Bonchap 2: Lahiran

1.8K 224 37
                                        




notes: karena ada ciwi-ciwi yang minta bonchap javodi, sekalian aja gue bikin ini soalnya emang udah kepikiran si odi hamilnya udah lama, mungkin ini saatnya java jadi bapak... jadi mari kita datang ke persalinan seorang Audini Karina Muria, istri bapak Segara Java.








Java masih ingat pagi hari di bulan kedelapan pernikahannya dengan Audi, saat itu perempuan yang cukup mandiri itu tiba-tiba berubah manja, awalnya Java pikir Audi sakit, tapi saat ia raba dahinya, Audi tidak demam. Setelah itu hari itu pun Audi terus-terusan clingy, Java sih seneng-seneng aja di clingy-in Audi yang memang lebih gengsi soal skinship, tapi ada yang aneh... meski clingy, tiap Java meminta lebih dari sekedar cuddle, Audi langsung menolak.

"Capek."

"Males."

"Sakit perut."

"Males harus mandi."

"Pusing ah."

Begitu kira-kira alasan-alasan Audi.

"Aku mau ke Surabaya secepatnya, mau visit site." ujar Java kala itu, "kamu di rumah sendiri gapapa?" ga biasanya juga Java menanyakan ini, karena Audi cukup mandiri.

Dan ga biasanya juga Audi menjawab, "ga mau, ga boleh, kamu visitnya kapan-kapan aja. Atau aku ikut!"

Java terdiam lama sebelum akhirnya ia berkata, "aku ga selingkuh."

"Idih?" Audi berjengit, "siapa juga yang bilang lo selingkuh??"

"Ya abis kamu aneh, kamu tuh nempel mulu tapi kalo aku mau gituan kamu nolak." ujar Java.

"Nempel kan ga harus sampe gitu-gituan, apaan sih lo, kaya ga capek aja."

"Heh, ga boleh nolak suami, durhaka!"

Audi hanya memutar bola mata.

"Kamu kenapa sih, sayaaang..." Java mendekat dan menangkup pipi Audi.

"Ga tauu..." jawab Audi dengan bibir yang monyong karena pipinya dihimpit kedua telapak tangan Java. "pengen liat ada kamu doang, tapi males kalo kamu ngeduselnya udah pake napsu."

Mau tak mau Java tertawa, "PMS kali kamu, eh tapi kalo PMS tuh kamu biasanya galak sama napsuan..." Java tertawa sambil menunjuk Audi, "ya kaaan..."

Satu bantal kursi terbang dan mendarat diwajah tampan Java, "najis!"

"Udah telat buat najis-najisin gue, udah jadi punya gue lo, Od, ga bakal gue retur!" ujar Java, "kalo ga PMS... jangan-jangan kamu hamil ya, sayang?"

Audi terdiam, mengingat-ingat tanggal datang bulannya, "apa jangan-jangan iya ya, Jav?"





Paginya bisa ditebak keduanya heboh karena dua garis terlihat begitu nyata di testpack yang Java order via apotek online semalam. Lebih heboh lagi saat Bunda, Mama, Papa dan Sean tau. Dan lebih heboh lagi saat sahabat-sahabat mereka juga tau. Intinya semua orang heboh.





Lalu hari-hari berikutnya berisi drama dimulai, drama mual, drama ngidam, drama Audi nangis karena bajunya mulai ga muat, drama Audi tiap hari merasa ga disayang sama Java.





Sampai di trimester kedua, dimana drama-drama diatas telah surut digantikan Audi yang enggan berdekatan dengan Java, Java disuruh dinas mulu, visit outlet di Surabaya lah, disuruh sering-sering ke studio buat take konten lah, sampai Audi pernah sengaja mengunci pintu biar ga tidur sekasur dengan suaminya.





Cobaan Java tak berhenti sampai disitu. Di trimester akhir dimana Audi mulai 'normal', mulai ga sering tiba-tiba nangis hanya karena Java lewat tanpa menyapa "hai, sayangku.". Audi juga mulai normal karena mulai memperbolehkan Java tidur lagi di kamar mereka. Dokter juga mulai mengijinkan Java dan Audi untuk bermesraan. Tapi justru Outlet 'Laguna, taste of Melayu' sedang berada di deadline pembukaan cabang jawa timur, yaitu di Surabaya dan Malang, hingga Java harus sering bolak-balik ke kota itu.

LAGUNA (bluesy)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang