Penuturan Mbah Wengi terekam pada memori Tania. Ia mengangguk paham dan mengepalkan jemari kuat-kuat. Berjanji pada diri sendiri untuk benar-benar melakoni pantangan itu sepenuh hati.
Berlian merah itu kemudian tertanam secara ghaib. Ada sedikit bekas luka yang tertoreh di bagian tubuh Tania. Ya, dirinya memilih memasangnya di pahanya.
"Sudah selesai, kau harus selalu berhati-hati."
"Baik, Mbah. Kalau begitu kami mohon pamit," tutup Kimi.
Setelah memberikan sejumlah mahar untuk Mbah Wengi, mereka berdua beranjak dari altar dan berjalan keluar dari gubuk itu. Mbah Wengi turut mengekori mereka berdua.
"Tunggu, Nak. Ada satu hal. Mungkin saja hari-harimu tak lagi secerah kemarin. Setelah memakai susuk itu, siapkan batinmu untuk menerima hal-hal ghaib yang akan terjadi padamu. Itu memang lumrah. Pesanku, kau fokus saja pada pencapaianmu. Jangan mudah tergoda."
Tania dan Kimi mendengarkan seksama hingga saling berpandangan. Ketakutan mulai menyergap mereka berdua.
Bersamaan dengan itu suasana hutan mulai diselimuti kegelapan. Langit kelabu mulai dipenuhi awan hitam. Terdengar petir menggelegar di atas sana, pertanda tak lama lagi hujan akan mengguyur deras.
Hendak akan berbalik badan untuk berpamitan, Mbah Wengi yang sebelumnya berada di depan pintu, mendadak telah lenyap. Tak ada tanda-tanda ia telah memasuki gubuk.
Tak ingin berlama-lama, Tania dan Kimi langsung menaiki sedan, kemudian tancap gas kembali ke kota.
~~~
Dalam perjalanan, Tania masih bermain-main dengan bayangan semu. Pikirannya bergerilya. Di suatu sisi, ia merasakan takut yang teramat sangat atas apa yang dihadapinya mendatang.
Baru saja dibayangkan. Hantu Kadarsih tiba-tiba muncul. Jubah putih lusuh yang membungkus makhluk itu berkibar-kibar mengiringi jalannya sedan tua Tania.
Wajah tengkorak Kadarsih tampak di spion mobil. Tania terbelalak. Kepanikan melandanya, sebisa mungkin ia menstabilkan kemudi agar tak oleng. Melihat di kanan kiri jalan tersebut adalah jurang yang menganga lebar.
Makhluk itu memekik, Tania dapat mendengarnya dari dalam. Entah mengapa tubuhnya dengan cepat merespon kehadiran Kadarsih.
Jantungnya yang berdegup kencang, menjadi normal kembali. Dingin tubuhnya berangsur hangat. Ketakutan Tania seolah lenyap begitu saja.
Kimi tertidur di bangku belakang. Menyisakan tempat kosong di sebelah Tania. Sekonyong-konyong, Kadarsih menembus kaca dan duduk di samping Tania.
"Apa maumu? Kau Kadarsih, 'kan?"
Dengan tenang, Tania mencoba berkomunikasi dengan makhluk astral untuk pertama kali dalam hidupnya. Hantu Kadarsih masih terdiam dengan kepala tegak lurus ke depan.
Kadarsih masih dalam bentuk seramnya. Tengkorak transparan, diselimuti kulit wajah yang rusak dan berdarah di mana-mana. Aura di sekitarnya sangat gelap dan dingin.
"Manusia angkuh dan serakah!" geram Kadarsih. Lehernya menoleh ke arah Tania.

KAMU SEDANG MEMBACA
Teror Susuk Kadarsih
Misteri / ThrillerTania terpaksa memasang susuk, untuk menyambung hidupnya. Tapi, di suatu sisi hantu Kadarsih terus saja menerornya. Entah mau apa makhluk tersebut. Apakah susuk yang dipakainya berhubungan dengan Kadarsih? Lalu, akankah Tania bertahan dengan susuk y...