notes: pokoknya chapter ini tuh... Jeng! Jeng! Jeng! Jeng! banget lah... dahlah baca aja, tapi jangan lupa vote sama kasih cyntah yang banyak buat akuu.
23.
"Ternyata kamu lagi berduaan sama sahabat kamu."
Java terdiam sejenak karena nada bicara Litya begitu sengit, "Odi baru dateng juga. Kok ga ngabarin mau kesini?"
"Aku ngabarin tapi ga tau deh HP kamu dimana." ujarnya makin dingin.
Audi tau ini bukan saatnya ia ikut campur, jadi ia merapihkan laptopnya, "Gue... balik dulu deh, ntar gue tutup ya pagernya." ujarnya pamitan.
Java hanya mengangguk sebelum ikut menutup catatan penelitiannya soal Cheong fen.
"HP aku dicharge tuh disitu." ia menunjuk pojokan dapur lalu ia diam ga berkata apa-apa lagi, membiarkan Litya kalau memang ia mau marah.
"Sampe kapan yah aku harus ngerasa gini?" tanya Litya.
"Ngerasa gimana?"
"Ngerasa jadi nomor dua dibelakang Audi."
Java menghela nafas, datang juga hari ini, pikirnya, "nomor dua itu bagus dong, kan nomor satu Bunda, Li..." ujar Java.
"Ga usah pura-pura ga ngerti maksud aku deh! kamu tuh selalu Audi dulu baru aku."
Java bersandar di island tengah dapur rumahnya, ia pernah mengobrol dengan Zoya beberapa waktu lalu, bicara soal Zoya yang galau karena Dipta yang ia curigai sedang selingkuh, Zoya juga mengungkapkan kalau ia ga bisa kehilangan Dipta, dia bisa mati gara-gara patah hati, gitu katanya.
Java pernah merenungi perasaannya, sedih ga kalau ia harus kehilangan Litya? Jawabannya iya. Bagaimanapun Litya sudah jadi pacarnya sekian tahun, dan menurut Java Litya cukup pengertian. Soal perasaannya pada Audi, entahlah, semua orang seperti menjodohkan mereka, tapi apa Java mau mengorbankan semuanya untuk perasaan yang mungkin hanya miliknya?
Java menghela nafas, "Aku liburan tahun baru sama kamu, bukan sama Odi, bahkan bukan bunda juga." ujar Java pelan, "aku pergi nemuin kamu duluan tiap landing Jakarta, bukan nemuin Odi." tambahnya, "minggu lalu aku bahkan lupa janjian ke bank sama Odi karena nemenin kamu layat. Dan itu bukan pertama kalinya, Li, terus berkali-kali aku lewatin ulang tahun Odi, tapi selama kita pacaran aku ga pernah lupa ulang tahun kamu."
Litya tertegun, ia terlalu dibutakan oleh cemburu yang berasal dari otaknya sendiri hingga menutupi usaha yang Java lakukan untuk tetap sama dia.
"Kalau aku emang sebegitunya ga peduli sama kamu, kenapa aku mesti macarin kamu selama ini? Kenapa ga aku putusin aja kamu waktu denger Odi putus sama Himas?" tanya Java, "pernah mikir sampe situ ga?"
Litya menelan ludah, matanya sudah basah, sudah hampir menangis.
"Li, aku pernah bilang ke Odi hal yang bikin aku nyaman sama kamu adalah karena kamu ga mempermasalahkan kedekatan aku sama dia." Java berhenti sejenak, "dan emang bener, dulu kamu begitu..."
"Ga cuma itu Jav, aku tuh kaya ngerasa ada diluar circle tau ga? Sedangkan Audi ada didalam circle, circle keluarga kamu, bunda kamu lebih deket sama Audi, dan kamu kan dengerin bunda kamu banget, aku cuma takut kalo bunda kamu tiba-tiba nyuruh kamu pacaran aja sama Audi dan mutusin aku!"
"Oh... itu udah sering." jawab Java santai, "dari awal aku mulai temenan deket Odi, mungkin sekitar 6 tahun lalu ya, waktu itu ga cuma bunda, tapi seluruh keluarga aku dan keluarga dia nyuruh kita pacaran aja... tapi lihat kenyataannya aja, Odi bolak balik pacaran sama orang lain, aku juga... terus apa keluarga kita sinis sama pacar-pacar aku atau Odi? Engga kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
LAGUNA (bluesy)
FanfictionPersahabatan sepuluh tahun yang bikin frustasi! Tentang dua orang yang tak pernah membahas rasa, meski ada. Achievements 2023 #1 ncthaechan (maret) #3 jenokarina (maret) #4 friendstolover (april) ____ Disclaimer!! Cerita ini murni imajinasi penuli...
