(On Going)
Tya Laura Kiehl, putri seorang pengusaha ternama, tak pernah menyangka keputusan orang tuanya akan mengguncang hidupnya. Ia diharuskan menetap di Los Angeles selama tiga tahun, jauh dari tanah kelahirannya, hanya ditemani seorang tante ya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
Masa Orientasi Sekolah (MOS) berlangsung lancar selama empat hari. Kini tiba saatnya para siswa baru mengetahui pembagian kelas masing-masing.
Ruang kelas X IPA 2.
Tya melangkah masuk ke ruangan itu. Ia meletakkan tas ranselnya di salah satu kursi kosong. Namun, di sebelah kursinya sudah ada sebuah tas ransel hitam lain.
Tidak tahu milik siapa.
Tak lama kemudian, Gracia datang dan langsung menaruh tasnya di kursi pilihan.
"Tya, ikut, yuk. Temenin gue sarapan di kantin," ujarnya santai.
Tya segera bergegas menyusul.
Saat ketiga gadis itu keluar dari kelas, tiga pemuda memasuki ruangan tersebut. Namun, salah satu dari mereka tidak membawa ransel.
Sesampainya di sebuah meja di dalam kelas.
"Lo sebangku sama siapa?" tanya salah satu pemuda berambut cokelat.
Ia memilih duduk di barisan paling depan bersama temannya yang sedari tadi asyik mengunyah permen karet.
Pemuda yang ditanya itu tidak menjawab. Ia hanya mengedikkan bahu, seolah tidak peduli.
Tak lupa, ia melirik sekilas di kursi sebelahnya, tas ransel berwarna cream dengan bag charm berbentuk bunga tulip.
Temannya langsung menatap tas itu dengan sorot mata selidik. "Menurut gue, itu punya cewek."
"Apa peduli gue?" sahut pemuda itu acuh tak acuh.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku komik dari dalam tasnya dan mulai membacanya, seakan dunia di sekitarnya tidak penting.
"Aih, kebiasaan nih bocah," gerutu pemuda berambut cokelat itu.
Ia lalu berbalik dan mulai mengobrol santai dengan teman di sampingnya.
---------
"Gimana, sudah?" ucap Shafira.
"Sudah. Ayo ke kelas," ujar Gracia dirinya pun segera bangkit dengan riang karena sudah kenyang.
Gracia melirik gadis yang berjalan di sebelah kirinya, lalu mulai beraksi dengan menjentikkan jari tepat di hadapan gadis itu. "Tya! Jangan melamun, masih pagi juga."
Gadis itu pun akhirnya tersadar dari lamunannya. "Eh, iya, Cia."
Shafira ikut menatapnya. "Are you okay?"
Tya mengangguk pelan, lalu kembali terdiam dalam langkah-langkah kecilnya.