Pertemuan, perpisahan jatuh cinta, dan patah hati adalah sebuah siklus yang semesta ridak bisa ikut campur terlalu dalam.
Bagi Brian patah hati adalah sebuah siklus yang dia tidak pernah persiapkan, apalagi perempuan itu adalah orang yang menjadi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Terminal Seoul, Seoul Station memang tidak pernah sepi meskipun di malam hari. Hingar bingar ibu kota memang tak pernah sepi. Lalu lalang orang yang memadati stasiun sejak pagi mulai terurai sejak beberapa jam menjelang malam. Orang orang tampak sibuk. Ada yang berlalu lalang keluar atau akan bepergian ke suatu tempat. Begitu pun dengan Brian.
Di sini lah dia sekarang,di stasiun. Bergabung dengan orang orang lainnya yang sama sama sibuk sekedar menjemput atau akan pergi. Dia duduk di bangku tidak jauh dengan rokok yang masih ia hisap dan Coca-Cola dingin di tangan yang sisa setengah.
Uap dingin yang membasahi gelas kertas membuat cairan itu sedikit merembes ke sela tangan. Ia meletakkannya sebentar di sampingnya.
Hari ini pakaiannya sederhana cuma mengenakan pakaian santai,jaket bomber warna army,celana jeans navvy di padukan sepatu convers putih yang melekat di kaki Simple,gak mau repot buat sekedar mau pakai baju apa,tapi beberapa yang liat style dia juga bakal kepikiran buat tebar pesona sama cowok itu.
Dia rogoh sakunya,buat ambil ponsel. Ngecek apakah bunda bales pesan dia tadi.
Me; Bunda,Brian udah stand bye. Bilangin Brian pake jaket Boomber,duduk di dekat pilar,suruh samper. Brian ga mau nyari nyari orang,repot.
Tak lama balasan ia dapat dari bunda.
Bunda: Iya,Ꮚ˘ ꈊ ˘ Ꮚ
Jawaban dari bunda buat dia mengernyit heran Merasa aneh dengan emoticon yang di kirimkan. Tak mau ambil pusing, dia membuka laman media sosialnya, menghabiskan waktu beberapa menit daripada harus mati bosan.
Sampai ketika dia sibuk menunduk menatap ponsel, sepasang sepatu biru laut berhenti tepat di depannya. Sebuah suara terdengar menyusul setelahnya.
"Kak.. Brian?
Dari suaranya yang tak yakin membuat Brian otomatis mendongak. Mendapati gadis remaja dengan wajah bulat dan mata berbinar menatapnya ragu. Ada koper hijau tua bersamanya dia geret di tangan kanan beserta satu tas ransel hitam yang tersampir.
Gadis dengan jaket biru sederhana itu menatapnya menunggu jawaban. Tapi Brian justru terfokus pada wajah si gadis.
Bukan karna terpesona melainkan dia tenggelam pada keterkejutan.
Apa dia melewatkan sesuatu?
Apa dia lupa bertanya pada bunda siapa yang akan menumpang tinggal di rumahnya?