(On Going)
Tya Laura Kiehl, putri seorang pengusaha ternama, tak pernah menyangka keputusan orang tuanya akan mengguncang hidupnya. Ia diharuskan menetap di Los Angeles selama tiga tahun, jauh dari tanah kelahirannya, hanya ditemani seorang tante ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Jakarta, Indonesia.
Kriiiiiiing! 05.40
Seorang gadis yang masih tertidur pulas di ranjangnya itu pun terusik dengan suara bising dari alarmnya.
Ctak!
Gadis itu mematikan suara alarmnya.
Begitu terbangun dan terduduk di kasurnya, ia tak mampu menahan diri untuk menguap lebar.
"Masih gelap..." gumamnya saat melihat samar-samar ke arah tirai jendela.
"Eh! Tapi!" ucapnya tergesa, seolah baru saja teringat sesuatu yang penting.
Bruk.
Langkah gadis itu tertahan ketika kakinya tersangkut selimut. Seketika tubuhnya terjerembap ke lantai.
Sambil berdecak kesal, ia bangkit, menyingkirkan selimut, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Usai mengenakan seragam, ia menuruni tangga dengan tergesa, berniat sarapan secepatnya sebelum mengambil kendaraannya.
"Em, not bad," ucapnya pelan, mulutnya masih sibuk mengunyah sandwich buatannya sendiri.
Tiba-tiba ia menepuk dahinya. "Oh iya! Kunci motor di mana, ya?" gumamnya, nada cemas terselip di suaranya.
"Ini, Non," sebuah suara dalam menyahut dari arah pintu belakang.
Seorang pria paruh baya muncul dengan langkah tenang, tangannya menggenggam kunci motor. Ia mengulurkannya dengan hormat pada anak majikannya itu.
Gadis itu segera menyambut kunci itu, matanya berbinar lega. "Makasih, Pak. Tapi... Pak Soman, sepagi ini sudah bangun?"
Soman tersenyum tipis, garis wajahnya yang letih terlihat jelas diterpa cahaya pagi. "Iya, Non. Seperti biasa, saya baru saja selesai memotong rumput. Mau sekalian ambil sapu lidi dan selang air. Eh... tadi saya sempat dengar suara Non Tya dari dapur."
Gadis itu tersenyum canggung.
"Nyonya dan Tuan belum bangun, Non?" suara Soman memecah keheningan.
Tya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang masih remang. "Belum, sepertinya, Pak."
Belum sempat ia menoleh lagi, langkahnya terhenti. Dari arah tangga, terdengar derap pelan. Seorang wanita paruh baya muncul dengan wajah teduh, namun garis letih tak bisa menyembunyikan usianya.
"Itu... Bunda!" ucapnya dengan nada antusias yang pecah di keheningan pagi.
Karina menuruni tangga perlahan, setiap langkahnya seakan membawa hawa hangat seperti sinar matahari pagi. Ia tersenyum tipis, lalu menyapa lembut, "Nak, kamu mau berangkat sekolah?"