(Beam POV)
"Wahhh!! Senang sekali berada di sini!" seruku saat aku masuk ke balkon berpintu kaca kamar yang kami sewa. Itu menghadap ke pemandangan gelap dari laut yang luas dan tenang.
Meskipun aku berkata, aku tidak perlu pergi ke suatu tempat yang jauh hanya untuk menjernihkan pikiran ku karena aku sudah punya jawaban, aku tetap menyeret Forth ke pantai terdekat di luar kota menggunakan sepeda motornya. Ini adalah pertama kalinya aku mengendarainya. Aku biasanya tidak mengendarai kendaraan roda dua, tapi apa aku punya pilihan ketika tidak memiliki mobilku sendiri? Jika kami memilih untuk mampir ke apartemenku, itu hanya akan memakan waktu karena kami harus kembali ke kota pagi-pagi sekali untuk kelas besok.
Aku tahu apa yang aku lakukan agak merepotkan bagi kami berdua. Namun, meski hanya untuk semalam, aku ingin tinggal bersamanya. Menjadi satu-satunya dari diantara kita adalah yang penting.
Lagi pula, itu bukan pengalaman buruk, meski aku tidak merayapkan tanganku di sekelilingnya seperti ular pelacur itu. Masih ada sedikit kesopanan yang tersisa pada ku setelah semua yang telah ku lakukan. Aku hanya mencengkeram kemeja sampingnya. Tapi Forth sialan ini tiba-tiba menginjak gas atau menginjak rem, menyebabkan aku mencengkeramnya erat-erat. Aku akan mencubitnya dengan keras setiap kali dia melakukannya sementara dia hanya akan menertawakannya.
Aku bertanya-tanya apa aku meninggalkan memar di pinggangnya karena di situlah aku terus meremasnya. Hehe.
Aku membiarkan angin sepoi-sepoi beraroma asin menyentuh wajah dan tubuhku saat aku memejamkan mata dan perlahan menghirup udaranya yang murni. Jika aku berada di apartemen ku, aku tidak mungkin melakukannya karena lubang hidung ku akan langsung terisi dengan gas yang tercemar daripada yang ku hirup saat ini. Itu salah satu alasan kenapa aku lebih suka bepergian ke pedesaan, terutama yang paling dekat dengan pantai, daripada ke perkotaan. Udara segar, dan kerumunan yang berlama-lama memberi ku perasaan tenang di mana aku bisa menjadi diri ku sendiri dengan sempurna.
Tiba-tiba, dua tangan hangat meluncur dari sisi tubuhku untuk memegang langkan tempat aku bersandar, membuatku menjadi tawanannya. Aku sedikit memiringkan kepalaku ke kiri saat dia meletakkan dagunya di bahu kananku.
"Jadi, Tuan Baramee. Maukah kau menjelaskan diri kau kepada aku?" dia bertanya dengan cara yang membuat semua penyair, balada, dan penulis lirik merasa malu karena nada itu. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah dan menunjukkan wajah pokerku.
"Berhentilah menjadi pria cengeng yang menjengkelkan," kataku sambil mengayun-ayunkan bahu kananku. Kepalanya terpental ke atas dan ke bawah seperti boneka kepala berbandul yang dipajang di beberapa mobil.
Forth hanya tersenyum, lalu mengangkat kepalanya dari bahuku.
"Apa mengajukan pertanyaan dianggap cengeng?" kau berani bertanya?
"Yesss! Apalagi dengan nada seperti itu. Aku hampir mau muntah!"
"Woah! Kita baru saja berciuman dan kau sudah hamil?"
Uhm... Bisakah aku memutar balik waktu dan mengubah apa yang kulakukan karena luapan emosi sebelumnya? Daripada mencium mulut sensual sialan itu, bisakah aku meninju wajahnya yang bodoh itu?
"Hamil, pantatku!" gumamku sambil meringis. "Kenapa? Apa air manimu sudah masuk ke mulutmu?" Tidak heran dia menjadi orang yang bijak.
"Aku tidak tahu. Maukah kau memeriksanya?"
Aku dengan paksa menyenggol perutnya dengan siku ku menyebabkan dia membungkuk ke belakang dan menghancurkan sel penjara pribadinya di sekitarku. Aku menggunakan kesempatan ini untuk berlari kembali ke dalam kamar dan duduk di sisi tempat tidur berukuran besar (aku membiarkan dia memilih kamar -_-").
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] ENGINEERING MOON & THE CRAZY DOCTOR
Romance"Aku jatuh cinta pada seseorang yang memiliki senyum paling bersinar." ~ Forth Ini adalah terjemahan dari fanfiction karya ChervaChenesEklat dengan judul yang sama. Original karakter diambil dari novel berjudul 2 Moons karya Chiffon Cake.
![[END] ENGINEERING MOON & THE CRAZY DOCTOR](https://img.wattpad.com/cover/344324270-64-k895249.jpg)