Bab 3 (Kucing Buta)

23 0 0
                                    

Malam pukul 08.38

Di jalanan yang sepi, Fatimah dan suaminya, berangkat untuk pulang menjenguk ibu mertuanya, juga keponakan lainnya. Sudah lama tidak pergi kesana, begitulah batinnya.

Ketika melintasi jalan lurus yang melewati tumbuhan pohon karet dan sawah, hanya ditemani suara motor dan cahaya kendaraan. Ia pun memeluk erat suaminya untuk menepis dinginnya udara.

Namun tiba-tiba ....

"NGEOONG!!"

Suara seekor kucing yang berteriak melengking sangat keras. Tak jauh dari beberapa meter, motor yang dinaiki suami Fatimah pun, berhenti. Ia menengok kebelakang untuk memastikan.

"Apa kita menabrak kucing Bang?" tanya Fatimah.

Ia pun terkejut dan merinding di kegelapan atas apa yang dia lihat. Kucing yang tak jauh dari berhentinya kendaraan. Tengah berdiri di jalanan itu tanpa kepala.
Kucing itu pun berjalan mendekat perlahan mendatangi Fatimah.

"Ini tak seperti yang aku pikirkan, aku benar-benar takut," ucap Fatimah sembari memeluk erat suaminya.

"Sudahlah, ini bukan salahmu, kita juga tidak sengaja menabraknya," ucap suami Fatimah yang sering dia panggil juga Bang Daus.

Fatimah menatap kucing berwarna hitam kecoklatan itu dengan raut wajah sedih dan bersalah. Darah dan bulunya benar-benar menyatu pada kegelapan jalanan. Beberapa kali Fatimah berusaha menahan rasa takut dan ngeri yang merasuk di dalam benaknya. "Itu tadi pasti halusinasi ku saja," batinnya.

"Kita pinggirkan saja di tepi jalan, di hutan yang sepi seperti ini harusnya tidak ada kucing."

"Iya, tapi kok aneh ya Bang?" Fatimah sedikit ngeri membayangkan segala sesuatu di luar pikirannya.

"Mungkin cuma kebetulan aja ...." ucapnya sembari menghela napas. Ia mencoba untuk tetap berpikir positif.

Bang Daus pun mengecup dahi Fatimah dengan penuh kasih sayang. Fatimah pun akhirnya sedikit lega. Ia mulai melanjutkan perjalanan bersama suaminya dengan mengendarai sepeda motor.

Motor yang dinaikinya merupakan hasil kerja keras suaminya. Meski baru lunas kredit mereka mencoba membangun keluarga yang baik.  Motor berwarna kuning itu pun kembali melesat, menerangi jalan-jalan yang gelap.

Di kiri-kanan semua dipenuhi dengan pepohonan karet dan sawah. Perkampungan itu masih terlihat jauh, terkadang hawa dingin begitu menusuk tubuh Fatimah yang sudah dari awal diselimuti jaket tebal.
Sayangnya, hawa dingin masih kalah kuat.

Tak jauh dari mereka melintas, ada sebuah jembatan yang harus dilewati. Bang Daus pun perlahan-lahan menjalankan sepeda motornya, Fatimah yang menahan rasa takut mencoba memeluk erat.

"Jangan khawatir bentar lagi sampai," ucap Bang Daus sembari fokus melewati jembatan.

"Gimana aku gak takut Bang, kalau jalan pintasnya serem kayak gini!" batin Fatimah.

Jembatan itupun bergoyang ke kanan dan ke kiri. Seakan angin meniup mereka di malam itu, tepat di bawah jembatan terdapat sungai yang mengalir deras, tak tahu apa batu-batu di bawah sana adalah kumpulan batu, atau justru lebih menyerupai mayat-mayat manusia yang bergelimpangan. Sekilas terlihat bayangan hitam bergerak tak jauh dari sana, apakah itu tupai? Bukan....

Warna air yang menghitam tak tampak di malam hari. Kejernihan air pun rasanya tak di dapatkan, keindahan kampung halaman hilang dalam satu momen itu.
Fatimah menjerit kecil, membuat Daus berkali-kali mencoba tenang. Jujur ini juga merupakan pertama kali ia melewati jalan pintas ini.

Daus ingat bahwa teman kampungnya pernah bilang, "Jalan pintas di kampung sebelah lebih baik jangan dilewati malam hari."

"Loh emangnya kenapa? Bukannya bagus kalau ada jalan pintas?"

Retakan di Jalur Undangan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang