yang  tak habisnya mulut itu keluarkan.

“Ayah gimana sih?! Masa Rendra nggak dibangunin, telat kan jadinya,” kesalnya.

Tak butuh waktu lama untuk anak itu berkutat di dalam sana, hanya membasuh muka dan membasahi sedikit rambutnya, kemudian ia bergegas keluar dan memakai seragam putih abu-abunya.

Gerakan sangat buru-buru, hingga sesekali ia salah mengaitkan kancing seragamnya. “Apa sih?! Gila ya ini tangan?” herannya pada diri sendiri.

Setelah selesai berkutat dengan seragam, serta merapikan sedikit surai tebalnya, bergegas ia memasukkan buku-buku pelajaran yang akan ia bawa.

“Fisika, bahasa Inggris, matematika, seni budaya,” gumamnya mengabsen isi tasnya.

“Kok banyak banget sih?!”

Setelah memastikan tidak ada satupun yang tertinggal, Rendra bergegas keluar dari kamarnya, menuruni anak-anak tangga dengan tergesa.

“Sarapan dulu, Rendra,” ujar lelaki dewasa di sana. Pria itu, menatap ke arah putra sematawayangnya yang tampak sangat terburu-buru.

Rendra menoleh, menggerakkan kakinya seakan jalan di tempat dan berkata, “Nggak sempat, Yah. Rendra udah telat!”

Sang Ayah, Tiger tampak mengeluarkan tatapan intimidasinya. Ia paling tidak suka jika perintahnya dibantah, terlebih lagi ia juga tidak suka sang anak meninggalkan waktu makan.

Rendra memang tidak bisa jika ayahnya itu tidak mengeluarkan jurus sakti mata tajam. Sulit diatur.

“Makan, Ren!”

Renda mendengus kesal, kemudian menghampiri sang ayah yang hampir menyuapkan roti panggangnya. Renda mendudukkan diri tepat di depan Tiger, melihat lelaki itu yang sangat telaten mengoleskan roti dengan selai strawberry kesukaannya.

Tiger tersenyum, melihat wajah polos sang anak yang tampak khawatir akan terlambat masuk sekolah. “Makan dan habiskan,” ujarnya seraya meletakkan roti yang sudah ia olesi dengan selai tadi di piring kosong sang anak.

“Ayah, Rendra udah telat lho ini, kok ayah suruh Rendra sarapan, sih?” gerutu anak itu.

Tiger tak menjawab, ia hanya menatap pergerakan sang anak yang makan begitu tenang. Yah, begitulah Rendra. Meski telat sekalipun ia tidak diperkenankan untuk makan terburu-buru, itu dapat menganggu pencernaannya.

“Ayah,” panggilnya.

Sang ayah berdehem. “Ada apa?”

“Ayah, nggak berangkat kerja?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Libur.”

“Kok bisa? Tumben banget Ayah libur,” ujar Rendra heran.

Don't Hurt MeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang