".. Jika aku berbalik marah bahkan main fisik ke kamu, kita berdua akan selesai, Tha, kita mati malam ini."
Jalan hidup Agatha semakin kompleks setelah sang papa menjalani pengobatan serta terapi di Singapura. Presentasenya sangat kecil beliau akan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Guratan senyum tipis mengakhiri pertemuan keduanya dengan Dokter Ella siang ini. Berjalan bersisihan ke arah mobil Agatha yang terparkir di halaman rumah sakit, sebelum melenggang masuk selepas membukakan pintu terlebih dahulu untuk Agatha.
"Masih pusing?" tanya Dirga, membuka topik obrolan ketika mobil perlahan melaju ke jalanan.
Agatha menggeleng sembari menyandarkan punggungnya di sandarkan kursi. Terdiam dalam lamunan yang panjang ketika kedua bola matanya tertuju ke arah jalanan lenggang. Tatapannya terkesan kosong dengan hembusan napas berat yang menarik perhatian Dirga untuk menoleh.
Alisnya bertaut sempurna sembari memastikan keadaan sang kekasih. Sesekali mengusap pelan puncak kepalanya, memberikan ketenangan sembari menggenggam tangan Agatha, meski gadis itu masih diam tanpa merespon apapun. "Hari ini nggak usah masuk kuliah aja, izin ke dosennya, bilang kalau kamu lagi sakit," kata Dirga, namun mendapat gelengan kepala dari Agatha, pertanda jika saran cowok itu mendapat penolakan.
"Aku nggak apa-apa, nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Dirga menoleh ke arah gadis itu, sejenak memilih untuk melipir ke pinggir jalan, berusaha untuk memastikan kondisi Agatha sembari mengarahkan dagu gadis itu agar tatapan keduanya saling beradu.
"Dokter Ella bilang kalau kamu harus istirahat. Energi kamu udah terkuras habis akibat insiden semalam, dan hari ini kamu masih ngotot buat—"
"Dirga, aku nggak bakal kenapa-kenapa kalaupun hari ini harus masuk di jam mata kuliah terakhir! Aku nggak masalah, aku sehat, kok!" gertak Agatha, memberikan pembelaan sekaligus tak mau dianggap lemah meski kantong matanya sangat terlihat jelas, menandakan bahwa ia susah tidur sedari semalam.
Dirga berdecih, ingin membalas dengan amarah pun nampaknya bukan solusi yang terbaik, ia memilih untuk diam, sesekali menunduk, lalu membuang muka. Dirinya bingung, berbagai cara telah ia lakukan agar Agatha mau mendengarkan nasihatnya untuk setidaknya istirahat total selama satu minggu. Tapi nyatanya, gertakan Dirga seolah tidak ada artinya daripada ego Agatha yang terlalu tinggi.
Hampir sepuluh menit lamanya, mereka terdiam ketika mobil juga telah berhenti di tepi jalan. Baik Dirga maupun Agatha belum mau membuka obrolan terlebih dahulu. Dirga memilih untuk memejamkan matanya, sementara Agatha masih terpaku dengan lamunan yang mengarah pada jendela mobil.
-
-
"Aku mau putus!"
Melirik gadis di sampingnya, Dirga seolah tidak mempedulikan gertakan Agatha yang kali ini terdengar serius ketika gadis itu juga mulai menatapnya.
"Aku serius, aku nggak main-main, Dirga! Aku mau putus!" Kali ini nadanya semakin tinggi, kontan membuat Dirga membenarkan posisi duduknya sebelum membalas tatapan gadis itu sepenuhnya.
"Aku pernah bilang ke kamu buat nggak bahas kalimat itu Agatha, kenapa kamu—"