1 - Dark

10.3K 974 63
                                        

Seperti seorang tahanan terisolasi di ruangan tertutup, dengan kedua tangan terangkat tinggi sambil diborgol, pemuda dengan tatapan memohon sambil menelan ludah berulang kali tersebut sempat menggeleng kuat kala gadis di depannya menyuruh kedua ta...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seperti seorang tahanan terisolasi di ruangan tertutup, dengan kedua tangan terangkat tinggi sambil diborgol, pemuda dengan tatapan memohon sambil menelan ludah berulang kali tersebut sempat menggeleng kuat kala gadis di depannya menyuruh kedua tangannya untuk terangkat ke atas, lalu menguncinya dalam borgol yang entah sejak kapan menggantung di tali yang terselip di lampu kamar.

Suara derap langkah dari heels yang mulai menjauh darinya, seolah membuat perasaan lega, namun tidak sepenuhnya karena langkah yang perlahan menjauh tersebut memiliki maksud lain untuk mengambil satu benda yang memiliki fungsi begitu tajam, bahkan bukan atas nakas tempatnya.

Cowok itu terengah-engah, bak dikejar seekor harimau di tengah hutan. Telapak tangan yang mulai muncul keringat dingin, di bagian pelipis pun juga sama. Rasa takut, namun harus tetap tenang meski sebilah pisau berukuran sedang berada di tangan gadis di depannya, sembari seolah-olah tengah memainkannya dengan cara memutar-mutar dengan jemarinya.

"Baby, aku udah bilang kalau kamu harus jaga jarak lima meter dari cewek-cewek genit yang mau godain kamu," ujar gadis dengan surau terurai, mengenakan dress merah tanpa lengan di atas lutut, terlihat cantik dengan balutan make up bold, apalagi bentuk tubuh yang bisa dibilang sangat sempurna.

Sangat cantik, namun mematikan.

"Tapi, malam ini, kenapa kesannya kaya kamu yang menyerahkan diri, hmm?"

Mendekat, berbisik pelan sambil melepas satu per sayu kancing kemeja pemuda di depannya. Dirgantara—sang kekasih, yang kerap disapa Dirga tersebut, mencoba untuk membuang pandang ke arah lain, berusaha menyembunyikan raut gugupnya agar Agatha, tak menanyakan perihal peluh yang juga memenuhi area dadanya.

"Bukannya selama ini, aku udah ngasih semuanya ke kamu? Bahkan kamu juga pernah bilang kalau aku top tier cewek paling hot di kampus."

"Enggak, enggak, aku cuma bantu orang, sayang. Nggak ada maksud lain apalagi—"

"Sttt.. kata-kata kamu beberapa waktu lalu terkesan hanya ilusi yang aku ciptakan sendiri. So, baby boy, untuk mempersingkat waktu saja, bagian mana yang perlu aku lukai terlebih dahulu?"

Dirga mencoba untuk tetap tenang meski jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat dengan peluh yang menetes di pelipisnya. Pisau kecil yang berada di atas nakas nampaknya telah siap bertegur sapa dengan kulit lehernya, mengingat seseorang yang saat ini tengah memegang benda tajam tersebut, masih mengarahkan ke area leher, hingga turun ke dada.

"Agatha, tenang, kamu lihat aku, sekarang," gumam Dirga, kontan membuat Agatha mendongak, memperhatikan cowok itu dari jarak yang cukup dekat, sembari masih memainkan pisau tersebut.

"Apa yang bakal kamu lakukan dengan pisau itu? Melukai aku? Di bagian mana? Bagian mana yang pengin kamu lukai? Aku sama sekali nggak keberatan jika kamu benar-benar ingin melakukan itu, tapi dengan garis besar jika aku terbukti bersalah."

Agatha tersenyum miring, terkesan horor, bahkan Dirga seolah yakin jika di depannya bukanlah, Agatha. Gadis yang ia temui setiap hari, melempar senyum lepas, bukan senyum mematikan seperti yang saat ini Dirga lihat. Tidak. Dirga sama sekali tidak ingin melihat senyum gadis itu malam ini.

"Kamu hari ini melakukan kesalahan, baby. Nggak ada satu perempuan manapun yang boleh duduk di boncengan kamu, bukankah, kita sudah membicarakan ini sedari lama? Apa kamu lupa atau sengaja mencuri-curi kesempatan di saat aku nggak ada di samping kamu?"

Lidah Dirga seolah kelu ketika benda tajam tersebut mulai menari-nari di tubuhnya, bahkan jika memang hari ini adalah hari terakhirnya berada di dunia, ia tidak keberatan jika sang pelaku adalah kekasihnya sendiri, Agatha.

"Jangan berusaha menghindar dari tatapan aku, Dirga! Kamu harus tanggung jawab atas kesalahan kamu hari ini!"

Teriakan Agatha seolah berdampak besar pada gerak refleks Dirga yang langsung menutup kedua matanya, tak peduli dengan apa yang akan gadis itu perbuat, sama sekali tidak melakukan pembelaan ataupun berusaha menghindar sembari mendorong Agatha dengan kedua kakinya. Dirga sama sekali tidak berdaya di depan gadis itu, ia bahkan hanya menutup matanya, hingga teriakan itu berhenti ketika suara benda terjatuh dari tangan Agatha.

Bruk!

Agatha ambruk, pingsan.

***

Kejadian sebelumnya..

"DIRGAAA!!"

Teriakan nyaring dari seorang gadis yang baru saja turun dari mobil tersebut kontan membuat Dirga segera melepas helm, serta turun dari motor, berlari mendekat ke arah sang kekasih.

"Tha, ini udah tengah malam, ke-kenapa kamu masih ada di sini? Dan kamu habis darimana, Tha?"

"Siapa dia? Kenapa dia bisa sama kamu? Selingkuhan kamu, hah?!" tuduh Agatha, sangat menggebu, seakan tak memberi ruang pada Dirga untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin akan membuat suasana tak sepanas malam ini.

"Tha, jangan berasumsi sendiri, dia partner kerja aku. Kamu jangan negatif thinking, aku yang minta anterin dia pulang karena ini udah tengah malam."

"AAAAA!! Siapapun ceweknya, apapun alasannya, aku nggak mau ada cewek lain yang bikin kamu jadi iba sekaligus berempati! Enggak! Nggak akan, ya, Dirga, aku bener-bener marah sama kamu!"

Situasi yang terlalu panas nampaknya menyusahkan Dirga untuk menenangkan keduanya secara bersamaan. Masih mencoba untuk menahan pergerakan Agatha agar tidak panik secara berlebihan, sesekali menoleh ke arah belakang, memastikan gadis tadi masih berada di sana, dengan raut takut sambil mundur secara perlahan.

"Ma-maaf Kak, a-aku nggak ada maksud apa-apa, aku bisa minta tolong teman aku buat jemput," ujar gadis itu, dengan suara terbata-bata, takut, sekaligus ingin menghindar dengan berlari kecil. Berniat menjauh dari sana, namun sorot dari mobil lain refleks membuat gadis itu berteriak, tak ada waktu untuk beralih ke pinggir jalan.

"Yasmine!"

Dirga ikut berteriak, bersamaan dengan laju mobil tersebut yang berhenti secara mendadak.

"Loh, ini ada apa? Yasmine, Dirga, ka-kalian—"

"Antar Yasmine pulang, Zon!" teriak Dirga setelahnya, memotong ucapan Zony—partner kerjanya di studio foto sekaligus berstatus sebagai kakak tingkatnya di kampus.

Mengerti maksud Dirga, Zony segera mengajak Yasmine untuk masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Dirga yang mencoba untuk menenangkan Agatha, sembari sesekali memberikan pelukan kepada gadis itu meski pada akhirnya ditolak secara mentah-mentah.

"Kamu, Dirga, ikut aku sekarang!"



***

Maaf yaww, lama upload eh tbtb ganti alur, mweheheh

Come on, Ga!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang