13.Maaf.

215 39 2
                                        

Langit Seoul sedang dingin. Gelap, mendung menggantung tapi sejak tadi hujan tak juga turun. Orang-orang punya payung di tangan masing masing, masih terlipat hanya berjaga jika hujan datang meskipun gerimis saja datang tanpa kepastian.

Udara menjadi dingin, mereka yang masih di luar merapatkan jaket yang di kenakan, atau menikmati secangkir americano oneshot yang tetap jadi minuman andalan meskipun siang telah datang dan hampir sore di susul senja yang bersembunyi di balik mendung.

Rumah kontrakan Brian di Minggu sore itu hanya hening, menjelang makan malam tidak ada yang berniat memasak kecuali Brian yang membuat tteokpokkie instan di temani segelas minuman hangat yang di sandingkan di dekat piring.

Pria tampan itu menikmati makanan seorang diri di dapur kecilnya. Sebuah gitar tergeletak di dekat sofa televisi setelah di mainkan Sebentar dan kini pemiliknya sedang di Landa bosan setelah makan dan perut yang telah kenyang.

Manik kelamnya sempat melirik ke arah lorong dekat kamar tak jauh dari sana setelah telinganya mendengar suara pintu yang di buka dan di tutup setelahnya.
Langkah kaki terdengar akibat sandal rumah dan lantai, menampilkan Winnie dengan rambut diikat dan tubuhnya tenggelam dalam Hoodie hitam.

Berjalan penuh canggung ke arahnya.
Mendudukkan diri di dekat Brian jemarinya saling bertaut gugup. Manik kelamnya menatap gelisah.

"Kak Brian maaf"

Kalimat itu terlontar dengan suara kecil, membuat Brian menaikkan Alisnya menatap Winnie yang kini menunduk. Mengakui jika perlakuannya kemarin adalah salah dan makin bersalah sebab baru mengakui kesalahannya hari ini.

"Kak maaf ya, maaf kalo aku kurang ajar sama Kakak kemarin kemarin"

Suara pelan barusan membuat  Brian memberi atensi, singkirkan  tempat bekas tteokpokki sudah kosong ke samping dia.

"Gamau"

Jawaban singkat Brian membuat Winnie makin gelisah dalam duduknya. Kak Brian semarah itu ? Suaranya juga dingin.

Ini juga salahnya sendiri karna sudah satu bulan sejak percakapan di ruang Tv. Dan sejak itu interaksi keduanya merenggang.
Semua makin terasa tidak nyaman ketika keduanya baru saja terlibat perdebatan singkat namun tetap menjalankan aktivitas seperti biasa termasuk mengantar dan menjemputnya berangkat dan pulang sekolah.

Dia juga masih membersihkan rumah dan tetap memasak dan menunggu Brian di rumah ketika pulang kerja.
Hanya saja, sayang sekali tidak ada interaksi berlebih atau sekedar bicara. Keheningan itu tercipta tanpa jeda.

Win terlalu takut untuk membuka percakapan dan minta maaf,sedangkan Brian masih berusaha memberikan waktu tanpa berniat membuka percakapan lebih dulu. Masing masing saling mencari waktu.

"Maaf ya kak"

Brian cuma diam mendengarkan dengan penuh apa yang akan gadis itu katakan.

"Sebenernya aku sempat ragu mau ambil universitas itu karna ga mau ninggal kak Brian,maaf..."

Alis Brian terangkat sebentar. Dia tatap gadis itu yang masih menunduk sambil coba menjelaskan sesuatu padanya.

"Aku udah betah disini, rasanya seperti punya kakak sendiri...tapi aku bimbang,...antara pergi atau tidak"

Karna dia sudah mulai betah di sini tapi ingin juga pergi.

"...tapi ternyata kak Brian tau"

"Win juga minta maaf karna minum"

Akhirnya gadis  itu diam.
Brian menghela nafas lelah, lebih tepatnya tidak habis pikir.

"Jadi sekarang bagaimana? Kakak senang kalau kamu bisa masuk universitas itu. lagipula kakak bisa berkunjung nanti, kamu juga bisa kesini lalu menginap jika liburan semester"

Detak Kita [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang