3 - One Solution

7.6K 858 34
                                        

Motor Dirga berhenti di halaman rumahnya selepas meninggalkan area apartemen Agatha pukul 08

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Motor Dirga berhenti di halaman rumahnya selepas meninggalkan area apartemen Agatha pukul 08.00 WIB. Belum menginjakkan kaki di rumahnya sendiri sedari kemarin, lumayan membuat nyalinya menciut ketika beradu pandang dengan wanita paruh baya yang baru saja keluar dari rumah tersebut sembari membawa segelas teh hangat untuk dinikmati di teras rumah.

Dirga tersenyum getir, membalas tatapan wanita itu, lalu kembali menunduk.

"Tadi Zony kesini, cari kamu. Dia bilang mau ambil memori card di kamera yang kamu bawa, katanya kamu nggak bisa dihubungi dari semalam," kata sang mama.

Sedari kemarin selepas jam kerja usai, ponsel Dirga lowbat, ia belum sempat mengisi daya kembali sekalipun tiba di apartemen Agatha. Ia bahkan sama sekali tidak kepikiran bagaimana nasib benda pipih tersebut. karena

"Oh.. i-iya Ma, nanti biar aku kasih ke Zony langsung waktu di kampus."

Enggan untuk membalas tatapan sang mama, masih terbata dengan pandangan menunduk, Dirga merasa bersalah dengan apa yang ia perbuat hari ini, atau mungkin hari-hari sebelumnya. Di satu sisi, ia tak ingin membuat keluarganya khawatir, namun di sisi lain keadaan Agatha membuatnya cukup prihatin walau berakhir menetap di apartemen gadis itu selama satu malam.

"Jangan dibiasakan pulang pagi, kalau kerjaan sudah selesai, langsung pulang ke rumah. Jangan melipir dulu dengan alasan mau antar makan, atau cek kondisi pacar kamu, imbasnya kamu yang males buat pulang ke rumah," tutur wanita itu, dengan niat memberikan pemahaman bagi sang putra untuk tidak terus menerus berada di area orang lain, apalagi belum sah menjadi hak milik seutuhnya.

"Untung Papa kamu lagi di luar kota, coba kalau beliau ada disini, mungkin kamu udah diusir dari rumah." Gerutu yang masih bisa Dirga dengar ketika ia masuk ke dalam rumahnya. Berjalan lunglai ke arah kamar, berbaring di ranjang sembari menatap langit-langit plafonnya, sambil memikirkan hal lain yang mungkin akan mengganggu pikirannya hingga esok.

Perihal Agatha dan juga kesehatan mental gadis itu yang semakin memburuk. Memiliki kehendak untuk menyakiti diri sendiri dan juga orang lain, sangat disayangkan jika kesembuhan mental gadis itu terhambat karena ada satu dan lain hal yang mungkin akan men-distract aktivitas Agatha selanjutnya.

Hari ini, pukul 10.00 WIB, Agatha harus bertandang ke Dokter Ella, sebelum perkuliahan mulai di siang hari. Kebetulan hari ini Dirga hanya ada satu matkul, sementara Agatha dua matkul di pagi dan siang hari meski jam pertama Agatha memilih untuk bolos tanpa titip absen ke teman satu kelasnya.

Semakin lama, Dirga semakin khawatir melihat kondisi Agatha. Terkesan belum sepenuhnya pulih selepas Dokter Ella menyatakan jika kesehatan mental gadis itu terganggu semenjak sang papa meninggalkan Indonesia untuk menjalani pengobatan serta terapi ke Singapura.

Gadis itu merasa kesepian, menyendiri, hingga terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu Agatha pikirkan karena itu semua akan menjadi beban. Minimnya teman cerita pun juga berpengaruh dengan kondisi Agatha saat ini. Meski Dirga sering mengatakan akan berada di sebelah gadis itu bahkan siap untuk mendengarkan segala keluhannya, namun Agatha merasa tidak sepantasnya ia mengeluh kepada seseorang yang sudah lelah dihantam oleh bangku perkuliahan serta pekerjaan.

Dan sekarang, ketika keduanya telah tiba di rumah sakit, bertemu dengan Dokter Ella, beliau juga mengatakan hal yang sama. Wanita itu bahkan sangat menyayangkan kondisi Agatha yang semakin hari memburuk dan mulai berambisi untuk melukai diri sendiri dan juga orang lain.

"Self-harm bisa saja muncul karena trauma, masalah pribadi, masalah publik yang berkaitan dengan orang banyak, bahkan bisa dibilang ini sudah masuk gangguan mental," tutur Dokter Ella, memberikan pengarahan kepada Dirga, sementara Agatha masih berbaring di ranjang pasien, untuk beristirahat.

"Dan yang paling bikin saya kaget, dia berani mengancam melukai orang lain. Itu sudah termasuk bahaya, Dirga. Padahal saya sempat merasa lega karena Intermittent Explosive Disorder yang dialami Agatha mulai mereda. Kemarahan Agatha yang sering kali meledak-ledak berangsur membaik karena berkat pendampingan dari kamu juga. Tapi sekarang, dia justru memiliki agresi untuk menyakiti orang lain."

"Saya bahkan baru tahu kemarin Dok, ketika saya melihat ada luka seperti cakaran di area tangan sebelah kanan Agatha dan juga lehernya. Saya awalnya berpikir itu luka cakaran akibat dia bertengkar dengan orang lain, tapi setelah saya amati itu bukanlah luka dari kuku-kuku seseorang, melainkan gesekan benda tajam yang sepertinya sengaja Agatha gunakan untuk menciptakan bekas itu."

Awalnya Dirga tak merasa aneh dengan bekas luka yang berada di bagian tubuh Agatha. Akan tetapi, semakin diperhatikan, bekas itu seolah nyata. Guratan yang semula Dirga pikir sebagai bekas kuku seseorang justru dibantah oleh keberadaan pisau di atas nakas. Dan dari situlah, asumsi-asumsi liar Dirga muncul, apalagi ketika cowok itu menyadari perubahan ekspresi serta mood Agatha seolah beralih begitu cepat.

Yang semula nampak horor dengan kalimat-kalimat intimidasi, perlahan kembali clingy setelah tak sadarkan diri selama beberapa menit.

"Yang dibutuhkan Agatha saat ini hanyalah teman. Sosok yang bisa menjadi teman cerita, teman belajar, teman bermain, atau mungkin orang yang seharusnya selalu stay dengan dia setiap hari."

"Saya bisa lakukan itu semua, Dokter Ella," ucap Dirga, yakin.

Dokter Ella, menggeleng pelan. "Tidak bisa, Dirga. Posisi kamu disini hanya sebagai kekasih Agatha, tidak lebih dari itu. Kamu bisa menjadi teman cerita, teman belajar, hingga teman bermain Agatha, namun kamu tidak bisa stay dengan dia setiap hari, tanpa jeda.." wanita itu menggantungkan ucapannya, sejenak melihat ke arah ranjang pasien kala meyadari adanya pergerakan dari Agatha lantaran baru saja meminum obat penenang yang memiliki efek kantuk berat.

"Agatha butuh teman untuk membantu dia pulih secara perlahan. Selama ini kamu memang merasa ada bersama dia, tapi apa kamu bisa seterusnya stay dengan Agatha tanpa jeda? Contoh singkatnya ketika kamu pulang ke rumah, Agatha lagi-lagi sendirian di apartemennya. Dia kembali kesepian, dan seharusnya hal itu tidak boleh terjadi," lanjut Dokter Ella, sebelum mendongak kala Agatha berjalan ke mejanya.

Wanita itu tersenyum, mempersilakan gadis itu untuk duduk, di sebelah Dirga, yang notabene langsung berhadapan dengannya.

"Agatha, kamu perlu istirahat yang cukup, bawa pikiran kamu enjoy tanpa memikirkan berbagai hal yang mungkin akan bikin kamu merasa terbebani. Ingat, Dirga akan selalu ada di samping kamu untuk mendengarkan semua keluhan kamu. Mulai sekarang, kamu harus terbuka dengan Dirga, jangan ragu untuk cerita banyak hal ke dia."



***

Lama banget, yawww? Sowryyyy☺️

Come on, Ga!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang