"Kebiasaan baru memang terasa aneh, aku tidak terbiasa, tapi karna kamu orangnya aku jadi merasa bahwa hal baru bukan hal sulit untuk membuatku terbiasa"
.
.
.
Winnie sudah mulai sekolah,kemarin Brian yang katanya ga mau repot itu bantuin dia ngurus administrasi masuk ke sekolah.
Hari ini juga dia diantar sama mobil punya Brian
Katanya searah sama tempat kerjanya.
"Kunci rumah awas hilang,nanti bisa balik sendiri kan?"
Ini pertanyaan yang artinya
Pulang sendiri,ga mau njemput.
"Bisa kok kak makasih ya"
Remaja cantik dengan gigi kelinci serta lesung pipi itu sudah siap dari pagi. Sudah sarapan juga meskipun menunya tetap sama, mie instan.
Ingat, Brian belum belanja sama sekali.
"Winnie berangkat ya kak , terima kasih atas tumpangannya kak" setelah berpamitan Winnie berlalu pergi, remaja itu membaur dengan teman yang lain, beriringan masuk ke gedung sekolah.
Brian tidak langsung pergi, dia menatap kepergian Winnie sampai gadis itu hilang dari pandangan barulah ia kembali melajukan mobil
"Berasa jadi bapak "
.
.
.
.
.
Satu hari yang sibuk akhirnya selesai dengan jam pulang kantor.
Jalanan mulai kembali padat di Jam pulang membuat dia hampir terlambat pulang di jam makan malam.
Brian masuk rumah dan taruh sepatunya rapi di rak,beberapa hari ini akhirnya dia secara sadar meletakkan sepatu dengan rapih karna merasa tidak enak pada winnie yang selalu menata rapi rak sepatu.
Dan seperti kemarin, kebiasaan kecil yang akan menjadi rutinitas baru.
Gadis itu akan duduk tunggu dia di meja makan dengan mi instan yang masih hangat.
Brian sih senang senang saja karna dia tidak perlu repot sendiri membuat mi ketika lapar,biasanya dia justru tidak makan karna malas. Padahal alasan dia selalu stock makanan cepat saji semacam mie ya karna malas masak,pikirnya biar tinggal seduh.
Tapi ternyata masih tidak termakan karna males juga.
Biasanya dia akan langsung mandi dan tidur,atau kalau laper sekali dia akan food order.
"Udah dapet temen?"
Pertanyaan di sela memakan mie instan yang hangat.
Mendengar pertanyaan itu membuat gadis SMA itu menatap pada yang lebih tua setelah menelan kunyahan mie di mulutnya.
Jika di ingat lagi, ini adalah pertanyaan pertama dengan interaksi yang santai.
Karna sejak dari pertama datang kemari dia pikir pria yang menjadi anak gurunya ini adalah pria dingin kaku yang tidak seru.
"Sudah kak, namanya Dian "
Brian mengangguk kecil, menyuap satu sendok kuah mie yang enak.
"Tadi bunda nelfon kamu ya?"
Winnie akhirnya meletakkan garpu mie yang dia pegang dan memfokuskan atensi pada kak Brian.
"Iya, tadi Bu prim, telfon win bareng nenek,kirim foto juga"
Winnie tersenyum kecil ketika membicarakan itu.
Ada perasaan senang menyelip begitu saja.
Sejauh ini Brian lihat, win ini anaknya sopan
"Lihat deh kak"
Gadis itu memperlihatkan foto nenek bersama bunda yang ada di ponselnya, tapi ketimbang fokus ke foto, Brian malah salah fokus sama ponsel winnie yang udah ketinggalan jaman.
.
.
.
.
.
Suasana kontrakan Brian menjadi hening, lampu depan ruang makan, dapur dan ruang tamu sudah di padamkan lampunya sejak beberapa jam lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Detak Kita [SUDAH TERBIT]
FanfictionPertemuan, perpisahan jatuh cinta, dan patah hati adalah sebuah siklus yang semesta ridak bisa ikut campur terlalu dalam. Bagi Brian patah hati adalah sebuah siklus yang dia tidak pernah persiapkan, apalagi perempuan itu adalah orang yang menjadi...
![Detak Kita [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/337377067-64-k410403.jpg)